Halo-halo,

Akhirnya datang pula kesempatan untuk berbagi mimpi-mimpi soal terjemahan. Sekali lagi saya minta maap karena kali ini bukan berbagi catatan sehabis nerjemah. Memang sih saya sendiri tidak sedang menerjemah satu karya secara spesifik ke bahasa Indonesia. Sesekali saja saya menerjemah puisi-puisi yang menurut saya asyik untuk diterjemahkan (terutama puisi-puisi yang pendek). Tapi saya nerjemah ke bahasa Inggris lho, cobak deh mampir ke sini dan kasih-kasih saran atau apa gitu lah di sini http://comp.uark.edu/~wyuliant.

Nah, sekarang, masih terkait sama penerjemahan, saya ingin berbagi sedikit ilmu terjemahan yang dikasih Prof. John DuVal lewat Translation Workshop yang saya ambil semester ini. Memang sih saran-saran ini dikasihkan Prof. DuVal dalam workshop penerjemahan sastra ke bahasa Inggris dari bahasa-bahasa lain, tapi saya yakin seratus persen bahwa semua ini universal.

Pertama, hindari penggunaan kata-kata “fungsional”, karena akan mengurangi energi bahasa. Kata-kata fungsional yang dimaksud di sini antara lain adalah seperti “yang” atau preposisi atau kata bantu, dll. Sebenarnya saya sudah merasakan hal ini sejak dulu. Saya pernah membaca terjemahan seorang penerjemah yang sangat pandai (tidak usah sebut nama deh). Bahasanya sangat jelas. Tapi saya merasa kurang sreg karena bahasanya yang sangat gamblang itu dicapai dengan penggunaan banyak preposisi dan kata-kata fungsional. Waktu itu saya tidak bisa apa yang gak enak. Ternyata, sekarang saya tahu bahwa ya! bahasanya terasa kurang kuat. Untuk itulah, Prof. DuVal menyarankan:

Kedua, menjaga agar kalimat yang kita pakai tetap padat dan colloquial, atau seperti perbincangan nyata sehari-hari. Nah, di sinilah beratnya, kita harus menemukan ungkapan-ungkapan yang bisa mencakup kepadatan sekaligus kekoloquialan.

Ketiga, terkait penggunaan tanda baca, Prof. DuVal menyatakan sesuatu yang, lagi-lagi pernah saya jadikan pegangan (entah dari mana saya dapat pegangan itu, yg jelas saya mulai berusaha menerapkannya sejak beberapa buku yang lalu), yaitu: agar kita menggunakan tanda baca itu sebagai panduan untuk memahami arti kalimat dalam bahasa asli, tapi jangan sampai bahasa terjemahan kita menjadi kaku karena kita masih terpaku pada tanda baca bahasa asli. Ya, ini penting, jangan sampai terjemahan kita (terutama terjemahan Indonesia) terlalu menggunakan struktur penandabacaan bahasa Inggris.

Sementara, begitulah kiranya saran-saran dari Prof. DuVal. Semoga saja ini bermanfaat bagi saya sendiri, dan syukur-syukur kalo ada gunanya buat penerjemah lain.

One thought on “Oleh-oleh dari Kelas Translation Workshop No. 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s