Kalau membaca judul “Orang Ungu”, tolong jangan bayangkan orang yang warna kulitnya ungu. Kalau memang ada orang yang seperti itu, entah karena kesalahan genetis terkait pigmen tubuh atau apa, pasti yang melihat akan kaget–semoga tidak sampai ada yang mengalami kelainan gen semacam itu. Yang saya maksud Orang-orang Ungu kali ini lain, mereka adalah orang-orang yang saya temui 2 minggu lalu di Yellville, sebuah Desa di pedalaman Arkansas, dekat kota Harrison. Begini cerita keseluruhannya:

Sejak hari Jumat malam saya bersama Bang Tedy dan Aryo sudah ada di Summit (nah, ini nama satu desa kecil lagi di sebelah Yellville). Kami mengunjungi rumah seorang kawan, pasangan Len dan Upik. Agenda utama kunjungan itu sebenarnya adalah membeli dan nyembelih sapi. Dan, efek sampingnya kami akan lihat Turkey Trot Festival yang diadakan pada hari Sabtunya di Yellville. Singkat kata, Sabtu pagi kami nyembelih sapi, menguliti, dan membuang jeroan sambil memotong2 daging secukupnya agar bisa masuk deep freeze. Semuanya dilakukan di dalam udara yang dingin semriwing. Baru setelah itu kami berangkat ke Yellville melihat Turkey Trot Festival.

Apa Turkey Trot Festival itu?

Festival ini sebenarnya diawali dari upaya pemerintah Arkansas untuk meningkatkan kembali populasi kalkun (inggrisnya Turkey: jadi ketahuan kan kalau festival ini nggak ada hubungannya dengan negara Turkey, hehehe). Pada awalnya dulu pemerintah melepaskan kalkun ke alam bebas agar berkembang biak di hutan sana, seperti awalnya pada jaman dulu ketika para Conquestadores datang ke Dunia Baru yang kelak dinamai Amerika ini. Nah, salah satu bentuk simbolis acara pelepasan kalkun itu adalah melepaskan kalkun di sekitar balai kota untuk dijadikan rebutan warga kota. Dan sekarang yang terjadi adalah ada beberapa acara penting: parade di pagi hari, pelepasan kalkun dari pesawat yang terbang melintas tidak terlalu tinggi untuk dijadikan rebutan orang-orang yang di tanah, panggung dengan musik BLUES BOOOOOO”, dan banyaknya stan-stan dagangan atau pameran atau akrobat. Pendeknya mirip pesta buka giling (atau bahasa sidoarjonya “Nayupan”) di beberapa daerah Jawa Timur yang memiliki pabrik gula itu lah.

Nah, di salah satu stan itulah saya melihat Orang Ungu. Siapa mereka ini? Len Wood, teman yang kami kunjungi rumahnya itu, cerita kalau orang-orang ini tinggal di satu kawasan tertentu tak jauh dari Yellville, segala sandang dan papan mereka berwarna ungu (yang pasti pangannya tidak ungu lho, hehehehe), mereka mempraktikkan sejenis sihir, dan mereka berjualan barang-barang sejenis jimat di stan mereka itu. Ditambah Len lagi, kalau ditanya agama, orang-orang ungu ini akan bilang kalau mereka percaya semua agama plus … CINTA. Karena ada bau-bau agama, salah satu minat penelitian saya akhir-akhir ini (wahahahaha… sok intelektual gitu loch!!!!), saya jadi tergelitik. Waktu mendekati stan mereka, saya pun menyempatkan berhenti barang sejenak. Dari jauh kelihatan seorang perempuan memakai jubah dan kerudung warna ungu. Sekilas mirip seorang perempuan yang memakai jilbab besar. Dari dekat kelihatan ternyata ibu ini seperti berkulit asia selatan atau semacam kulit hitam, rambutnya rasta sampai sekitar pinggang, menyembul dari kerudungnya, dan baunya… oh… wangi mak! Saya lihat di situ dijual semacam aksesoris-aksesoris gaul gitu lah, tapi wangi, dan katanya itu jimat. Banyak orang yang mendekat, melihat-lihat, dan membeli dari si ibu ini. Akhirnya, setelah cukup puas, saya pun lanjut ke bagian-bagian lain festival.

Di bagian-bagian lain saya agak berlama-lama di depan panggung musik blues yang menyanyikan berbagai nomor blues populer dan tentu saja lagu-lagu yang sedikit pun saya tidak kenal. Tapi, yang paling menyenangkan adalah menikmati lagunya Bob Marley “I Shot the Sheriff” yang digarap secara blues sama band itu, nyaris menyerupai aransemennya Lee Ritenour. Bang Tedy beli Funnel Cake, yang belakangan katanya dalah kue wajib di acara-acara festival semacam itu. Sekilas info, namanya Funnel Cake karena bikinnya dengan memasukkan adonan roti ke contong (funnel atawa kerucut) dan memencetkannya sambil muter-muter sampai jadi kayak kue segede piring. Kami juga sempat beli Root Beer rumahan. Ingat sodara-sodara, inilah satu di antara 2 jenis bir yang halal. Satunya lagi yang halal adalah Bir Pletok asli Indonesia itu, hahaha… Kami juga nonton akrobat juggling, pertama kalinya saya nonton live. Sangat asyik dan mendebarkan. Btw, sepanjang pertunjukan saya memberikan standing ovasion kepada penampil. Ya pasti lah, lha wong nontonnya sambil berdiri.😛

Seusai itu, kami pun pulang ke Summit, menyelesaikan pengemasan daging, makan steak, dst, dsb, dll, dllajr. Dan kami pun pulang ke Fayetteville, Ar-Khansa dengan hati riang, seperti habis pulang liburan ke rumah nenek. Hahahaha…

Belakangan saya memperturutkan rasa penasaran saya terkait orang-orang ungu itu. Secara busana mereka menyerupai agama-agama timur. Saya curiga dengan kemungkinan sisa-sisa peradaban Islam Amerika angkatan pertama, yaitu yang datang bersama para budak dari Afrika (yang sepertiganya diperkirakan muslim itu) seperti Bilali Muhammad yang meninggal di Sapelo Island, Georgia, atau kelompok Ben Ishmael di negara bagian Indiana dan Ohio. Selidik punya selidik, ternyata ada website tentang Orang Ungu ini. Dari situ, ketahuanlah bahwa orang-orang ini menganut azas kemandirian, menanam makanannya sendiri, memproduksi barang-barang kebutuhannya sendiri, dst. Sekilas menyerupai gerakan kemandirian afrika amerika yang dipimpin Marcus Garvey dan dilanjutkan Nation of Islam itu. Dan pusat The Purple People se-Amerika ini ternyata juga ada di dekat Yellville itu. Nama resmi komunitas mereka adalah Nahziryah Monastic Community. Dan ternyata lagi, simbol mereka menunjukkan semacam peleburan agama-agama, ada bulan sabit, ada bintang daud, ada pancaran sinar. Dan ternyata, mereka mengaku pengaruhnya berasal dari India. Dan yang lebih kelihatan pengaruh Hindunya adalah salam “Om” mereka. Dan jangan lupa, salam pembuka mereka juga “Peace Be upon You”, yang kalau diarabkan bisa jadi kata penutup saya tentang liburan akhir pekan di Ar-Khansaw kali ini, yaitu:

“Assalaamualaikum”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s