Saat membicarakan karya Michael Muhammad Knight, kita tidak perlu berepot-repot memisahkan antara biografi dan karyanya. Sebab, membahas karya-karyanya akan juga memperkenalkan kita pada kehidupan Mike. Alasannya adalah sejauh ini, beberapa karya Michael Muhammad Knight adalah memoar. Jadi, nanti, sembari kita membicarakan bagian memoarnya, kita akan mendapat informasi tentang Michael Muhammad Knight sendiri. Semoga berkenan. Maka, selanjutkan kita tampilnya pembahasan karya Michael Muhammad Knight berdasarkan urutan penerbitan saja ya.

The Taqwacores

Novel ini ditulis oleh Michael Muhammad Knight sekitar tahun 2001. Dia memperbanyak novel ini dengan fotokopi dan jilid spiral. Dia membagi-bagikan novelnya ini kepada teman-teman yang kira-kira suka, dan juga menjualnya di acara-acara perkumpulan orang-orang Islam, salah satunya adalah konvensi ISNA (Islamic Society of North America), dengan harga seikhlas pembeli. Bagaimana selanjutnya saya sampai bisa membaca novel ini? Temukan jawabannya di akhir bagian ini. Sementara, kita akan langsung memasuki novel tersebut.

The Taqwacores berkisah tentang sekelompok anak muda yang meninggali sebuah rumah punk. Pada awalnya, rumah punk ini adalah rumah kontrakan biasa dengan penghuni muslim(ah) semua–satu-satunya muslimah tinggal di lantai bawah dan punya pintu keluar sendiri. Namun, pada waktu novel ini dimulai, rumah kontrakan itu sudah menjadi rumah punk dengan sekelompok penghuni muslim unik: seorang mahasiswa fakultas teknik anak imigran Pakistan yang dibesarkan di Amerika bernama Yusef Ali, seorang punker dan skater boy asal Pakistan bernama Jehangir Tabari, seorang skater boy dan peganja dan penggemar alquran asal Indonesia bernama Fasiq Abasi, punker syiah penggemar gulat profesional smack down bernama Amazing Ayyub dengan tato “KARBALA” di dadanya, seorang punker straightedge yang mengaku muslim Sunni dan sok lurus dalam agama tapi punya tato “Muhammad” dan “Allah” serta tulisan “2:219” (yang tentunya mengacu pada “surat Al-Baqarah ayat 219”) di dekat lehernya, dan seorang punker cewek (atau istilahnya “riot grrrrl”) yang menggemari penafsiran Quran secara feminis dan membuat selebaran yang dia sebarkan ke teman-teman serta memakai burqa lengkap.

Novel ini pada bagian awalnya berkisah tentang kehidupan anak-anak muda ini di markas mereka. Deskripsi rumah memberikan kesan rumah yang jorok, karton bungkus pizza berceceran, bekas muntahan di lantai, bau bir semerbak bercampur aroma ganja yang sesekali bercampur guyuran minyak wangi Arab. Dan sebagaimana wajirnya rumah punk, tentulah ada logo anarki di sini. Uniknya, logo anarki itu dicoretkan di sebentang bendera Saudi Arabia, tepat menimpa syadatain yang tertulis di situ. Di ruang tamunya, di sebuah sudut ada sebuah lobang yang dibikin dengan pukulan tongkat baseball. Lobang itulah yang menjadi penunjuk arah kiblat. Kegiatan sehari-hari di rumah ini juga penuh ketidakjelasan, layaknya rumah kontrakan mahasiswa di Malang🙂, atau Yogya🙂, atau Bandung🙂 atau di mana-mana. Hanya seorang saja di antara mereka yang ketahuan jelas kegiatan pastinya, yaitu Yusef Ali yang sekolah teknik itu. Selain itu, orang-orang yang lain seperti hanya keluar masuk rumah, menyedot ganja. Satu hal yang unik dari rumah ini adalah orang-orangnya suka sekali membahas hal-hal yang berkaitan dengan Islam (tapi ya dengan perspektif mereka sendiri-sendiri). Umar si sok alim selalu menekankan antara wajib, sunnah, makruh dll, dan selalu marah-marah kalau ada teman-teman yang mabuk, ngganja, dll. Amazing Ayyub selalu mengait-ngaitkan segala kejadian dengan ahlul-bayt, khususnya keluarga rasulullah, dan terkhusus lagi Ali, dan terlebih khusus lagi Husayn, cucu Rasulullah, sebagai imam syiah—dia menafsirkan lima jari manusia sebagai simbol atas lima anggota keluarga rasulullah “Rasulullah, Ali, Fatimah, Hasan dan Husan”. Fasiq Abasa si pengganja punya kebiasaan nyedot ganja di atap rumah sambil membaca Quran, dan selalu menghubung-hubungkan segala hal dengan sufisme—dia menafsirkan lagu The Stooges “I Wanna Be Your Dog” sebagai simbolisasi cinta sufi kepada Tuhan yang sebegitu dalamnya sampai-sampai mau dijadikan “anjing”nya, dan banyak lainnya. Jehangir selalu mengutarakan mimpi-mimpinya akan Islam yang cocok dengan kehidupan Amerika dan selalu menganggap masa depan Islam ada di Amerika. Dia sangat terbuka dengan berbagai jenis ke-Islam-an, baik itu Islamnya kaum punker, para feminis, kaum homoseksual (yang di novel ini diistilahkan dengan sebutan “liwatiyyun”, kaum nabi Lut :D). Sementara Rabeya si burqa juga menjalani hari-harinya tanpa jelas apa pekerjaan dia sesungguhnya. Yang pasti, dia sering mengajak pulang satu dua teman dan diskusi panas soal Islam dan feminisme. Dua hal yang menonjol dari Rabeya ini adalah, pertama, Qurannya: di mana terdapat beberapa ayat dicoret karena menurutnya—setelah khatam membaca ulasan-ulasan ahli tafsir konservatif sampai tafsir para feminis—tidak sesuai dengan kebutuhan hidup; termasuk di antara ayat-ayat ini adalah ayat yang mengijinkan suami memukul istrinya pada kondisi tertentu. Satu hal lain dari Rabeya adalah bahwasanya dia memakai burqa bukan karena perintah agama, karena tidak ingin menggoda laki-laki, atau alasan-alasan standar lainnya. Hingga akhir novel, Yusef masih bertanya-tanya entah apa maksud Rabeya memakai burqa.

Dua kegiatan rutin di rumah punk ini berfokus pada hari Jumat. Jumat siang, mereka mengadakan sholat Jumat. Peserta sholat Jumat di rumah ini adalah kaum muda muslim di Buffalo yang merasa “tidak nyaman” berkumpul dengan para jamaah sholat di masjid yang dijalankan MSA (Muslim Students Association) kampus. Dengan kata lain, ini merupakan sholat jumatnya muslim non-standar. Nah, kalau anggotanya saja bukan muslim standar, bisa ditebak lah siapa imamnya. Demokratis. Itu mungkin istilahnya. Imamnya bergantian antara para penghuni inti rumah punk (tentu saja, termasuk Rabeya :D—btw, ini sebelum Amina Wadud menjadi khatib dan imam sholat jumah di New York tahun 2005) plus orang-orang yang mau memberikan khutbah. Bisa ditebak, isi khutbah tergantu kecondongan masing-masing imam. Dan ada satu kesempatan di mana sholatnya dilakukan dengan bahasa Inggris (ah, jadi ingat Lawang, Malang :D). Begitulah. Dan Jumat malamnya, jehangir mengundang teman-teman punknya dan berpesta gila-gilaan semalaman di rumah itu. Novel ini sendiri dibuka dengan satu scene subuh-subuh pasca pesta, di mana Yusef Ali melihat seorang remaja punk dengan rambut mohawknya sholat di kegelapan dapur, di atas kardus bungkus pizza.

Cerita mulai semakin jelas ketika Jehangir melontarkan gagasan bikin konser punk Islami. Jehangir menghubungi kawan-kawannya punker muslim di California (dengan gagahnya dia menyebut “Khalifornia”, sebuah kekhalifahan baru). Maka, lembar-lembar selanjutnya diisi dengan kisah datangnya para punker itu, kehidupan mereka di rumah punk itu, pandangan-pandangan mereka, dan berujung dalam sebuah konser punk yang luar biasa. Ganas. Elemen-elemen Islami muncul di sepanjang kisah itu. Dan ujungnya adalah sebuah tawuran dahsyat dan menewaskan Jehangir.

Sekilas rangkum, mungkin novel ini terdengar bombastis dan gagah-gagahan di beberapa bagian. Dan memang waktu dituliskan di tahun 2001 itu, tidak ada yang namanya gerombolan punker Muslim—sepengetahuan Michael Muhammad Knight—di manapun di Amerika, tidak di Buffalo, New York, tidak di Boston, Massachusetts, dan tidak pula di semua sudut “kekhalifahan” Khalifornia. Sikap dan pandangan para tokoh novel ini pasti akan tambah berlebayan di mata kita yang hidup “terlindung” sebagai umat Muslim di nuswantara tercinta ini. Tapi, ada sesuatu yang menagih untuk dibaca lebih lanjut di sana. Sepenerawangan singkat saya sih, ada beberapa hal yang layak diperhatikan, yakni:

Yang pertama adalah penolakan terhadap Islam yang totok sesuai dengan buku fiqh. Kedua, adanya kecenderungan untuk mengajak bertindak kritis dalam beragama (sebagaimana dicontohkan pandangan Jehangir dan Rabeyah). Kegita, adanya upaya penyodoran Islam alternatif melalui gambaran kehidupan di situ.

Tapi, dalam kesempatan ini, saya hanya ingin menunjukkan sahaja seperti apa novel itu, dan pembahasan kritis pada titik ini saya rasa hanya akan mengaburkan gambaran super singkat saya akan novel itu.

Oh ya, seperti saya janjikan di awal: novel yang digandakan secara fotokopian Kinko itu pada akhirnya sampai ke tangan seorang kawan Michael yang tertarik untuk mencetaknya secara serius dengan honorarium buat penulis berupa sejumlah eksemplar gratis yang bisa dia jual. Michael sangat puas sekali waktu cetakan pertama buku itu sampai ke rumahnya. Dan dia mulai meragukan identitas “punk”nya ketika melihat bandrol harga dan bar code di buku yang pada awalnya dia anggap hanya sebagai “muntahan” seorang muslim yang lagi mengalami disorientasi itu. Itulah satu scene yang tampak di buku kedua Michael Muhammad Knight, sebuah memoar yang berjudul “Blue-Eyed Devil”.

Oh ya: tentunya banyak sekali kekurangan dari buku ini (dari sudut pandangan konvensional). Saya sendiri (ehem-ehem, ini bagian sombongnya saya:D) menemukan satu dua ketidaksingkronan deskripsi tokoh dan kekurangrapian cerita dalam buku ini. Fasiq Abasa di awal kisah dikisahkan sebagai orang Indonesia, tapi tiba-tiba di tengah diacu sebagai berasal dari Malaysia. Ada juga terminologi-terminologi islami yang wajirnya diucapkan kaum muslim dari negara tertentu tapi tidak wajar diucapkan muslim dari negara yang lain. Diskusi dengan penulis menyingkap bahwa buku itu memang “muntahan” dan bisa dibilang sangat parah editingnya… dan disertai dengan pernyataan “di situlah punk-nya buku itu”. Sinopsis di sampul belakang juga seperti dibikin orang yang tidak serius membaca buku ini dan lebih tertarik dengan sisi sensasional buku ini.

Well, akhirul posting, berikut ini saya sajikan satu dua penggal terjemahan dari novel tersebut (tentunya diterjemahkan oleh hamba sendiri sang penerjemah jelata ini :D). Semoga menghibur.

Pertama, dari satu bagian di pertengahan cerita:

Kami memilih makan siang agak sore di restoran Yunani di Elmwood Avenue, tempat favorit anak-anak kuliahan karena dekat dengan kampus Buffalo State University dan kita bisa pesan menu sarapan relatif murah siang-malam, jam berapa pun. Hannibal pesan menu “2-2-2” khas mereka: dua telor, dua pancake, dan (sesuai selera) dua lembar babi asap, dua sosis, atau dua daging babi iris tipis. Hannibal tidak mengambil jatah “2” yang terakhir dan hanya memesan telur sama pancake. Jehangir pesan semacam dadar dan aku ambil sandwich keju panggang.

Hannibal itu kafir tapi bapaknya Muslim, dulunya pengikut Nation of Islam dan sebelumnya ikut Black Panther.

“Kata bapakku Farrakhan sekarang sudah jadi Muslim Sunni,” tuturnya, di ujung kalimat itu nadanya jadi kedengaran seperti pertanyaan.

“Aku pernah dengar sih tentang itu,” kata Jehangir. “Dia cuma gejar duitnya negara-negara Arab.”

“Beberapa waktu yang lalu dia bilang dia naik pesawat angkasa dengan Elijah Muhammad dan W.D. Fard.”

“Yang katanya pesawat induk itu?” tanya Jehangir. Hannibal ketawa.

“Aku nggak tahu tentang itu,” jawabnya. “Tapi Farrakhan juga berjasa pada masanya dulu, biar pun sekarang nggak jelas. Dan kabar tentang dia jadi Sunni itu setidaknya membuat pengikutnya tidak lagi sibuk soal setan kulit putih.”

“Tapi tetap saja kalau soal orang-orang Yahudi.”

“Pasti, itu pasti.”

“Kamu pernah dengar soal penjara tua di Carolina itu?” tanya Jehangir.

“Penjara mana?”

“Ada sebuah penjara tua di Carolina yang dulu dipakai buat para budak yang baru turun dari kapal. Aku nggak ingat di North apa South Carolina. Tapi masih ada, sekarang jadi semacam obyek wisata. Entahlah, yang pasti ada ayat-ayat Alquran tertulis di dindingnya, kira-kira dua ratus tahunan umurnya, sampai sekarang masih ada.”

“Sungguh?”

“Yeah, pasti tulisan budak-budak muslim yang dibawa ke sini.”

“Bapakku pasti senang sekali mendengar itu–atau malah dia mungkin sudah tahu.”

Waktu keluar dari tempat parkir, Hannibal mengeluarkan kaset Brand Nubian dari tape dan bertanya, “mau sholat?”

“Sholat?” ulang Jehangir. “Sudah masuk waktunya?”

“Mestinya sudah Asyar.”

“Boleh.”

“Tunggu dulu,” kataku, “Aku pikir kamu kaf–maksudku, aku pikir kamu non-muslim.”

“Memang bukan, tapi aku bisa sholat kok.”

Kami balik ke rumah dan Hannibal lari ke lantai atas untuk wudlu. Waktu nunggu giliranku, aku perhatikan dia, tak habis pikir. Dia bukan muslim, kan? Bapaknya saja yang muslim. Kenapa Hannibal mengambil wudlu?

Kenapa dia sholat dengan kami? Kenapa dia tidak ambil babi asap, sosis, atau babi iris waktu pesan 2-2-2? Kenapa dia, bukan Jehangir atau aku, yang ingat waktu sholat Asyar?”

Jehangir menggelar satu sajadah di depan buat imam, dua lagi di belakangnya.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar!” ucapnya sambil berdiri di salah satu sajadah yang di belakang, agar tidak disuruh menjadi imam. “Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illallah…” Hannibal memberi isyarat agar aku memimpin sholat. Aku menggelengkan kepala dan berdiri di sebelah Jehangir, tidak sadar.

“Allaaaaaaaahu Akbar,” ucap Hannibal sambil menghadap kiblat, dan sholat pun dimulai…

Kedua, dari bagian konser:

Lalu tampillah Bilal”s Boulder. Semua band mendapatkan reaksi yang kira-kira sama waktu mereka pertama kali muncul di panggung, karena anak-anak Buffalo ini tidak bisa membedakan antara band taqwacore satu dengan lainnya. Anak-anak Bilal”s Boulder kelihatan sangar. Jalab dan turban sudah mereka tanggalkan. Kepalanya pelontos-pelontos. Mereka tak berbaju, dengan lengan penuh tato ayat-ayat Alquran. Mereka mengenakan suspender hijau dan spatu tentara. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Di belakang panggung, aku yakin, Jehangir pasti resah.

“Assalaamu alaikum,” ucap vokalisnya. “Kami Bilal”s Boulder, dan alhamdulillah kami senang atas kesempatan datang ke Buffalo ini dan, insya allah subhanahu wa ta”ala, menyebarkan dinul Islam. Sekarang sudah masuk waktu sholat isya”, jadi insya allah kita akan sholat dulu.” Drummer mereka maju ke mike dan melantunkan adzan nyaring melengking. Kemudian mereka melompat turun panggung. Vokalisnya terlihat mereka-reka sesuatu. “Ini arah kiblat yang pas, insya allah,” katanya sambil berjalan ke arah dinding yang jauh. Semua orang berdiri di belakangnya. “Luruskan barisan kalian.” Kurasa dia tidak tahu sebanyak apa orang-orang kafir yang berdiri di belakangnya, tetapi mereka semua bergabung jamaah seolah-olah sudah bertahun-tahun mereka melakukannya. Separuh muslim yang ada di situ mabuk. Tapi ketika dia mengucap takbir semua yang ada di ruangan itu tanpa terkecuali mengangkat tangan mereka ke telinga. Kami tidak menggelar alas. Lantai terasa dingin, ngeres dan becek karena lelehan salju dari kaki-kaki kami. Lampu panggung menyala semua. Merah, biru, kuning, hijau. Ketika kami duduk dari sujud pertama aku lihat Umar ada di beberapa baris di depanku. Aku yakin dia senang sekali anak-anak ini.

Setelah sholat Bilal”s Boulder memainkan satu lagu. Mereka sudah menghabiskan sebagian besar jatah waktu mereka untuk sholat. Lagunya oke. Tapi vokal mereka terlalu keras dan hiper dan tidak ada yang bisa mendengar lirik mereka, jadi para penonton menikmati gemuruh tak jelas itu dan berjoget saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s