A Modern Instance: Modernnya Abad ke-19

Si hiperaktif itu, William Dean Howells nama lengkapnya, akhirnya saya masuki melalui salah satu karya terbesarnya, A Modern Instance. Dan karena saya orang yang tidak bisa menjaga mulut saya, akhirnya saya pun membocorkan hal ini kepada Anda sekalian.

Howells merupakan manusia antara, begitulah penyimpulan saya. Dari permukaan sendiri kelihatan bagaimana gaya narasi dan tema-temanya adalah antara Henry James dan Mark Twain, dua kubu yang saling menolak yang hidup di abad yang sama. Sikap kepenulisannya, dalam kaitannya dengan ekonomi, berada di antara si nggak mau duit Nataniel Hawthorne dan William Faulkner yang sudah sangat seperti penulis modern sikapnya terhadap uang. Ah, itu saja sementara yang perlu kita bahas tentang penulisnya.

Balik ke A Modern Instance, pertama-tama saya ingin menyinopsis dulu: Alkisah, Bartley Hubbard main goda-goda sama Marcia Gaylord. Marcia menerima cintanya Bartley dan sangat kesengsem dengan si Bartley. Tapi apa daya, bapaknya Marcia, Squire Gaylord, tidak menyetujui. Menurut dia Bartley yang pekerjaannya adalah editor di sebuah koran desa itu adalah orang yang kurang baik, sikap polahnya menunjukkan gejala-gejala ketidakbaikan itu. Akhirnya, karena sudah cinta sekonyong kother, Marcia minta dikawin saja, dan mereka pun nikah lari. Mereka lari ke Boston. Bartley mengadu nasib sebagai jurnalis free-lance. Gaya tulisnya banyak disukai orang, dan tak lama kemudian dia sudah mendapat posisi bagus di sebuah surat kabar. Tidak begitu lama, keadaan perekonomian si pasangan pengantin (lari) baru ini mulai meningkat. Mereka sudah mulai bisa nyewa rumah sendiri. Sayang sekali, Marcia ini tipe wanita yang sangat cemburuan, dan beberapa kali bikin Bartley tidak nyaman. Suatu kali, ketika Bartley beradu pendapat dengan bosnya di kantor, dia memutuskan untuk keluar dari korannya dan memutuskan menjadi jurnalis free-lance lagi. Dia mulai sering kekurangan duit dan hutang sana sini. Nah, di tengah-tengah keadaan kurang enak itu, sikap cemburuan Marcia suatu kali muncul. Marcia mengancam kabur, dan pergi dari rumah membawa anaknya. Dan Bartley yang tidak tahan dan sumpek itu akhirnya memutuskan untuk kabur juga. Marcia kembali ke rumah dalam keadaan sudah adem emosinya. Tapi Bartley ternyata memutuskan minggat betulan. Marcia puyeng, tapi berhasil menjalani hidup dan setia menunggu pulangnya Bartley dengan bantuan berbagai pihak. Tapi Bartley tak kunjung pulang, baru beberapa tahun kemudian datang surat tentang gugatan cerai Bartley. Dan setelah ini konflik menjadi unik….

Begitulah garis besar ceritanya. Tapi, di balik cerita itu, ada banyak sekali tema, hal-hal, dan fenomena yang bisa dikorek-korek.

Pertama kali yang menarik perhatian saya tentunya yang permukaan sekali, yaitu bahasa. Di sini saya akhirnya membuktikan sendiri bahwa dia adalah manusia antara Henry James dan Mark Twain. Pada bagian-bagian narasi, bahasanya tertata, dan seringkali juga dia menggunakan metafor yang ringan tapi unik. Bisa dibilang, ada sedikit-banyak keteraturan bahasa seperti yang kita temukan pada karya-karya Henry James. Bedanya, dia tidak benar-benar rapi bahasa secara terus-menerus seperti halnya Henry James itu. Pada bagian-bagian dialog, dia lebih memilih untuk menyajikan bahasa yang memang dipakai orang dalam percakapan, sesuai dengan dialek asal para tokohnya itu. Ketika waktunya ibunda Marcia Gaylord bicara, dia benar-benar menggunakan dialek asli daerah orang yang kurang pendidikan, grammar kacau, pilihan kata yang unik, dan cara pengucapan kata-kata tertentu yang unik. Gampangnya, alih-alih pakai “hard” seperti halnya yang dipakai orang, lidah udik ibunda Marcia itu mengucapkan “had”. Kalau buat non-native speaker bahasa Inggris, pasti pada pandangan pertama kita akan menganggap ini salah ketik, tapi…. kalau untuk londo, ya mereka pasti tahu kalau yang dimaksud adalah “hard”, yang bunyinya gak jauh-jauh (tapi beda!) dari “had”. Gaya bicara dan bunyi kata-kata disesuaikan dengan bagaimana kiranya bunyi kata-kata itu di kehidupan nyata. Pendeknya, sikap seperti ini sangat Mark Twain sekali.

Ah, lagi-lagi saya pingin membahas bagaimana novel ini juga ada di alam antara Jamesian dan Twainian. Kisahnya tentang orang-orang kelas biasa, tapi juga menikmati kehidupan orang kaya meski beberapa saat. Ketika Marcia dan Bartley sudah mulai bisa ngontrak rumah sendiri, dia tinggal di dekat keluarga Halleck yang bisa dibilang kaya dan seperti keluarga-keluarga yang diceritakan dalam novel-novelnya Henry James.

Selanjutnya, kalau kita mau lebih masyuk lagi untuk melihat yang renik-renik dari novel ini, kita akan menemukan beberapa tema layak bahas. Beberapa di antaranya adalah: ekonomi, relijiusitas, sensasionalisme media, dll.

Dalam perihal ekonomi, kita bisa menyaksikan mulai bangkitnya kapitalisme di Amerika. Sebuah esay karya Ben Graydon menyoroti gaya Bartley yang menyebut birnya bukan lagi “bir”, tapi langsung merknya, yaitu “Tivoli”. Ketika orang-orang lain masih menyebutnya sebagai “bir Tivoli”, Bartley sudah menunjukkan “fanatisme” merk. Pada masa itu (oh ya, William Dean Howells nulis novel ini tahun 1881) pengidentifikasian merk menjadi sebuah tren baru, seiring mulai kuatnya persaingan antar perusahaan di negara yang baru kapitalis itu.

Nah, kalo soal relijiusitas, banyak sekali sebenarnya yang bisa dibahas. Paling gampangnya kita mulai saja dari tokoh-tokoh utama novel ini. Bartley Hubbard adalah seorang anak yatim piatu yang mendapat pendidikan agama standar dan ketika sudah dewasa tidak punya keterikatan dengan sebuah gereja tertentu. Hal ini cocok sekali karena di Equity, nama kota kecil tempat asal Marcia dan Bartley, toleransi sangatlah besar. Bartley bisa pindah-pindah gereja setiap minggunya, ke manapun dia suka. Sementara Marcia, dia sendiri berasal dari keluarga yang longgar dalam urusan agama. Bapaknya tidak ke gereja dan ibunya yang pasrah bongkokan sama bapaknya itu pada akhirnya memutuskan untuk tidak ke gereja juga. Oh ya, Myrtle M. Duffy menyingkap bahwa tokoh Squire Gaylord dan istrinya adalah diambil dari pribadi Mark Twain (atau aslinya Samuel Clemens) dan istrinya. Dia melihat itu dari kesamaan bahasa yang digunakan Howells untuk novel ini dengan bahasa yang dia pakai dalam bukunya yang membahas hubungannya dengan Mark Twain (judulnya My Mark Twain). Diskusi tentang relijiusitas bisa juga kita lihat dari bagian ketika, karena melihat keluarga Halleck yang harmonis, Marcia menginginkan sebuah kehidupan tenteram dalam lingkupan agama dan memutuskan bahwa anaknya harus dibaptis, biar tidak sama dengan dia dan suaminya yang tidak pernah dibaptis. Dan ketika dia dihadapkan pada persimpangan di mana dia harus memilih gereja untuk dia dan anaknya kelak, dia memilih gerejanya keluarga Halleck karena mereka adalan orang-orang yang baik. Howells terasa memiliki tendensi menghubungkan agama dengan moralitas sosial seseorang. Dia juga menunjukkan bagaimana seorang pendeta yang menikahkan Bartley dan Marcia tidak segera membereskan pernikahan mereka karena ada yang belum lengkap, dan ternyata ketidaklengkapan itu adalah karena si Bartley belum membayar sepeser pun kepada dia. Silakan digali lebih lanjut kalau ingin menyeriusi bagian ini.

Terakhir, yang bisa dibahas adalah tentang sensasionalisme media yang dijadikan sorotan. Saat berargumen (wiyyuuuh), Howells dengan A Modern Instance-nya ini mampu meramalkan kapitalisasi media massa dan sekaligus meramalkan kekuataan media massa sebaagi tenaga penggerak aktif. Wah…. abstrak sekali. Tunggu lah, kalau suatu saat ketemu tulisan yang semacam itu, ya mungkin itu punya saya, :D. Dalam novel ini, Bartley sempat bekerja serius di sebuah surat kabar yang memfokuskan diri pada berita-berita kriminal dan sensasional sekaligus juga berita-berita investigasi. Mungkin hal ini tampak biasa-biasa saja kalau dilihat dari kacamata hari ini. Tapi, sesungguhnya ini adalah sesuatu yang ternyata tidak lazim untuk masa itu. Menurut sejarah media sendiri, “jurnalisme kuning” baru berkembang dan meledak pada tahun 1890-an, ketika Pulitzer berhasil mengembangkan korannya dan Hearst, terinspirasi Pulitzer, mengembangkan korannya dengan gaya yang serupa dan berhasil membawa “koran kuning” menjadi sesuatu yang layak dijadikan bisnis :D. Bahkan, saking kebangetannya koran kuning dalam hal mengobarkan emosi warga, tersulutlah perang AS-Spanyol. Di dalam novel ini, Bartley berjuang mati-matian mengembangkan sebuah koran gosip dan kriminal yang pada akhirnya membuat …. (hmmm, saya rahasiakan ah, daripada dari Anda marah ke saya :D).

Akhirul resensi, begitu saja ya… Silakan menikmati kalau memang tertarik setelah mencicipi sampel yang saya berikan. Oh ya, banyak sekali kalimat layak kutip di novel ini….

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s