Mungkin Anda mengira takbir lebaran di Indonesia ini biasa saja, saya dulu juga beranggapan begitu. Saya baru sadar betapa dahsyatnya takbir yang iramanya made in Indonesia itu. Sungguh dahsyat. Itu saya sadari beberapa hari yang lalu, saat merayakan Idul Fitri pertama saya di Fayetteville, sebuah kota kecil di negara bagian Arkansas, AS.

Memang kota ini letaknya di Amerika, tapi yang merayakan Idul Fitri di sini sebagian besar dari luar Amerika baik yang sekolah, bekerja, maupun yang sudah mendapatkan kewarganegaraan AS. Orang yang melihat sekilas pasti akan mengira kami semua orang Arab. Memang, porsi orang Arab atau berwajah Arab cukup banyak. Padahal banyak juga yang berasal dari kawasan lain, misalnya Asia Tenggara (beberapa belas mahasiswa dan pekerja asal Indonesia dan Malaysia), Asia Selatan (peneliti dan mahasiswa India, Pakistan, Bangladesh), Afrika (Mesir, Maroko, Ethiopia, dll), Eropa (Rusia, Albania, Turki, dll). Sementara ini saya belum ketemu perwakilan kotingen Australia di masjid kami.

Yang pertama kali perlu dievaluasi dari Idul Fitri di Amerika adalah takbirnya. Kami tiba di masjid Islamic Center of Northwest Arkansas (presiden masjidnya orang Indonesia lho) tepat pada pukul 8.30, sesuai jadwal””maaf kami melanggar tradisi “jam karet” kesayangan kita karena tuntutan skenario. Di dalam masjid, saya disambut takbir yang di luar pengharapan Indonesiawi saya. Tidak ada irama takbir Indonesiawi yang biasanya penuh semangat dan mencerminkan kemenangan kita atas hawa nafsu. Nada takbir yang bagi saya terlalu datar itu, maaf, “kurang memuaskan” selera Indonesiawi saya dan teman-teman. Untunglah, di antara orang Indonesia di sini ada Erizar, seorang mahasiswa asal Aceh, yang berani maju ke depan untuk ikut memimpin takbir menemani seorang “brother” dari Yordania””oh ya, para muslim di sini memanggil muslimin lain “brother” dan memanggil muslimah “sister” . Erizar sempat beberapa kali memimpin takbir dengan irama khas Indonesia. Namun sebagian besar jamaah tidak bisa mengikuti iramanya dan hanya terperangah. Saya yakin mereka takjub dengan “lagu” dan suaranya. Sepertinya di situlah saya merasakan kekuatan Idul Fitri khas Indonesia.

Nah, setelah takbir, ada lagi yang menarik: pelukan. Setelah kotbah Idul Fitri dan pidato singkat dari para brother Muslim di kota tetangga yang memohon dukungan dalam pendirian masjid daripada harus sewa tempat dan berpindah-pindah untuk sholat Jumat, tibalah acara “halal-bihalal” yang tetap dilaksanakan di bagian inti masjid.

Saya cukup kaget waktu melihat para brother dari Timur Tengah langsung saling memeluk dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa Arab””yang jelas ada “Eid Mubarak” dalam kata-kata itu. Saya ingat Presiden Habibie dulu yang suka menyambut tamu dengan pelukan. Ada sekelompok brother yang tampaknya dari satu keluarga besar bahkan saling menyentuhkan pipi dan berdecak-decak kira-kira tiga kali. Saat melihatnya, saya mendapatkan kesan keintiman, persaudaraan, dan kasih yang amat kuat di sana. Saya menoleh ke teman Indonesia saya yang tak seberapa jauh terpisah dari saya. Dia tersenyum. Dan saya melihat teman-teman Indonesia yang lain meringis pula menyaksikan semua itu.

Begitu berdiri, saya langsung berhadapan dengan seorang teman mahasiswa asal Yordania, dan langsung bersalaman dan dia memeluk saya. Sebagai orang desa””yang bahkan memeluk ayah saya saja tidak pernah””saya merasa canggung. Tapi demi menghormati kebiasaan teman saya, saya pun melakukannya dengan “selepas” mungkin. Ternyata, kalau dirasa-rasakan, muncul rasa haru di sana. Saya yang baru dua bulan di Amerika ini langsung merasakan sebuah melankolia: kami ini adalah sekelompok kecil orang yang berbeda dengan kebanyakan orang di luar sana. Kemudian, saat bertemu teman-teman Indonesia di sudut masjid yang lain, kami langsung bersalaman dengan jabat erat dan juga saling memeluk. Jujur saja, saat pertama kali melakukan pelukan dengan teman seakar ini ada semacam keinginan untuk bermain-main, mencoba-coba meniru tradisi para muslim lain. Ternyata, agak lama kemudian semuanya terasa seperti sebuah tindakan yang wajar dan bahkan terasa keharuannya. Kamu pun bermaaf-maafan dengan saling peluk persis seperti para brother lain: pertama peluk kiri, terus peluk kanan, terus peluk kiri lagi. Minimal tiga kali! Hehehe…

Nah, lucunya adalah ketika dalam salah satu sesi pelukan itu saya mendengar seorang brother dari Uni Emirat Arab mengucapkan “selamat hari raya” (dalam bahasa Indonesia) sambil meringis riang. Ternyata dia mempelajarinya dari seorang brother asal Arab Saudi yang menikah dengan muslimah Indonesia. Terus juga dia tertawa riang””semoga bukan tertawa geli””waktu mendengar bahwa kami suka mengucapkan “minal aidin wal faidin” . Baru kali itulah saya tersadar bahwa kita suka mengucapkan “minal aidin wal faidin” sepaket dengan “mohon maaf lahir batin” . Bahkan, saya pernah mengira arti “minal aidin” adalah “mohon maaf lahir dan batin.” Padahal arti harfiahnya sendiri konon adalah “orang yang kembali (ke fitrah) dan orang yang menang” .

Begitulah kemenangan Idul Fitri di negeri orang seperti ini. Di sinilah baru terasa bahwa sungguh layak bersyukur kita yang di Indonesia bisa menikmati Idul Fitri dengan leluasa, dengan libur nasional, cuti bersama, dan bahkan beberapa orang (tolong jangan ditiru!) bisa bolos kerja.

Keluar dari masjid, terasa lagi bahwa dunia luar tidak tahu betapa kami sedang berbahagia. Yang jelas, waktu naik bis kembali ke kampus, orang-orang terlihat biasa saja saat melihat saya dan teman-teman yang masuk bis dengan memakai baju batik, baju koko, baju kurung, kopyah, dan lain-lain. Sebagian dari kami bahkan langsung bersiap-siap masuk sekolah, dan sebagian yang lain berhalal bihalal di rumah Bang Saiful dan Kak Dian, pasangan kawan asal Aceh yang bersuka hati memasakkan opor plus sambal Aceh buat kami biar bisa merasakan cuilan Idul Fitri di Indonesia.

Akhirul kolom, saya ingin menyampaikan mohon maaf lahir dan batin agar kita semua bisa berminal aidin wal faidzin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s