‘Ya benar, tulisan ini kira-kira secara tema memang semacam kampanye kebersihan lingkungan. Tapi, karena saya tidak pingin Anda sekalian bosen, saya kasih saja deh cerita seluruhnya.

Seminggu lalu saya akhirnya berkesempatan merasuk ke alam liar Ar-Khansaw, khususnya kawasan hutan Ozark, yang terkenal sebagai salah satu tempat terbagus untuk melihat warna musim gugur. Ah, sepertinya sudah lebih 1000 pasang telinga mendengar saya bilang “Ozark… tempat terbagus untuk melihat warna musim gugur” ini, bahkan sebelum saya benar-benar melihatnya sendiri. Dan sekarang, setelah saya lihat sendiri, kayaknya saya pingin cerita ke 1001 pasang telinga lagi dan menuliskan buat 1002 pasang mata lagi. Warna musim gugur di Ozark memang, well… insya allah paling indah.

Oke, kita lanjutkan, kawasan hutan Ozark yang saya masuki adalah Richland Creek Wilderness Area, sebuah kawasan rimba liar di seputaran Richland Creek, atau saya terjemahkan saja jadi Kali Tanah Kayo. Karena namanya “wilderness”, jadi kawasan ini memang diatur dengan super ketat: gak boleh ada kendaraan bermotor yg masuk (meskipun di sini ada yg namanya ATV, all terrain vehicle yang bisa dibilang bisa menjangkau ke segala sudut bumi yang paling sempit dan prinsip-prinsip Leave No Trace harus ditaati dengan penuh iman. Apa itu Leave No Trace? Temukan jawabannya di kisah yang dimulai pada paragraf di bawah ini.

Kami masuk kawasan Richland Creek Wilderness setelah memarkir truk dan SUV kampus yang kami pinjam di sebelah kawasan pekuburan tua (salah satu nisannya yang paling baru berangka tahun kematin 1943! dan sepertinya kawasan tengah hutan ini dulunya adalah wilayah desa yg ditinggalkan penghuninya). Tidak ada jalan setapak di trail ini. Seluruh tanah tertutup daun-daun kering tanpa diskriminasi. Dan kelihatan sekali sejak awal, kawasan ini benar-benar wild. Sesekali kami ketemu aliran air kecil menyeberang trail. Hujan yang kerap turun beberapa minggu belakangan bikin tanah benar-benar lembab dan saking lembabnya sampai ada kali-kalian kecil. Cookie, salah satu anjing kami (eh, kenapa bawa anjing? nantikan jawabannya) yang jalan di dekat saya sempat “hilang” karena keasyikan bermain di salah satu kali kecil ini sampai-sampai pimpinan pendakian kami, Scott Dirksen, harus balik arah lagi mencari si Cookie. Sementara di depan sana si Buddy, labrador hitam yang sekilas tampak garang tapi sangat pintar, membuka jalur. Itu dia gunanya, kami mengajak anjing ini sebagai “pengaman” dari, atau paling tidak warning mechanisme untuk menghalau, binatang-binatang liar di hutan ini. Arkansas dikenal memiliki populasi beruang hitam yang cukup besar (populasinya yang besar, beruangnya sih ya seperti beruang biasa… BESAR!!!), dan ada juga beberapa jenis ular yang cukup mematikan. Dan guguk semacam Cookie dan Buddy inilah yang akan menyalak kalau ada ular, atau menyalak kalau ada beruang, dan menyalak juga kalau ada rubah, racoon, coyote, dan sejenisnya yang suka ambil makanan. Jadi, paling nggak kita tinggal mempelajari apa arti gonggongan guguk-guguk kami itu.🙂 Nah, di sinilah saya baru sadar makna Leave No Trace itu. Memang sama sekali tidak ada jejak pernah ada orang masuk ke hutan ini, kecuali dua pita hijau muda yang saya temukan waktu kami sudah sekitar 45 menit dan 1 jam pendakian, semacam penunjuk kalau kami tidak tersesat.

Btw, di sepanjang perjalanan ada satu hal yang menonjol: banyak pohon tumbang melintang dan dibiarkan saja, hanya sebagian saja yang benar-benar terlalu mengganggu trail yang digergaji, itu pun sisa potongannya dibiarkan di sebelah trail, dibiarkan membusuk dan melebur kembali bersama alam. Leave No Trace juga Take No-Thing! Belakangan Darrell Shaw, satu lagi pemimpin pendakian kami, mengatakan bahwa Badai Es yang melanda kawasan Ar-Khansaw Barat Laut bulan Februari lalu benar-benar memporak-porandakan kawasan hutan ini. (Maaf saya sela lagi. Apa itu “badai es”? Badai es adalah hujan rintik-rintik biasa selama seharian penuh dalam suhu sekitar 10-20 derajat di bawah nol, sehingga air yang jatuh ke tanah dan ke pohon cepat jadi es, dan karena beban es yang berat itu ranting-ranting jadi patah, pohon-pohon ada yang sampai tumbang dari akarnya, dan di kawasan perkotaan kabel-kabel listrik jadi terpotong tumbangan pohon, dan dingin pun menjadi sempurna sampai ke segala sudut rumah karena listrik dan pemanas mati.) Scott menimpali, “Mungkin inilah cara alam memperbaharui dirinya, dengan menyingkirkan yang lemah”.

Setelah satu jam pendakian kami menemukan kawasan yang dulunya pernah dipakai Darrell dan teman-temannya berkemping. Oh, ternyata yang mereka sebut camping ground itu bukan kawasan yang datar dan bersih dan siap ditancapi pasak tenda, melainkan kawasan yang lumayan datar tapi penuh ranting berselingkrahan, di sana-sini ada tumbangan pohon, dan di salah satu tumpukan batang-batang pohon dan ranting-ranting itu ada bekas api unggun dengan batu-batu yang ditata melingkar. Sebenarnya, prinsip Leave No Trace tidak menganjurkan pembuatan api unggun, dan kalau tidak terpaksa lebih baik dihindari, karena arang itu tidak bisa cepat diurai oleh alam. Tapi, karena dampaknya tidak dianggap seserius pembuangan sampah atau bahan-bahan kimia lain, dan lagi malam itu nantinya suhu akan drop sampai 4 derajat celcius, maka para pimpinan pendakian pun nantinya mengijinkan. Maka, di situlah kami mendirikan tenda-tenda kami, saya kebagian dengan Clint dan Ryan. Clint sudah beberapa waktu “menabung” beli peralatan hiking mulai dari baju, topi, tenda, sleeping bag, sampai GPS genggam untuk pendakian (yang lumayan bisa menunjukkan arah sholat :D). Sementara Ryan adalah seorang Eagle Scout, salah satu pramuka Amerika dengan level tertinggi, yang memiliki sejumlah sertifikasi penyelamatan dan survivor di alam liar. Di situlah kami nanti malam akan tidur, dikelilingi semak dengan semacam biji-biji berduri, serangga unik yang bentuknya persis ranting kecil yang namanya “walking stick“, para calon pencuri makanan yang terus-terusan dihalau oleh Buddy dan Cookie sepanjang malam…

(sementara begitu dulu kisah hiking di kawasan Ozark, nantikanlah bagian selanjutnya yang kira-kira akan dipenuhi cerita tentang air terjun, tanjakan terjal, tebing-tebing, jurang puluhan meter, dan elang botak Amrik… nantikanlah kalau saya agak nganggur lagi, hehehe…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s