Lebaran kami di Fayetteville tidak hanya berhenti pada sholat Ied dan halal-bihalal saja. Pada hari Sabtu-nya, masjid kami mengadakan acara “perayaan”. Saat itulah saya sadar, meskipun takbir di sini tak semegah takbir di Indonesia, umat Islam ternyata selalu menyambut Idul Fitri dengan kegembiraan. Yang disebut “perayaan” di sini sungguh perayaan. Kalau dicari padanannya, mungkin perayaan kami ini serupa dengan perayaan HUT Kemerdekaan 17 Agustus itu. Semua elemen 17-an ada di sini: lomba, hadiah, sorak-sorai!

Kami memulai acara dengan sholat maghrib berjamaah. Menurut jadwal, setelah itu kami akan langsung mulai dengan acara makan-makan. Namun, saat itu kami harus menunggu para brother memasak. Sementara menunggu, kami berbincang-bincang dengan para brother tentang apa saja. Saya selalu senang dengan acara ngobrol-ngobrol di masjid, karena pada saat itu saya bisa mendengar beberapa bahasa diucapkan pada saat yang bersamaan, mulai dari bahasa Arab, Inggris, Indonesia, Jawa, Aceh, bahasa Inggris berlogat melayu, bahasa Inggris dengan logat Arab, dsb. Nah, dalam suasana seperti ini biasanya saya bisa kelepasan ngomong bahasa Indonesia. Bagaimana tidak kelepasan kalau setelah ngobrol dengan teman-teman Indonesia tiba-tiba harus menghadapi brother lain dengan bahasa Inggris. Suatu kali, ketika berdikusi dengan teman-teman ada seorang brother mengantarkan teh. Dengan saya polos saya jawab, “Terima kasih, ya, gimana kabarnya?” Dan dia pun meringis bingung dan bilang, “What did you say?”.

Selanjutnya, seorang brother berdiri di depan mimbar dan berinisiatif memulai acara bagi-bagi hadiah untuk anak-anak. Kalau ini sungguh bagi-bagi hadiah, tanpa embel-embel apapun. Saya tidak tahu apakah ini bisa diserupakan dengan pemberian hadiah Natal yang biasanya ada pada anak-anak Amerika, tapi yang jelas bagian ini benar-benar membuat anak-anak bahagia. Masing-masing mendapat sebuah kantong kertas yang berisi permen, kue, dan mainan.

Tak lama kemudian makanan pun siap. Seperti menu buka puasa kami di masjid ini (oh ya, perlu saya kasih tahu bahwa masjid di sini menyediakan buka bersama gratis selama sebulan penuh, yang tentunya sangat dinantikan anak-anak kos), kali ini yang mendominasi tetap makanan Timur Tengah, dengan nasi biryani (yakni nasi yang dimasak dengan bumbu dan biasanya disertai dengan daging kambing atau ayam), salad, dan hidangan penutup khas Amerika semacam pudding, es krim, dll. Eh, jangan lupa, ada juga korma dan teh gaya Arab yang aromanya seperti permen itu. Sementara itu, saya bertanya-tanya dalam hati lomba macam apa yang akan diadakan?

Sebenarnya, ada yang ingin saya soroti di balik lomba ini, yaitu betapa termanfaatkannya teknologi saat itu.

Para brother dibagi ke dalam tiga kelompok. Sedangkan para sister, yang ada di lantai 2, dibagi dalam dua kelompok. Mereka bisa melihat kami yang ada di lantai bawah tapi kami tidak bisa melihat mereka karena karena terhalang kaca. Untuk komunikasinya, kami menggunakan mikrofon nirkabel.

Nah, lombanya sendiri ternyata unik: sebuah kuis semacam cerdas cermat. Dan kuis itu sendiri terdiri dari 1. Pengetahuan umum, 2. Matematika dan Logika, dan 3. Pengetahuan Agama. Kuis kedua sungguh di luar perkiraan saya—mana mungkin saya berharap ada kuis matematika dan logika di masjid.

Di kuis inilah panitia menggunakan teknologi sekali lagi untuk memaksimalkan acara sederhana kami ini. Bisa dibilang, kuis kami menyerupai kuis di televisi. Ada laptop yang disorotkan ke tembok sehingga seolah-olah kami punya tivi berlayar super besar. Dan setiap jika kita memilih jawaban maka operator laptop akan mengklik jawaban itu dan muncul gambar yang menunjukkan apakah kita benar atau salah. Oh ya, aplikasi yang digunakan pun sebenarnya sederhana, yakni power point yang dirancang sedemikian rupa sehingga bisa seperti sebuah game. Dengan LCD Projector dan laptop, kami bisa membuat kuis sekelas televisi. Sayang, karena rendahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, LCD Projector di negara kita memang serasa di awang-awang. Dan tentu saja tidak banyak masjid yang punya.

Pada awal lomba, ketika mikrofon nirkabel tidak bekerja, dan jarak yang terlalu jauh tidak memungkinkan kami mendengar suara para sister saat memberikan jawaban pertanyaan, teknologi pun sekali lagi dipakai. Ada seorang brother yang punya anak perempuan di atas. Jadi jawaban dari lantai 2 pun “dititipkan” lewat brother ini melalui telepon genggam. Karena di sini perbincangan antara telepon genggam sesama operator tidak dipungut biaya, maka selama sekitar setengah jam ketika mikrofon rewel si brother ini terus bertelepon, mejadi kurir jawaban.

Dari lomba ini, ketahuan sekali bagaimana kelompok yang anggotanya didominasi para brother dari India, Pakistan, dan Bangladesh menunjukkan keunggulannya dalam bidang ilmu matematika dan logika. Secara internasional negara-negara ini memang diakui kehandalannya dalam bidang ilmu pasti, dan kebanyakan mahasiswa dari ketiga negara itu memang belajar eksakta di universitas kami. Sementara kelompok saya, yang anggotanya didominasi orang Indonesia dan sedikit dari negara lain, sangat beruntung dalam bidang kuis agama. Mungkin karena di kelompok ini ada imam kami, seorang hafidz (penghafal Alquran) berusia 25-an asal Uni Emirat Arab. Pantas saja, kan?

Terlihat sekali malam itu masjid berubah menjadi gegap gempita. Setiap kali berhasil menjawab pertanyaan sulit, semua orang langsung gegap gempita. Bahkan, beberapa orang yang pada hari-hari biasanya terlihat sangat bijak bisa berubah menjadi kekanak-kanakan saking gembiranya. Dan suasana tambah ramai ketika pada akhirnya kelompok kami memenangkan lomba.

Semua orang terlihat ceria saat keluar dari masjid, sepeti pulang lomba 17-an. Jadi ya, jangan salahkan saya kalau saya menyebut malam itu sebagai perayaan HUT Kemerdekaan 1 Syawal 1429 H.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s