Silakan intip satu kutipan dari Derrek Attridge ini:

Above all, readers would have to give up the fundamental presupposition that reading is an attempt at textual mastery; that is, that the words on the page possess a meaning which can be obtained from them by the appropriate process of translation, a process which, if successful, entirely exhausts the text”s potential for meaning.

Dengan statement yang ngepoststruturalis macam ini, setidaknya ada dua hal yang terimplikasikan (halah… boring banget bahasanya :P):

Pertama, beban pikiran seorang penerjemah saat mengerjakan novel ini jadi lebih ringan karena tidak dihantui oleh pikiran-pikiran semacam: “bagaimana kalau pembaca menyadari apa yang diacu oleh kata-kata tertentu seperti halnya kesadaran yang ada di benak Don Gifford saat menemui kata-kata tertentu dalam Ulysses”, atau “bagaimana kalau pembaca mengartikan hal-hal tertentu dalam Ulysses secara berbeda dengan penafsiran Stuart Gilbert”, dan seterusnya, dan sebagainya, dandangdula, dandang, dinding, dundung… Si penerjemah yang bebannya agak terringankan ini selanjutnya akan lebih bisa berkreasi dalam penerjemahannya berdasarkan pemahamannya SENDIRI atas Ulysses…

TAPI, bukannya kalau begini, dan si penerjemah melewatkan hal-hal tertentu dalam Ulysses, artinya dia juga mempersempit ruang gerak penafsiran pembaca-pembaca lain yang mengkonsumsi Ulysses hasil terjemahannya? Oke, silakan dipikirkan, Saudara yang budiman…

Kedua, seorang penerjemah jadi harus berpihak kepada Almarhum Eyang Joyce, tetap menciptakan padanan-padanan sastra, tetap menghadirkan hal-hal yang sama-sama samar-samarnya dengan hal-hal samar-samar yang ada di halaman-halaman Ulysses (oh… betapa segarnya dunia saat-saat terlalu banyak pengulangan-pengulangan… :roll:), agar pembaca juga merasakan kesamar-samaran yang dicobahadirkan oleh Almarhum.

TAPI, mungkinkah seorang pembaca-penerjemah (maksudnya penerjemah yang masih dalam tahap membaca, atau pada tahap sedang menerjemah) selalu mengetahui hal-hal samar-samar itu sepanjang waktu? Selain itu, yang lebih penting lagi, APAKAH INI ARTINYA SI PENERJEMAH INI HARUS MENJADI JAMES JOYCE SENDIRI?

Di sinikah ajaran WAHDATUL WUJUD menemukan bentuknya dalam dunia penerjemahan? Di sinikah meleburnya penerjemah dan penulis yang dia terjemahkan?😀 (anda boleh meringis, saya juga boleh meringis, tapi… waktu akan menunjukkan siapa yang meringis paling akhir…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s