Sajian mata kuliah yang sangat luwes di universitas-universitas Amerika Serikat (setidaknya yang jurusan sastra) memungkinkan satu dua hal yang sejauh ini cukup bikin saya ngiler. Satu dua hal yang saya maksud itu adalah mendatangkan penulis kreatif, novelis atau penyair (atau bahkan penerjemah, yang btw-btw dalam beberapa persen bisa digolongkan sebagai penulis kreatif) untuk mendosen selama beberapa semester atau tahun.

Dalam kesempatan ini, saya hanya pingin menunjukkan tiga hal saja terkait ini.

Ya, pernah saya bahas di posting saya yang ini, Vladimir Nabokov pernah diundang ke Cornell and Wellesley selama tahun 1941-1958 untuk menularkan kegandruangan sastranya dengan mengajar close reading atas karya Flaubert dan lain-lain. Untuk lebih jauh tentang hal ini bisa diintip di buku Lectures on Literature.

Atau, lebih jauh ke jaman agak dwulu sekali adalah ketika Henry James pada semester musim semi tahun 1905 didatangkan ke Smith College untuk menunjukkan hasil pembacaannya atas Honore de Balzac. Menarik. Tapi ya, kalau Henry James yang didatangkan untuk urusan apresiasi dan kritik sastra sih sangat wajar, lha wong dia sendiri memang selain menggarap sastra yang jumlahnya berlimpah, juga menulis kritik sastra serius ada sejumlah karya Perancis dan Amerika (Balzac dan Hawthorne adalah salah dua sasaran kritiknya yang tetap diacu sampai sekarang). Bahkan, kumpulan pengantar untuk New York Edition karya-karyanya, yang kemudian dikumpulkan dalam The Art of the Novel itu kan tetap diacu banyak orang dan diakui sebagai salah satu buku wajib baca kalo pingin tahu tentang momen penting dalam sastra Amerika abad ke-19.

Terus, dalam kesempatan yang lumayan berbeda, ada juga Jorge Luis Borges yang didatangkan di jurusan Creative Writingnya Columbia University selama beberapa saat untuk berbagi tentang proses kreatifnya sebagai prosais dan penyair. Selain itu, juga hadir bersama Borges, ada Norman Thomas di Giovanni yang membahas pandangan-pandangannya sebagai penerjemah karya-karya Borges.

Atau, yang kurang banyak didengar (karena belum dibukukan), adalah Harry Aveling (yang—meskipun semua orang sudah tahu, tetap pingin saya perkenalkan di sini :D—seorang pak dosen yang juga penerjemah karya-karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris yang pernah diundang sebagai penerjemah tamu di program Creative Writing-Literary Translation Univesity of Arkansas, Fayetteville (ehem-ehem :D) beberapa tahun berselang.

Hmm… kalau orang-orang yang bergairah seperti ini didatangkan untuk menunjukkan bagaimana mereka memaknai karya-karya sastra yang mereka senangi atau menunjukkan bagaimana mereka bekerja penuh suka cita dalam sastra, sangat mungkin sekali energi kreatif mereka sebagai pembaca maupun pengkarya bisa menular kepada para mahasiswa yang kelak menjadi ujung tombak bangsa, halah! Sayang sekali kalau hanya mahasiswa UNESA yang berkesempatan diajar Budi Darma, atau mahasiswa UI yang diajar Sapardi Djoko Damono, atau mahasiswa Universitas Sanata Darma yang pernah dikuliahtamui Saut Situmorang selama satu semester kalo nggak salah. Semoga segera tambah banyak inisiatif-inisiatif serupa yang semakin memberikan tularan suka baca sastra kepada para mahasiswa.

P.S. Kayaknya bisa dibuat makalah berjudul “Korelasi antara Posting Blog dengan Impian tak Tersampai: Sebuah Studi Psikoanalisis”😛. Ada yang mau nulis makalah semacam itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s