Beberapa hari yang lalu saya akhirnya baca buku-buku dan esai-esai tentang formalisme rusia dan new criticism. Sekedar informasi saja ya, keduanya ini adalah semacam dua aliran kritik sastra dengan metode tertentu yang berkembang pada (yang formalisme rusia) sekitar tahun 1910-1920 dan (yang new criticism) sekitar tahun 1940-1960. Meskipun berkembang di ruang dan waktu yang berbeda (weissss… kayak basiiii banget bahasanya, hahaha… tapi asyik, tambah jadul tambah gaul) para eksponennya mengusung pemikiran yang bisa dibilang agak-agak serupa.

(Oh ya, biar gak dituduh menjiplak, saya bilang deh apa yang saya tuliskan ini merupakan hasil fermentasi–hahahahaha!–selama dua minggu terakhir dari berbagai sumber yang akan saya cantumkan di akhir postingan ini)

New Criticism berkembang di Amerika dan Formalisme Rusia berkembang di… ya pasti lah Rusia hehehe. Keduanya bisa dibilang sama-sama mengajak kembali ke qittah-nya kritik sastra, yaitu memberikan perhatian lebih banyak ke karya sastranya sendiri. Well, sekedar informasi, sebelumnya kritik sastra di Amerika banyak diwarnai, di antaranya, oleh keinginan-keinginan para kritikus untuk menyingkap maksud si sastrawan ketika menulis karya itu, atau dampak karya sastra terhadap pembacanya–kira-kira begitu yang bisa kita simpulkan dari tulisannya Wimsatt dan Beardsley yang terkenal (mbuletnya), The Intentional Fallacy dan The Affective Fallacy itu. Atau, kalau kita simpulkan dari versinya Cleanth Brooks di bukunya The Well Wrought Urn, khususnya pada bab 11 yang jemudul The Heresy of Paraphrase, metode kritiknya ini merupakan respons atas kritik-kritik sastra terdahulu yang banyak berorientasi memaknai pesan dari puisi dengan cara memparafrase dan menyampaikan kepada pembaca apa kira-kira maksud puisi itu sambil kurang perhatian pada elemen-elemen sastrawi yang ada di puisi itu. Terus bagaimana respons para Pengkritik Baru itu? Kalau versi Brooks, dia berasmsi bahwa kalau memang kita ingin mengkritik sebuah puisi, berarti ya tujuan kita bukan hanya menceritakan pesan puisi itu melalui parafrase saja (wah… kok kayaknya saya mengulang? tapi gak papa deh, biar gamblang), melainkan juga tetap menghadirkan segala permajasan, metafor, dsb-nya, agar para pembaca juga bisa menikmati keseluruhan isi puisi itu. Akhirnya, seperti yang bisa dilihat dari kritik-kritik Brooks atas karya-karya para master sastra dalam buku The Well Wrought Urn itu, dia banyak menyoroti ironi, paradoks, ambiguitas, dll. Tapi tentunya penyorotan elemen-elemen literer ini pada akhirnya juga bikin kita para sidang pembaca ini menikmati keindahan puisi itu dan apa yang bersemayam dalam puisi itu. Oh ya, salah satu hal penting, Brooks sebel banget kalau seorang kritik hanya mencari pesan di balik kata-kata indah puisi itu, karena bagi dia prilaku seperti itu sama dengan mereduksi sebuah puisi hanya sekedar menjadi kendaraan bagi pesan–dia banyak sekali menghadirkan dan jengkel dengan istilah “use of poetry”.

Kalau di Rusia, Formalisme ini merupakan respons (jengkel, hehehe) atas kelakuan para kritikus-kritikus sebelumnya yang banyak melakukan penelaahan karya-karya sastra untuk mencari maksud di baliknya. Misalnya untuk mencari kandungan-kandungan sejarah yang tercermin di situ, dll. Terlebih lagi, pada masa-masa pra-formalisme rusia itu, kebanyakan kritik sastra keluar biasanya dibuat oleh orang-orang yang bukan berlatar belakang sastra dan tidak memiliki mesin ukur sastra yang bisa dipertanggungjawabkan secara intelektual. Eichenbaum, dalam esainya yang sangat mencerahkan berjudul The Theory of the ”Formal Method”, menyebutkan itu sambil menyinggung-nyinggung bahwa penerbitan kritik-kritik macam itu biasanya ada di media massa. Dan lagi, kritik sastra, sebagai sebuah ”institusi” (tanpa bentuk) yang sedikit banyak menentukan baik-buruknya kualitas karya sastra itu seperti tidak punya tolok ukur yang pas. Nah, efeknya kan sastra jadi kurang ngilmu pengetahuan gitu loch! Makanya itu, para kamrad Formalis Rusia itu menyodorkan elemen-elemen bahasa yang pasti, yakni elemen literer, untuk dijadikan tolok ukur. Buat para Formalis, sisi historis karya sastra ya biar digarap para sejarawan, sisi antropologis ya biar digarap para antropolog, dan urusan para kritikus sastra adalah elemen-elemen sastra. Titik. Tul. Makanya, jangan heran kalau kebanyakan kamrad Formalis itu orang-orang Linguistik semacam bang Roman Jakobson.

Eng ing eng!!! Ingat apa hayo? Yup, Anda benar! Jadi ingat kondisi kritik-kritikan sastra di negeri tercinta ini. Ya, memang ada masanya banyak sekali kritik-kritikan sastra di koran-koran kita yang dilakukan dengan … well, you know … kurang mantrab ini. Jadi ya, wajar saja Saut Situmorang yang insya allah sangat mengagumi para Formalis Rusia dan para eksponen Kritik Baru suka berang dan menggunakan kata-kata semacam ”petualang sastra, dilettante” dan sebel dengan para kritikus yang pinternya cuman memparafrase itu. Wah-wah-wah… sejarah berulang, sejarah berulang, kacau-kacau!!!

Sebenarnya begitu saja deh. Ini cuman postingan kesan-kesan lho ya, jadi ya nggak ada pretensi untuk begitu saja merangkum dan mengakomodir semua hal penting mengenai Kritik Baru al – New Criticism dan Formalisme Rusia (amit-amit deh kalau sampai begitu!). Kalau bener-bener pingin tahu lebih banyak tentang dua aliran kritis itu, silakan cari di buku-buku tulisan mereka (inga” inga” jangan cuman mengandalkan google search dan masuk ke artikel-artikel atau esai-esai dari koran atau majalah indonesia atau blog-blog orang–termasuk blog ini :D–karena saya jamin membaca langsung buku-buku karya mereka akan lebih menyegarkan, meskipun untuk malam pertama, kedua, dan ketiga seringkali bikin pusing, hehehe… jangan kuatir, worth it, kok, dan kalau pun saat ini Anda kesasar dan membaca postingan ini, jadikanlah ini sebagai gagang pintu saja yang mengantarkan Anda sekalian ke buku-buku para ahli itu).

Hokeh, sementara begitu saja. Semua yang saya tuliskan di atas insya allah bukan pikiran murni saya, semua katanya kutipan dari kamus besar bahasa indonesia, kamus jawa, kamus bahasa inggris, dan kamus percakapan sehari-hari, dan semua idenya saya kutip dari:

1. W.K. Wimsatt dan Monroe C. Beardsley, khususnya esai berjudul “The Intentional Fallacy” dan “The Affective Fallacy”, dan kalau pingin sekalian sambil baca penerapannya dalam dengan analisis puisi, silakan cari di buku The Verbal Icon (1954).
2. Boris Eichenbaum, khususnya esai berjudul “The Theory of the ”Formal Method””, dan kalau pingin sekalian baca esai-esai formalis rusia, silakan juga baca Victor Shklovsky dan B. Tomashevsky dalam buku Russian Formalist Criticism (1965).
3. Cleanth Brooks, khususnya esai berjudul “The Heresy of Paraphrase”, dan kalau pingin baca esai itu sekaligus penerapannya dalam analisis puisi, silakan baca buku The Well Wrought Urn (1947).
4. Semua website-website yang pernah saya sasari (bisa dilihat link-link menuju website-website tersebut di http://all-reviewing.stumbleupon.com)

Btw, kalau Anda mengeluh karena di perpustakaan kampus Anda buku-buku itu tidak ada, langsung temui kepala perpusnya dan minta pesan buku-buku di atas, kalau gak mau beli baru, beli saja second😀, carinya lewat http://campusbooks.com, kalau ngotot gak mau membelikan buku-buku itu, bilang sama pak rektor, “Disuruh Si Pemimpi pesan buku-buku ini, Pak, katanya universitas punya dana untuk beli buku-buku penting, hehehehe…

Begitu dulu ya, salam manis….

One thought on “Ayo Baca Lagi Formalisme Rusia dan Kritik Baru (nanti baca lainnya juga kok :D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s