Yakinlah, salah satu bentuk culture shock buat orang dari nuswantara yang tinggal di negara dengan mayoritas penduduk non muslim adalah… cobak tebak…: MAKANAN.

Mungkin kalau di Indonesia bisa dengan santainya beli bakso Pak Iwan di Krembung Sidoarjo, beli ayam goreng di jalan Terusan Surabaya, Malang, beli soto daging di jalan Kilisuci, Kediri, beli bubur ayam Abah Odil di jalan Soekarno Hatta, Malang, beli soto Ayam di jalan Kartini, Jember, dekatnya SMP Maria Fatima. Atau beli Kebab Turki depannya UIN Malang. Atau, kalau lagi banyak duit, beli saja ayam Kentucky atau Pizza Hut rasa daging di Malang Town Square (Matos).

Tapi, di negeri Aa” Sam sini… well, well, well… dengarlah perbincangan yang terjadi di Portland ini, pada malam pertama saya menginjakkan kaki di negeri Aa” Sam:

“What would you like to have,” kata pelayan, dengan bahasa Inggris Amrik tapi wajah timur tengah.

“Chicken Kebab, please,” kataku, soalnya saat itu aku berada di restoran Lebanon depannya asrama Portland State University.

“Sorry, the chicken is not halal…” kata si pelayan sambil tersenyum.

“Hmmm… Ok, then, I”ll take beef shawarma, it”s halal, right?”

“Yes, wait a moment.”

Nah, itu dia masalahnya. Bahkan, di restoran Lebanon, yang kalau dilogikasederhanakan pasti menyediakan makanan halal, ternyata tidak semuanya halal. Tapi lumayanlah, di kota segede Portland, di kampus semaju PSU, ada beberapa restoran sekitar kampus yang menyediakan makanan halal. Dan bahkan ada kios makanan dalam kampus yang menyediakan ayam goreng halal.

Tapi, ceritanya menjadi berbeda saat kita dihadapkan dengan kenyataan hidup di kota yang sekecil Fayetteville, Arkansas, dengan komunitas muslim tak sebanyak di kota-kota besar lain negeri Aa” Sam.

Di dalam kampus, tidak ada makanan daging halal. Hasil perjuangan melawan pencampuran makanan tidak halal adalah munculnya tulisan “french fries are fried separately from pork breakfast” di etalase Burger King. Itu hasil perjuangan Moslem Student Association. Kalau ingin beli daging halal, ya… untunglah… dari masjid. Masjid memesan daging halal dari kota lain dan para jamaah yang concern dengan daging halal bisa membelinya dari sana.

Eits… sebelum dilanjutkan, ada beberapa hal yang perlu diketahui dulu. Karena agama sangat terkait dengan keyakinan dan tafsir, jangan heran kalau Anda akan menemui orang-orang dengan berbagai keyakinan:

1. ada yg menganggap asalkan makanan itu tidak berasal dari hewan yg disebutkan haram menurut quran dan hadits berarti makanan itu halal

2. ada yg menganggap makanan hanya bisa halal jika berasal dari hewan bukan haram dan disiapkan secara halal, semisal disembelih dengan atas nama Allah.

Karena adanya 2 pendapat semacam ini, saat ini banyak digunakan istilah “sabiha”. Sabiha ini lebih mengacu ke pengertian yg kedua tadi.

Tapi, kalau sudah ada di negeri Aa” Sam, fenomena halal-haram ini akan menjadi semakin rumit dan menarik, dan menggelitik untuk dipelajari.

Buat orang Islam, binatang yang jelas-jelas haram adalah… eng-ing-eng…: babi dan sejenisnya (yang tercakup dalam kelompok “swine” atawa kebabi-babian :D), termasuk babi hutan, celeng, babi rusa, atau razorback, dst… TAPI, masalah menjadi semakin pelik karena babi dianggap murah dan segala jenis makanan derivatnya juga murah dan bisa memberikan kesedapan dalam beberapa hal. AKHIRNYA, selain muncul dalam bentuk daging babi mentah, sosis babi, dan burger babi, kita akan bisa juga mendapatkan lemak babi untuk penyedap rasa, enzim (yg banyak digunakan dalam berbagai resep makanan ringan) yang berasal dari lemak babi, gelatin dari babi yang banyak dipakai untuk makanan semacam agar-agar dan marshmellow (Ah, hal ini dibahas dengan asyik oleh Mohja Kahf dalam novelnya The Girl in Tangerine Scarf).

Jadi ya… kadang-kadang, banyak juga orang yang dengan sadar menghindari keju karena hal ini. Kadang-kadang, kita perlu berlama-lama belanja, karena setiap kali membeli makanan ringan kita harus melihat bahan-bahannya dulu untuk memastikan tidak adanya kandungan enzim yg mengandung lemak babi dll. Atau bahkan, beli mie instant asli Amerika yang punya rasa sapi atau ayam yang perasanya benar-benar dari sapi atau ayam yg tidak disembelih secara monotheis (:P) pun jadi dihindari. Bahkan, ada mahasiswa baru datang yang membeli makanan ringan dari vending machine seharga 1.50 dollar tapi gak jadi dimakanan dan ditinggalkan begitu saja di rak depan lab hanya karena ternyata makanan itu mengandung enzim.

Ah, kayaknya enak kalau diskusi ini dilanjutkan nanti…

Tapi, karena perkembangan Islam di negeri Aa” Sam semakin pesat, dan banyak daerah-daerah yg penduduk muslimnya sangat besar, kini banyak juga industri-industri yg merangkul prinsip halal. Misalnya keju cheddar yang berasal dari Vermont. Di keju itu jelas-jelas tercetak lambang halal… Yah… lumayan entenglah…

Oke deh, setelah ini kita lanjutkan dengan satu cara menyiasati halal-haram itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s