Ingat serial “Sohibul Hikayat” yang diproduksi dan dimainkan oleh H. Dedy Mizwar? Ya, ceritanya tentang seorang lelaki berilmu yang traveling dan menemui banyak hikmah. Di kalangan muslim, “jalan-jalan” memang memiliki tempat tersendiri. Tentu, yang dimaksud jalan-jalan di sini bukan sekedar jalan-jalan ke suatu tempat wisata, poto-poto, shopping, terus pulang. Jalan-jalan yang dimaksud sini adalah jalan-jalan 1. mengunjungi tempat-tempat bersejarah atau suci (atau napak tilas lah), 2. mengunjungi makam orang-orang sholeh, 3. mengunjungi orang-orang yang dihormati, 4. jalan-jalan mencari pengetahuan, dan 5. jalan-jalan ke Arab naik haji, dan mungkin masih ada lagi varian jalan-jalan itu. Oh ya, pasti Anda sekalian juga ingat nabi Khaidir yang dikisahkan sebagai orang yang terus “jalan-jalan” dan kabarnya masih ada sekarang. Nah, kali ini, saya pingin cerita sekedarnya tentang kisah jalan-jalan muslim yang, well, sangat jauh dari bayangan jalan-jalan Islami pada umumnya, karena: pertama karena jalan-jalannya di Amerika (Negara yg mungkin akan ada di baris paling bawah dalam daftar Negara tujuan ziarah muslim :D), kedua karena muslim yg jalan-jalan ini bukan sufi ataupun guru ngaji, tapi seorang muslim punker, ketiga yang dikunjungi juga bukan benar-benar makam dari atau orang-orang yang sholeh atau wali dalam pengertian tradisional. Jadi, marilah selanjutKAN kita tampilNYA: memoir jalan-jalan “Blue-Eyed Devil” karya Michael Muhammad Knight.

Sekilas tentang Mike, panggilan akrab saya buat si penulis :): dia adalah seorang muallaf yang keimanannya menempuh banyak lika-liku. Dia terlahir dari keluarga Katolik keturunan imigran Irlandia. Pada umur 15 tahun dia memutuskan masuk Islam setelah membaca autobiografi Malcolm X (yang saya resensi 2 minggu lalu, silakan cari di google) dan menjadi seorang muslim sunni. Selanjutnya pada usia 18 tahun dia pergi ke Faisalabad, Pakistan, belajar mengaji serius di masjid Faisal, salah satu masjid terbesar di dunia. Setelah kembali ke Amerika, pada masa kuliah, dia mengalami disorientasi keimanan dan menjadi pemuda yang, well, bisa dibilang bejat. Tetapi ujung-ujungnya dia menemukan kesadaran bahwa keimanannya, keimanan seorang Amerika, haruslah relevan dengna kehidupan yang ada di sekitarnya. Akhirnya, dia memutuskan kembali menempuh jalan Islam, tapi bukan Islam Sunni, yang menurutnya cenderung kaku dan penuh dengan aturan-aturan yang membatasi dan juga cenderung tidak toleran jangankan dengan agama lain bahkan dengan orang lain yang juga mengaku diri Islam””terhadap pemeluk “Ahmadiyah” , misalnya. Dan, guess what, Islam yang menurutnya nyaman itu hadir melalui dialektika antara Islam dan punk. Begitulah tentang Mike. Sesekali dia mengacu ke masa-masa hidupnya yang ini selama perenungannya dalam perjalanan yang dibahas di buku Blue Eyed Devils ini. Selain itu, perlu juga disebutkan di sini bahwa sebelum menulis catatan jalan-jalan ini, Michael telah menulis novel berjudul “The Taqwacores” yang pada awalnya dia terbitkan sendiri dalam bentuk fotokopian, hingga akhirnya membuat tertarik sebuah penerbit dan menerbitkan buku itu dalam bentuk yang sesungguhnya, dengan kover bagus, jilidan rapi, ISBN, dan, tentu saja, ada bar code-nya.

Seperti saya singgung di dua paragraf yang lalu, jalan-jalan Mike ini sebetulnya memenuhi lima sifat jalan-jalan muslim itu, tapi dia mengkostumisasi jalan-jalannya dan konsep “Islam” itu sendiri sehingga kita akan menemui hal-hal yang unik. Pertama: kita akan temukan bagaimana tempat-tempat bersejarah yang dia kunjungi itu bukan hanya tempat-tempat bersejarah yang berhubungan dengan wali-wali besar atau ulama sufi terkenal, tapi tempat-tempat itu antara lain adalah tempat tewasnya Malcolm X, yaitu di Audubon Hall di Harlem, New York. Tempat lainnya adalah jalan Wabash di Chicago, sebuah jalan yang panjang di Chicago yang pernah menjadi tempat Noble Drew Ali menyebarkan keyakinan yang banyak terpengaruh oleh Islam, juga pernah menjadi tempat salah satu masjid terbesar Nation of Islam yang dipimpin oleh Elijah Muhammad (untuk lebih jelasnya tentang ini bisa lihat di resensi Autobiografi Malcolm X saya), dan juga pernah menjadi salah satu masjid Warith Deen Muhammad, yang mengembalikan para pengikut Nation of Islam ke jalan Islam sunni. Mike juga mengunjungi kota kembar tiga di Indiana, yaitu Morocco (negara bagian Indiana), Mahomet (Illinois), dan Medinah (juga di negara bagian Illinois). Pasti Anda heran dengan nama-nama ini (by the way, jaman dulu orang barat menyebut muslim sebagai “Mahometan” ): konon, di kota-kota ini pernah tinggal komunitas yang disebut Ben Ishmael, yaitu komunitas trirasial (terdiri dari orang Indian, budak-budak kulit hitam pelarian, dan warga miskin kulit putih) yang dikenal cinta damai dan tidak makan babi dan disinyalir merupakan kelompok yang masih menjalankan ajaran Islam yang dibawa oleh para budak kulit hitam (sepertiga budak yang dibawa dari Afrika itu muslim lho) atau juga penerus agama yang ditularkan oleh pelaut dari Mali kepada orang Indian pada tahun 1310, atau bahkan Islam yang menurut seorang profesor Harvard dibawa oleh orang Indonesia menyeberang Pasifik jauh sebelum pelaut Mali. Wah, sepertinya saya terlalu menghambur-hamburkan informasi di paragraf ini. Semoga Anda sekalian tergugah untuk menelusuri lebih jauh tentang ini. Selain tempat-tempat ini, masih banyak lagi tempat yang dikunjungi Mike, termasuk masjid Islamic Da”™wah Center di Houston, Texas, yang merupakan mesjid yang dibangun megabintang NBA Kareem Abdul Jabbar.

Kedua, dalam kaitannya dengan mengunjungi makam orang-orang yang dihormati, Mike mengunjungi beberapa makam tokoh penting terkait Islam di Amerika. Yang pertama dia kunjungi adalah makam Elijah Muhammad, pimpinan besar Nation of Islam, yang menurut seorang Syiah atau Sunni pasti bukan termasuk agama Islam meskipun banyak memiliki kesamaan. Mike juga mengunjungi makam Syekh dari Asia Selatan yang membawa ajaran sufisme ke Amerika pada tahun 60-an, tapi muridnya tidak hanya dari kalangan Islam. Dia kunjungi juga makam Bilali Muhammad, seorang kulit hitam yang lari dari perbudakan dan tinggal di sebuah pulau di lepas pantai negara bagian Georgia, yang bernama Sapelo Island. Bilali Muhammad yang meninggal pada tahun 1857 (by the way, perang sipil selesai pada tahun 1855) ini dikenal karena meninggalkan sebuah tulisan sepanjang 13 halaman dalam bahasa Arab yang isinya adalah ajaran-ajaran dasar Islam seperti cara sholat dan bersuci. Oh ya, Bilali Muhammad ini lahir di sebuah kawasan Afrika yang sekarang menjadi negara Guinea pada tahun 1770, dan dibawa ke Dunia Baru sebagai budak. Tapi loyalitasnya dalam membantu perang revolusi yang membuat AS merdeka pada tahun 1776 itu menjadikannya seorang supir yang ditugasi di Pulau Sapelo itu. Konon keturunan Bilali Muhammad masih menjalankan ajarannya secara sembunyi-sembunyi hingga beberapa lama setelah wafatnya Bilali. Mike juga mengunjungi kuburan Hi Jolly, seorang lelaki asal Turki yang datang ke Amerika membawa onta untuk dikembang biakkan dan dijadikan kendaraan tunggan pada masa perang di kawasan Barat Daya Amerika, termasuk Arizona, yang iklim dan kondisi lingkungannya bisa dibilang memungkinkan onta hidup. Oh ya, sebenarnya nama asli Hi Jolly ini adalah Hajj Ali. Dan tentu di antara kunjungan-kunjungan “suci” ini Mike, dalam kapasitasnya sebagai seorang punker, juga mendatangi konser-konser punk dan ketemu dengan beberapa punker muslim lain, dan diceritakn juga bahwa sudah ada beberapa punker muslim yang terinspirasi bukunya The Taqwacores dan benar-benar membentuk komunitas punk yang mereka sebut Taqwacores.

Ketiga, soal mengunjungi orang-orang yang dihormati untuk menimba hikmah dan pengetahuan, Mike juga mengunjungi orang-orang yang membantunya menjawab pertanyaan besarnya, yaitu siapakah sebenarnya Wallace D. Fard, seseorang yang mengajari Elijah Muhammad hikmah-hikmah Islami dan mendirikan Nation of Islam. FBI memiliki catatan panjang lebar tentang WD Fard ini, termasuk fotonya ketika tertangkap, karena menyebarkan ajaran yang dirasa mengganggu ketertiban umum; Mike punya file lengkap ini dan menggunakannya untuk menelusuri jejak W.D. Fard. Mike mengunjungi beberapa orang yang kira-kira bisa memberinya keterangan mengenai siapa sebenarnya W.D. Fard ini. Dia berkesempatan menemui anak cucu Elijah Muhammad untuk menggali informasi. Dia juga mengunjungi sebuah masjid di California, tempat seorang profesor Islam bernama Muhammad Abdullah pernah tinggal. Muhammad Abdullah ini, menurut Warith Deen Muhammad, sebenarnya adalah W.D. Fard. Tapi Prof. Abdullah sendiri tidak pernah mengaku secara langsung. Dia juga mengunjungi Azrael, seorang tokoh The Five Percenter, sebuah komunitas yang didirikan oleh mantan salah satu anggota Nation of Islam bernama Clarence 13X (yang juga dikenal sebagai Clarence 13X Allah). Informasi singkat: The Five Percenter, atau Nation of Gods and Earths, adalah komunitas yang mengakui bahwa semua orang adalah Tuhan. Mereka menyebut para lelakinya””anggotanya adalah orang-orang Afrika Amerika, selain beberapa anggota pengecualian””sebagai God dan para perempuannya sebagai Earth. Satu hal yang unik adalah, semua anggotanya adalah ALLAH, dalam artian Arm Leg Leg Arm Head. Banyak rapper dan hip-hopper Amerika yang lirik lagu-lagunya mengandung ajaran The Five Percenters, termasuk juga The Fugees.

Wah, saya agak capek menulis sepanjang ini. Jadi, sementara saya sampaikan tiga saja dulu poin-poin perjalanan Mike ini. Dua lainnya bisa kita lanjutkan nanti kalau ada waktu.

Tapi, selain perjalanan-perjalanan itu, ada hal lain yang diuraikan Mike dalam buku ini: yaitu perihal keislaman versinya. Dia tidak lagi menyebut dirinya seorang sunni, karena sunni cenderung sangat ketat dan terlalu membatasi menurut dia. Dia lebih cenderung dengan kelompok-kelompok yang malah dipinggirkan kaum sunni. Salah satunya adalah kaum syiah. Dia menempuh perjalanan sampai ke Kanada untuk mendatangi sebuah masjid Syiah yang sedang mengadakan peringatan Asyura. Dia berharap melihat peringatan Asyura seperti yang ada di Iran, dengan tradisi “matan” , atau menyakiti diri sendiri, untuk mengingat kembali kepedihan luka-luka Husain, cucu rasulullah, putra Ali bin Abi Thalib, yang dibunuh secara kejam di Karbala, karena dianggap mengganggu stabilitas politik Arab waktu itu. Bukannya melihat orang-orang menyayat-nyanyat tangannya dengan pedang, Mike “hanya” melihat dan ikut serta para muslim Syiah memukul-mukul dadanya, karena memang hukum tidak memungkinkan mereka melakukan matan di Kanada (dan juga Amerika Serikat). Kelompok-kelompok yang kurang disukai kaum sunni yang dia datangi dan tunjuki simpati dan dukungan adalah para muslim feminis Amerika yang pada saat itu, sekitar tahun 2004, sedang gencar menunjukkan suaranya. Mike adalah satu-satunya lelaki yang ikut dalam aksi solidaritas March to the Mosque bersama kelompok feminis muslim yang menyebut diri Daughters of Hajar dan sholat dengan dipimpin seorang Imam perempuan. Oh ya, aksi solidaritas ini dikarenakan masjid di Morgantown, Virginia, ini hanya memperbolehkan jamaah laki-laki lewat pintu depan, sementara jamaah perempuan harus lewat pintu belakang. Dia juga hadir dalam sholat Jumah kontroversial di New York yang dipimpin oleh Dr. Amina Wadud, seorang profesor Islamic Studies dari Virginia Commonwealth University yang banyak menafsir Alquran dari perspektif perempuan.

Buat para muslim Indonesia secara umum, mungkin sikap, pandangan, dan tindakan Mike ini seringkali membikin kita geleng-geleng kepala, dan bahkan mungkin akan mencaci makinya karena menganggap Mike telah merusak kemurnia Islam. Mungkin kita akan bilang tidak setuju dengan pandangannya yang tidak menyetujui dia terkait penolakannya atas pengekangan Islam yang “keterlaluan” atas hasrat terhadap lawan jenis. Pasti seorang guru ngaji akan berang kalau membaca bagian di mana Mike berpelukan dengan seorang gadis yang dia sukai, meskipun tidak sampai melakukan hubungan seksual. Mungkin kita akan menganggap Islamnya Mike ini kurang “valid” karena hanya sholat waktu dia pingin sholat saja, seringkali sholat subuh dan duhur. Tapi, sikapnya yang menginginkan agar Islam tidak hanya menjadi monopoli orang Arab, penghargaannya kepada para “pembawa” Islam ke tanah Amerika di masa lalu, rasa hormatnya kepada orang-orang yang berjuang menerapkan ajaran-ajaran luhur Islam dalam perjuangan melawan ketidakadilan, sikap tolerannya yang luar biasa kepada orang-orang yang keyakinanya di luar standar umum, semangat mencarinya yang tak kenal lelah, keyakinannya bahwa Islam sebenarnya bukan agama yang meletakkan perempuan di bawah laki-laki dan Islam bukan agama yang memperlakukan perempuan tidak sebaik perlakuannya kepada laki-laki, tak ayal membuat kita mencari cermin untuk keislaman kita””asalkan kita cukup terbuka, hehehe… Saya sebagai orang yang lahir di dididik secara Islam di tanah Jawa, jadi berpikir, bukannya di Jawa kita juga bisa dibilang lebih dekat dengan para wali ketimbang para khulafaur rasyidin? Bukannya kita lebih akrab dengan kisah Sunan Kalijogo dan 8 wali lainnya dalam menyebarkan agama Islam ketimbang kisah Imam Syafii ataupun perjalanan Bukhari merawi hadits? Yah, seperti halnya banyak orang yang memandang miring keislaman orang Jawa (khususnya NU) yang suka sholawatan atau puja-pujian kepada Allah dengan dinyanyikan, wajarlah kalau kita memandang miring Michael Muhammad Knight dan para Taqwacores memasukkan kisah-kisah nabi atau isu-isu keislaman dalam musik punk mereka….

Terakhir (sumpah terakhir), saya menghargai buku ini karena dia semacam berusaha menjadi “ensiklopedia” pernak-pernik dan sejarah Islam di Amerika karena luasnya cakupan sejarah, tokoh, kejadian, dan tempat yang berhubungan dengan Islam di Amerika (meskipun tidak dibahas secara mendalam). Dan lagi, buku ini juga menunjukkan bahwa Islam bukan barang baru di Amerika, bukan hanya sesuatu yang disoroti setelah 9/11…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s