Pertama kali saya tahu bahwa pernah hidup seorang manusia bernama Malcolm X adalah ketika melihat video klip-nya Iwa K. Di bagian awal video klip, sebelum gambar dan suara keluar, ada kutipan dari Malcolm X yang masih saya ingat: It”s freedom for everybody or freedom for nobody. Awalnya saya agak ragu apa betul kutipan yang saya ingat sejak kelas 2 SMP itu, karena memang jarang sekali video klip ini diputar mulai dari awal sekali. Tapi ternyata setelah saya cek ternyata memang itu salah satu kutipan paling terkenal dari Minister Malcolm X.Setelah itu, beberapa lama kemudian, setelah tahu sedikit sekali tentang Malcolm X, saya juga mengenali ada sosok Malcolm X muncul bersama Muhammad Ali sebelum Ali bertarung dengan Sonny Liston, dalam film documenter “When We Were Kings”, yang mengisahkan kebangkitan Ali kembali hingga pertarungan historis Ali vs. Foreman yang berjuluk “Rumble in the Jungle” yang diadakan di Zaire. Tapi, saya baru mengklaim diri mulai tahu tentang Malcolm X, sang pejuang civil rights Afroamerika, juga seorang muslim, setelah baca otobiografinya yang diaksarakan oleh Alex Haley berdasarkan wawancara intensif dengan Malcolm X. Kesan saya, Malcolm X memang pribadi yang layak dikenal. Dan dari situ saya setuju dengan orang yang suka bilang bahwa “yang tetap cuma perubahan”.

Pertama-tama, kita akan mengawali dengan melihat Malcolm X terkait dengan perubahan arah hidupnya. Malcolm X lahir dengan nama Malcolm Little, putra pasangan Kristen taat yang banyak mengkotbahkan ajaran anti-diskriminasi Marcus Garvey. Ayahnya tewas terlindas kereta api, disinyalir setelah sebelumnya dihajar pihak-pihak yang tak diketahui, karena kengototannya memperjuangkan anti-diskriminasi. Ibunya hidup serba kesusahan, dan ujung-ujungnya kehilangan kewarasannya dan harus masuk RSJ. Kemudian, Malcolm yang bias dibilang agak malu dengan “kehitaman”nya itu pindah ke Boston, di mana dia mulai kehidupan ghetto sesungguhnya. Nasib membawanya ke lembah hitam kriminalitas dan amoralitas, dan buntutnya dia harus mendekam di penjara setelah melakukan pencurian. Anehnya, dia dijebloskan ke penjara lebih karena “meniduri” gadis kulit putih daripada membobol rumah. Selama di dalam penjara inilah dia yang pada awalnya dikenal sebagai “Setan” oleh sesama penghuni LP ini sedikit demi sedikit mulai terekspos pada ajaran-ajaran Nation of Islam. Seorang kawan sesama tahanan mengaku dia menjadi “muslim” dan mempraktekkan ajaran-ajaran Elijah Muhammad. Oh ya, sebelum keterusan, sepertinya harus diterangkan di sini kenapa “muslim” saya kasih tanda petik: di sini yang dimaksud “muslim” adalah orang-orang pengikut ajaran Elijah Muhammad, seorang yang mengaku diri sebagai penyembah Allah dan mendapatkan wahyu dari Allah. Jadi, karena perbedaan pilar agama dengan Islam yang umumnya dipraktekkan oleh kaum Sunni dan Syiah, maka saya sebut saja dia ini “muslim” dan agamanya “Islam” atau Nation of Islam. Adiknya juga ternyata menjadi anggota Nation of Islam (selanjutnya NOI saja deh). Sedikit demi sedikit dia disadarkan oleh ajaran NOI yang menekankan bahwa orang kulit hitam di Amerika pada saat itu sebenarnya masih diperbudak. Perbudakan modern itu tidak lagi berupa bekerja di perkebunan-perkebunan, melainkan penekanan sosial dan mental melalui terbatasnya kesempatan mendapat pendidikan dan pekerjaan dan penggelontoran rokok, alkohol dan obat bius di kawasan pemukiman orang-orang kulit hitam. Malcolm tergugah oleh ajaran ini. Dan akhirnya, dia menyatakan diri menjadi pengikut NOI. Sampai-sampai, setelah tahu bahwa nama keluarga orang-orang kulit hitam sebenarnya adalah nama keluarga Tuan-tuan kulit putih yang “memiliki” nenek moyang mereka, dia pun memutuskan membuang nama belakang Little dan memilih nama belakang X, untuk melambangkan nama keluarga leluhur Afrikanya yang tidak lagi ketahuan juntrungannya. Dia pun tergugah untuk belajar demi mendukung perjuangan melawan penindasan orang kulit hitam. Dia baca kamus bahasa Inggris dari kover depan sampai kover belakang. Dengan modal pengetahuan kosakatanya yang meningkat, dia mulai belajar otodidak dengan bantuan buku-buku perpustakaan LP. Dia mengikuti kuliah-kuliah jarak jauh. Dan mulai menantang debat dosen-dosen yang datang mengajar di LP setiap minggu. Dan dia pun keluar dari LP sudah menjadi Malcolm yang lain. Rambutnya dipangkas supak (super cepak), memakai kacamata karena kebanyakan baca dengan cahaya yang tidak memadai, dengan kepercayaan diri meluap-luap. Begitulah, Malcolm X adalah pribadi yang pernah mengalami perubahan drastis, yang selanjutnya akan menjadi modal yang kuat dalam perjuangannya. Tapi, perubahan itu tidak hanya sampai di sini.

Hhh… sori, saya ngos-ngosan setelah paragraf panjang tadi. Hehehe…

Selanjutnya, yang perlu diulas dari buku ini adalah perjuangan Malcolm X melawan “penindasan ras” sisa-sisa jaman pra-perang sipil Amerika. Perjuangan ras Malcolm X secara resmi dimulai ketika dia keluar dari LP dan mulai menjadi anggota aktif NOI. Di sini, kecakapan argumentasi dan keluasan wawasan sejarahnya membuat NOI mengangkat Malcolm menjadi salah seorang pendakwah di “masjid” mereka. Dia berkotbah tidak hanya di dalam masjid, tapi juga turun ke jalan membagi-bagikan pamflet dengan tujuan menyadarkan orang-orang kulit hitam bahwa mereka masih terpenjara dan bahkan gereja mereka yang menawarkan sorga setelah mati itu menurut dia adalah akal-akalan orang kulit putih untuk menenangkan mereka, agar mereka “triman” dengan keadaan hidup di dunia dan hanya mendambakan damai sorga. Media mengenalkan sebagai seorang orator yang keras dan penuh emosi, dan tentu saja membakar semangat massa.

Di sini terlihat bahwa NOI, yang banyak mengadopsi ajaran agama Islam orthodoks, dalam hal pengharaman babi misalnya, ibadah sholat yang mengarah ke Mekkah (meskipun bentuknya tidak sama persis dengan solatnya umat Islam), ritual uluk salam, dsb, lebih berupaya membawa ajaran-ajaran Islam itu ke arah praksis, utamanya untuk mengembalikan kebanggaan moral orang-orang kulit hitam dan menentang hegemoni kulit putih. NOI mempercayai sebuah mitos bahwa awal mula manusia adalah orang kulit hitam yang kemudian “membuat” ras kulit putih. Jadi, tidak semestinya orang kulit hitam malu menjadi orang kulit hitam. NOI juga banyak mengambil ajaran-ajaran injil dan Quran secara bergantian, dan tentunya disertai ucapan “the Honorable Elijah Muhammad teaches us that”. Elijah Muhammad sendiri adalah seorang lelaki Afro-amerika yang mengaku mendapat ajaran dari Wallace Fard Muhammad, lelaki yang memberitahunya bahwa Elijah adalah rasul yang dinanti, persis seperti kisah Nabi Yahya yang memberitakan kepada Maryam bahwa putranya, Isa, adalah rasul yang dinanti. Nah, begitulah, jadi NOI lebih merupakan “Islam” khusus untuk orang kulit hitam, semacam hasil “kostumisasi” Islam untuk kalangan tertentu. (Well, kalau Njenengan pakai Ubuntu Linux, NOI ini semacam “Ubuntu Muslim Edition”, :D). Sehubungan dengan Malcolm sendiri, penyerapan ajaran NOI yang bisa terbilang terlalu kuat itu sampai pada tingkat anti-kulit-selain-hitam. Dia menyerang semua orang kulit putih atas dosa masa lalu perbudakan, bahkan orang kulit putih jaman sekarang yang berniat tulus ingin membantu perjuangan orang kulit hitam. Suatu ketika seorang gadis kulit putih baik-baik datang kepadanya dan menyatakan keinginannya membantu perjuangan anti-diskriminasi dan menyatakan turut merasa bersalah atas kejahatan kakek moyangnya dan bertanya kira-kira apa yang bisa dia lakukan untuk membantu perjuangan AfroAmerika, dan Malcolm hanya menjawab “Nothing”. Media menyebut-nyebut Malcolm sebagai Anti-semit, sebutan anti Yahudi di Eropa dan Amerika adalah sebutan yang menakutkan, sehubungan dengan kekejaman rezim NAZI Jerman terhadap kaum Yahudi. Dan puncaknya adalah ketika Malcolm menyatakan tidak berkabung atas kematian John F. Kennedy, dan ini memicu reaksi panas dari segala penjuru Amerika, dan Elijah Muhammad sebagai pimpinan puncak NOI pun merasa ini kontraproduktif terhadap perjuangan mereka, dan akhirnya menskors Malcolm X dari praktek dakwah.

Selama masa ini, Malcolm, berkat kepekaan istrinya, mulai bisa melihat NOI dari perspektif yang lebih arif. Dia mulai tahu penyelewengan-penyelewengan dalam NOI, terutama penyelewengan akhlak di pihak Elijah Muhammad. Singkat kata, pada akhirnya Malcolm menyatakan diri keluar dari NOI dan mendirikan Moslem Mosque, Inc. Sementara itu, sepupunya yang telah masuk NOI berkat dakwah Malcolm dan akhirnya keluar untuk menjadi muslim ortodoks menyarankan Malcolm untuk menjadi muslim dan berhaji untuk mendapatkan perluasan wawasan, serta juga untuk lebih memahami keterkaitan dengan leluhur mereka di Afrika. Akhirnya, di tengah gejolak itu, Malcolm sembunyi-sembunyi berangkat ke Mekkah, sambil lebih dulu mampir di Mesir. Di Mekkah ini, di tengah pesona ibadah haji, Malcolm menyadari bahwa muslim adalah kaum “buta warna”. Maksudnya, dalam pelaksaan ibadah haji, dia melihat orang-orang dengan berbagai warna kulit, mata, dan rambut tampi dengan sama-sama memakai ihram, terkadang makan dari satu tempat, dan tidur berpayungkan tenda yang sama, dan (ini asli dari Malcolm lho ya!) ngoroknya pun sama! Dia kabarkan berita bahagia itu ke sanak-kerabatnya di Amerika Serikat, dan itu memicu reaksi positif dari media. Dia pun berkesempatan mengunjungi beberapa negara besar Afrika dan berbicara dengan kalangan politik maupun akademi. Sepulangnya kembali ke Amerika, dia ternyata sudah ditunggu-tunggu. Kotbahnya sekarang agak berubah haluan: mengangkat harkat dan martabat orang kulit hitam dari balik penindasan, dan tidak memandang semua orang kulit putih sebagai musuh. Malcolm dengan Moslem Mosque, Inc.-nya semakin didengar orang, namun dia mulai mendapat tekanan dari pihak-pihak yang menurutnya adalah orang-orang suruhan NOI. Beberapa waktu kemudian Malcolm berangkat lagi ke Afrika untuk menemui beberapa kepala negara Afrika lainnya. Dan sekembalinya ke Amerika, berdasarkan hasil pembicaraan dengan beberapa pihak, termasuk seorang dubes Amerika untuk sebuah negara Afrika, dia membawa gagasan baru: bahwa sebenarnya sistem Amerika lah yang saat itu rasis, dan banyak juga orang yang bisa membentengi diri dari sistem itu dengan menjadi tidak rasis. Sementara itu, tekanan dari pihak-pihak tertentu mulai tak tertahankan lagi. Dan ujungnya, Malcolm tewas pada saat baru memulai salah satu kotbahnya di Audubon Ballroom, Manhattan.

Demikianlah perjuangan civil rights di tangan Malcolm X, yang bisa dibilang bersamaan dengan pejuang lain yang mungkin lebih terkenal, yaitu Martin Luther King, Jr., yang usianya lebih muda beberapa tahun dibanding Malcolm. Keduanya menerapkan caranya sendiri-sendiri. Malcolm dengan aliran anti kulitnya yang keras dan dengan ajaran NOI dan akhirnya Islam, sementara Pendeta Martin Luther King, Jr. dengan demonstrasi-demontrasi historis dan ajaran kristen yang dia pegang teguh. Dan bagaimana dengan NOI sendiri? Sebelum wafat, Elijah Muhammad berwasiat agar kepemimpinan NOI dilanjutkan oleh putranya, Warith (atau juga Wallace) Deen Muhammad, yang merupakan kawan dekat Malcolm dan banyak memiliki kesamaan pandangan. Pada saat itu, NOI pecah menjadi faksi-faksi kecil yang banyak memiliki perbedaan visi. Akhirnya, Warith mengarahkan NOI menuju Islam Sunni, dan sekitar 95% anggota NOI kemudian menjadi pemeluk Islam dan organisasinya pun berganti nama menjadi American Society of Moslems. Sementara itu, tetap ada kelompok yang meneruskan ajaran Elijah Muhammad dan W. D. Fard. Kelompok ini dipimpin Louis Farakhan, dan pada akhirnya kelompok ini mengambil nama yang sudah tidak dipakai Warith, yakni Nation of Islam, atau juga dikenal sebagai Farakhanisme.

Bagaimana dengan perjuangan hak sipil yang digalang oleh Martin Luther King, Jr., Elijah Muhammad, dan Malcolm X? Seperti dunia bisa melihat saat ini, Amerika sekarang dipimpian oleh orang yang jelas-jelas bukan kulit putih, dengan ayah berasal dari Kenya dan ibu dari Hawaii dan pernah SD di Indonesia , dan banyak kalangan yang menyebut bahwa 50 tahun yang lalu, hal seperti ini nyaris mustahil. Nah… terus bagiamana dengan Iwa K, apakah relevan membawa kutipan perjuangan berat Malcolm X yang harus dibayar dengan nyawa itu untuk mendukung “perjuangan” Iwa K untuk “bebas” dan bisa main basket bersama kawan-kawannya yang kayaknya sih kaya dan main skateboard (sebuah papan keren yang tidak semua orang bisa beli) dengan pakaian bermerk serta sepatu gaul itu? Hmm….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s