Kemarin sore, waktu nanjak bukit ke arah kos-kosan, dari Dickson St. bookstore, di tengah deru motor gede yang meramaikan hajat tahunan BBB (Blues, Bikes and Barbeques), waktu mencoba mengganti gigi sepeda, tiba-tiba terjadi kecelakaan: pemindah gigi tiba-tiba berputar sedemikian rupa dan masuk jeruji, roda gigi yang paling kecil pecah, rantai mbulet, sepeda macet! Spontan saya lihat jam: 6.05 (sebenarnya saya nggak ingat sedetil ini sih, tapi demi kepentingan dramatisasi, sebut sajalah jam segitu; yang pasti waktu itu sudah pukul enam lewat sedikit lah). Ah, sudah tutup! Apanya yang tutup?

Yang tutup adalah bengkel/toko sepeda di Hper Building, gedung pusat olahraga mahasiswa kampus UofA. Mereka dibuka untuk mahasiswa pada hari Selasa sampai Kamis. Dibuka di sini artinya mereka melayani penjualan alat-alat perlengkapan sederhana sepeda semisal ban dalam DAN mereka juga menyediakan alat-alat servis sepeda mereka buat mahasiswa yang ingin memperbaiki sepedanya sendiri. Kalau nyewa gratis, tapi kalau servis dan yang ngerjakan mereka, ya bayar lah! There”s no such thing as a free lunch in the US, baby!

Dan kemarin adalah Kamis, hari terakhir bukanya bengkel sepeda dalam minggu ini, dan mereka tutupnya jam 6. Wassalam deh.

Tapi, melihat parahnya kerusakan pemindah gigi itu (istilah teknisnya “derailer”), saya harus berusaha semaksimal mungkin minta pinjaman alat-alat pertukangan sepeda yang paling vital untuk urusan ini: pelepas rantai (lagi-lagi, istilah lazimnya “chain breaker”). Akhirnya, tadi siang, sambil nunggu bis yang akan membawa saya ke masjid, saya iseng-iseng telpon Hper Building, minta dihubungkan dengan Outdoors Connection Center, yang punya Bengkel Sepeda. Seorang mahasiswi yang menjawab, dan saya langsung tanya: “Is the bike shop open today?” Dia bilang kalau hari ini nggak buka, minggu ini terkahir buka sudah kemarin. Terus saya desak, “But my bike is in a bad shape now, I can”t use it at all, can you guys just let me use your tools and I”ll be just fine.” Demi mendengar itu, akhirnya dia bilang: “In that case, just come over.”

Akhirnya, setelah jumatan saya tuntun sepeda saya ke Hper Building, saya menaikinya waktu jalannya turun, tapi sedikit pun saya tidak berani mengayuhnya, karena sedikit saja rantainya berputar, pasti derailernya akan masuk jeruji, dan bisa-bisa saya terlempar, sementara di samping saya motor-motor gede mulai dari Harley Davidson standar sampai yang Black Shadow kayak punyaknya Lorenzo Lamas di film Renegade (atau yang kata Bruce Willis dalam film Pulp Fiction, “It”s not a motorcyle, baby, it”s a chopper”); bisa-bisa jadi jemblem saya dihantam moge-moge yang lagi mendukung BBB itu.

Nah, di Hper saya langsung masuk ke Outdoors Connection Center dan minta dipinjami alat-alat pertukangan sepeda. Seorang laki-laki yang menjaga pusat penyewaan alat-alat outdoors yang juga punya wall untuk climbing di dalamnya itu bilang kalau bengkel sepeda tidak buka hari ini. Tapi dengan mengandalkan persetujuan yang diberikan si mahasiswi di telepon tadi (dan bilang “All I need is a screwdriver, a chain breaker, and a nice hex wrench.”), akhirnya dia mempersilakan saya memasukkan sepeda ke dalam bengkel yang lagi tutup itu. Dia menyerahkan semua alat-alat pertukangan dan bertanya, “Dyou know what to do?” Saya hanya menjawab, “I guess so” tentu saja dengan senyum super lebar. Terus terang, saya belum pernah pakai chain breaker, saya hanya tahu cara kerjanya dari youtube. Dan sebelum meninggalkan saya dengan mainan-mainan baru itu, dia minta saya memasukkan nama dan tanda-tangan saya di sebuah buku yang tujuannya adalah untuk memastikan bahwa mereka hanya meminjamkan alat-alat itu dan saya sendiri yang mengerjakan; resiko ditanggung penumpang.

Ternyata makai chain breaker sangat gampang, melepas derailer juga gampang, dan memasang derailer baru yang jenisnya beda dengan yang lama juga bisa dilalui (meskipun harus dipenthelengi sampai 15 menitan untuk memastikan pemasangannya yang paling pas. Si penjaga Outdoors Connection sesekali datang dan bertanya “How far along is it?” Saya cuman mesam-mesem, “I”m good, but it”s kinda difficult, though.” Dan, misteri terakhirnya adalah bagaimana memasang kembali rantai yang sudah dilepas itu, soalnya ternyata lubang pinnya sangat ngepres dan … well … agak sulit menjelaskannya, yang pasti, ternyata sangat sulit memasang kembali rantai itu, bahkan dengan bantuan chain breaker (namanya saja chain breaker, bukan chain installer, hahaha…). Akhirnya, waktu si penjaga bengkel datang lagi, saya tanya, “Dyou know how to put this back on?” Dia langsung coba pegang rantai dan chain breakernya, dan agak lama kemudian dia bilang: “It”s actually not designed for that”. Dia ternyata putus asa. Akhirnya, saya mencoba-coba berbagai cara, hingga akhirnya menyalalah bohlam itu: aha. Ternyata, mata rantai yang dalam itu lebih longgar, sehingga pin bisa dipasang di bagian dalamnya dulu. Akhirnya, ketemulah cara memasang rantai: lepas satu rantai lagi, kemudian pasang lagi rantainya, kali ini tidak langsung, tetapi satu per satu dulu. Ah, kayaknya lebih gampang kalau pakai youtube menjelaskannya.🙂

Begitulah, akhirnya saya bisa pulang dengan sepeda yang sehat wal afiat. Beginilah kampus UofA, kayaknya segala hal yang menyangkut hajat hidup mahasiswa ada jawabannya. Kayaknya, tidak cuman urusan buku dan bangku saja yang dianggap penting, bahkan sepeda pun dianggap penting. Hehehe… Btw, apa saya pernah cerita soal hiburan Friday Night Live yang tujuannya untuk menyeimbangkan kehidupan emosional mahasiswa dengan memberi hiburan (dan hidangan tentunya) gratis pada Jumat malam? Apa saya pernah cerita tentang Quality Writing Center yang membantu para mahasiswa membangun ide untuk menulis paper, atau membantu mahasiswa yang bahasa ibunya bukan bahasa inggris dalam hal grammar atau idiom bahasa Inggris? Apa saya pernah cerita soal Fitness Center di Hper Building? Apa saya pernah cerita soal penyewaan laptop untuk dipakai di perpustakaan atau dibawa pulang selama 2 hari atau seminggu? Apa saya pernah cerita tentang… ah… jangan ah. Saya nggak pingin cerita, saya pingin menunjukkannya kepada anak-anak saya nanti kalau saya jadi rektor dan saya bisa mendesak presiden (yang mungkin mantan teman nongkrong saya nanti) untuk memperbesar keran anggaran pendidikan (tentunya setelah keran anggaran kesejahteraan maasyarakat dibuka lebar-lebar dong :D). Makanya saudara-saudara, pilihlah… Halah!!! Hahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s