Nah, tibalah kali ini ke bagian Translation-nya buku Borges on Writing (bang HAH, sori lho ya, bagian Poetrynya nanti dulu, saya harus hati-hatiiiii sekali bacanya :D). Menurut saya, bagian ini sangat penting sekali untuk diketahui baik oleh para profesor sastra, profesor terjemahan, pembelajar terjemahan, maupun mereka yang bermimpi jadi penerjemah dan penulis sastra yang baik😀.

Di sini, yang mendominasi pembicaraan bukan hanya Borges, tapi juga Norman Thomas di Giovanni, yang sekali lagi saya ingatkan merupakan penerjemah “resmi” karya-karya Borges pada masa akhir hidup panjenenganipun itu. Pertama-tama, perlu saya beritahukan (dengan segala kerendahan hati) bahwa proses penerjemahan karya-karya Borges ini unik, karena dilakukan dengan kolaborasi antara seorang penerjemah dan si penulisnya.

Oke, langsung saja kita menuju ke di Giovanni (d-nya sengaja huruf kecil lho ya?). Giovanni memandang penerjemahan dengan sikap yang bisa dibilang fundamentalis (:D). Baginya, penerjemahan (dalam hal ini penerjemahan sastra) adalah sebuah proses yang lebih berpihak pada si pembuat teks asli. Menurut saya, sikap di Giovanni ini sedikit banyak mewanti-wanti seorang penerjemah agar sekali-kali tidak menganggap hasil terjemahannya terlalu mulia (dibandingkan buku aslinya lho maksudnya :D). Lebih jauh lagi, di Giovanni dengan tegas menyatakan dia adalah penerjemah yang lebih berpihak pada makna (di sini yang dimaksud makna adalah apa yang dimaksud oleh si penulis pada saat menuliskannya). Nah, kelihatan sekali di sini betapa dia sangat memegang erat makna sebagai sesuatu yang suci, yang (setidaknya buat tidak) tidak boleh diuthik-uthik. Tidak ada istilah “penerjemahan” adalah proses interpretasi yang dilakukan murni oleh si penulis sendiri. Jadi, di sini di Giovanni dengan tegas memisahkan antara seorang penafsir dan penerjemah. Kita bisa bilang bahwa di Giovanni lebih memilih menyatukan dirinya dengan si penulis.

Apakah di Giovanni terkesan sebagai orang yang kaku? Bisa saja. Tapi, dia juga memaklumkan bahwa dirinya benar-benar beruntung karena dia bisa berdialog terus-menerus dengan penulis yang karyanya dia terjemahkan. Dan dia memaklumi bahwa sebagian besar penerjemah tidak seberuntung dia (lha gimana lagi… lha wong yang diterjemahkan biasanya malah sudah meninggal pada jaman kakek-nenek kita masih remaja je….).

Oke, kembali ke pandangan penerjemahan di Giovanni, sikapnya yang seperti ini membuat dia memperhatikan frase-demi-frase yang harus dia terjemahkan. Lihatlah bagaimana dia menghabiskan hari-harinya bersama Borges di Argentine National Library untuk berdiskusi. Lihatlah sejenak tahap-tahap penerjemahan di Giovanni yang saya parafrasesecarakasarkan terkhusus buat Anda sekalian:

1. dia (sendirian) membuat draf kasar terjemahan dengan tulisan tangan,
2. dia diskusikan hasilnya dengan Borges dan pada saat ini mereka berdua melakukan revisi atau Borges malah menyarankan perombakan karena ada terjemahan yang menurutnya berbeda (meskipun tipis) dengan yang dia maksudkan, atau bahkan dia meminta Borges mengkonfirmasi pemahamannya atas istilah-istilah tertentu, dan di sini pula dia berusaha membuat kalimat yang sounds English (yang mana menurutnya dia tidak hanya butuh pemahaman atas teks yang bersangkutan, tapi juga niat Borges), … oh ya, dia juga merekam sesi ini.
3. dia bekerja sendiri (dengan dibantu hasil rekaman dan anotasi-anotasi yang dia buat di draf kasarnya tadi) untuk memaksimalkan kalimat-kalimat itu agar benar-benar jadi kalimat bahasa Inggris (yang tentu saja sastra), dan kalaupun dia sesekali masih mengintip teks aslinya, itu karena dia ingin memastikan “ritme dan penekanan”nya.

Hehehe… gimana? Gila nggak? Bayangkan kalau penerjemah sastra Indonesia melakukan itu? Pasti sangat sedikit buku terjemahan yang terbit, hehehe… tapi ya… hasilnya bagus-bagus pastinya😀.

Tapi, dari sikap di Giovanni yang fanatik makna itu, Borges juga akhirnya kena batunya. Begini ceritanya: saking hati-hatinya dengan makna, di Giovanni benar-benar menthelengi teks maupun segala yang ada di belakang teks, misalnya latar belakang sosial dan sejarah yang mendukung keabsahan teks itu. Nah, pada saat inilah Borges kena batunya. Di Giovanni menunjukkan sejumlah kekurangvalidan “data-data” yang ada dalam karya-karya Borges (misalnya salah ambil kutipan dari “Through-the Looking Glass” yang diambil Borges untuk “The Circular Ruins”. Sampai-sampai dia berani bilang “In the Spanish-language editions of Borges” work nothing can be taken for granted”. Saya bayangkan Borges cengengesan waktu di Giovanni bilang itu. Selanjutnya dia juga buktikan bahwa Borges juga bikin kesalahan-kesalahan dalam sejumlah fakta historis.

Namun, ada yang agak gimanaaaa gitu (untuk menghindari pakai istilah “ambivalen” terlalu sering, halah… keceplosan, keluar lagi deh kata itu :D) dalam sikap kepenerjemahanan di Giovanni. Yakni ketika dia ceritakan tentang bagaimana dia sangat perhatian dengan kualitas sastra sebuah tulisan hingga ketika dia menerjemahkan karya Roberto Arlt (nggak tahu kan siapa dia? saya sendiri juga ndak tahu kok, hehehe…), dia menganggap cerita Arlt itu tidak akan layak diterbitkan andaikan dia menerjemahkannya dengan apa adanya. Dia sampai curiga dan tanya ke anaknya Arlt yang kemudian memberitahu bahwa bapaknya seringkali “sloppy” kalau lagi nulis. Hehehe… Ini dia, penerjemah kok pingin ngedit karya yang dia terjemahkan. Tapi, dia sendiri pernah kecolongan, ada kesalahan dalam karya Borges yang tidak di Giovanni ketahui dan baru diketahui kelak setelah ada seorang editor The New Yorker yang mempertanyakan, akhirnya baik Borges maupun di Giovanni mengedit hasil kerja masing-masing. Di sini sekali lagi tampak hebatnya Borges, yang menganggap tulisannya bukan sebagai sesuatu yang tidak bisa diedit meskipun sudah berulang kali cetak ulang. Aduuuuh…. betapa rendah hati dan tidakmempertuhankandirinyanya… Dengan kata lain, sungguh “supel” karya-karyanya.😀

Akhirul resensi, saya pingin sedikit mbahas soal sikap Borges dan di Giovanni yang agak bertentangan tentang idealnya bahasa hasil terjemahan. Bagi Borges, karya yang aslinya adalah bahasa Spanyol slang abad ke-19 paling pas kalo diterjemahkan menjadi bahasa Inggris abad ke-19 yang polosan. Sementara, di Giovanni menganggap karya yang semacam itu akan lebih enak kalo diterjemahkan menjadi bahasa Inggris slang lingkungan “hoodlum”, atawa ganster, Amerika pada jaman yang sama. Bagi Borges, meskipun sama-sama slang, rasanya pasti beda. Terasa di sini, masing-masing punya sejumlah perbedaan pandangan, tapi kesamaan tujuan (yakni mempersembahkan hasil terjemahan yang bagus) telah mempersatukan mereka.

Oke, untuk bonus track, saya kutipkan di sini sejumlah kalimat di Giovanni yang layak diketahui:

“Now, on another plane, the worst fault in translation is not getting a word wrong but getting the author”s tone, or voice, wrong.”

“I sometimes liken our work, when we make our own new translations, to cleaning a painting.” (terkait dengan karya-karya Borges yang dulunya pernah diterjemahkan orang lain dan Borges sendiri kurang puas, btw, Hasif Amini dan Arif B. Prasetyo dulu nerjemah Borges dari terjemahannya siapa ya? :D)

“You see (tentang terjemahan yang kabur), the translator puts the reader in some dim no-mans”s-land, when what Borges is saying couldn”t be clearer. […] They equated being deep with being obscure, and they also associated Borges with dreams and a dreamlike, or vague, prose.”

Post resensitum: kayaknya saya sendiri yang paling kena batunya kali ini😀. Doeng!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s