All right!!! Inilah saatnya. Terucap terima kasih kepada Toko Buku Bekas Dickson Str Used and Out of Print Bookstore, saya mendapatkan sebuah buku yang sangat asyik, BORGES ON WRITING.

Buku ini adalah semacam penjelas estetika Borges (eh, bacanya ”borhes” lho ya, ini sumbernya valid, :D) yang diambil dari seminar panel yang menampilkan Borges (si penulis), di Giovanni (penerjemah “resmi” karya-karya borges ke dalam bahasa inggris), Macshane, dan dipartisipasi-i mahasiswa Columbia University, Amrik.

Buku ini dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu Prose, Poetry, dan Translation.

Pada bagian prose–sepertinya posting ini hanya akan membahas bagian prose saja–diskusi diawali dengan penggeberan karya yang paling Borges sukai,yakni “The End of the Duel”. Diskusi berjalan dengan gaya “pemberian testimoni penulis atas tulisannya”. Jadi, Di Giovanni membacakan karya yang tersebut (karena dia yakin Borges sudah agak lama tidak membaca karya itu dan dia perlu disegarkan). Setiap satu atau dua kalimat, ketika dirasa perlu, Borges menyela untuk memberikan penjelasan ini itu seputar hal-hal yang melatarbelakangi satu-dua kalimat tersebut.

Dari gaya semacam itulah, kita jadi tahu kalau:

1) Borges sangat perhatian sekali dengan hal-hal yang terkait dengan kelogisan ceritanya, bahkan yang sifatnya sangat renik, seperti misalnya apakah pantas tokonya diberi nama ini atau itu mengingat tokohnya adalah keturunan Brazil, atau keturunan Irlandia campur Uruguay, dst…

Kelogisan memang akan selalu mewarnai karya-karya Borges, meskipun…

2) Borges suka memberikan elemen keragu-raguan dalam karya-karyanya, dengan misalnya kalimat “yang saya ceritakan dengan cukup banyak keraguan, karena kelupaan dan ingatan membuat kita suka mengarang-ngarang” (kira-kira begitulah terjemahan super bebas dari saya :D). Dengan begini, pembaca dibikin semacam agak ragu-ragu. Dan Di Giovanni mengomentari ini sebagai salah satu trademarknya Borges (dan Borges mengamininya).

3) ternyata ternyata banyak dari cerita Borges itu berasal dari anekdot yang dia dengar dari sana sini. Tapi, untuk jadi sebuah cerita yang Borgesian, anekdot-anekdot tersebut harus dia simpan cukup lama di ingatannya. Kalau istilah kita mungkin mengalami proses “pengendapan”. Borges juga suka mencerita-ceritakan anekdot itu ke teman-temannya (sampai mereka bosan).

4) Borges memanipulasi anekdot itu dengan memberikan detil di sana sini agak tampak seperti cerita yang benar-benar terjadi, seperti laporan pandangan mata (nah, kalo ini, sebenarnya kita bisa menemukan cikal bakalnya dalam buku “The Universal History of Infamy” (atau terjemahan Indonesianya yang digarap Arif B. Prasetyo berjudul “Sejarah Aib”). Sedikit banyak, kita mungkin akan menghubung-hubungkan dengan jurnalisme sastrawi, yang selain menyajikan informasi beritawi, juga memberikan “suasana” dengan memberikan informasi yang merangsang inderawi seperti cuaca, kebisingan, isi hati, dll. Di sini, kita tahu bahwa anekdot yang diceritakan temannya (Reyles) itu tidak terlalu panjang, tapi Borges menambah-nambahinya di sana-sini agar tampak lebih nyata, dan ceritawi.

5) Borges mengawali cerpen-cerpennya yang semacam ini dengan semacam percakapannya dengan teman yang memberikan cerita itu dengan harapan hal itu akan membuat ceritanya tampak lebih nyata. Tapi ya… kalau dipikir-pikir benar juga, daripada mengajak pembaca langsung terjun ke dalam kisah yang aga ganjil, yang mana berpotensi akan membuat pembaca menganggap cerita itu hanya karangan saja, cara yang dipakai Borges lumayan manjur untuk membuat pembaca secara tanpa sadar menganggap cerita itu benar-benar cerita yang dituturkan orang lain kepada si aku yang kita asosiasikan dengan Borges sendiri.

Selain kelimat poin yang secara langsung terkait dengan “The End of the Duel,” kita juga akan mengetahui (atau lebih tepatnya, mendapatkan penegasan) bahwa:

5) Borges memang suka mengutip-ngutip dari sumber yang tidak jelas (karena maksudnya memang untuk mengarang). Ini akan kita temukan dalam cerpen “Tlon, Uqbar, dan Orbis Tersius”, atau “Piere Menard…”, dll. terutama yang dalam buku Ficcioness itu, oh….)

6. Borges, uniknya, berpandangan bahwa sastrawan itu pada dasarnya “harus” terlibat dengan lingkungan sosialnya, TAPI KARYANYA HARUS BENAR-BENAR MURNI. Di sini, dia mencontohkan bagaimana dirinya menjadi presiden Komunitas Penulis Argentina yang sangat anti rezim Peron. Dia sangat vokal. Tapi, dalam karya-karyanya dia benar-benar bisa berjarak (meskipun para penafsirnya seringkali menemukan bau-bau kritik sejarah dalam karya Borges). Saya mensinyalir ini berkaitan dengan keinginan Borges untuk bisa “meyuniversalkan” karyanya, membuatnya karyanya “bisa menembus waktu”, “mengklasik”. Well, semacam itulah…

7. Borges berpandangan bahwa (seperti juga banyak orang), bahwa cerpen lebih erat ke peristiwa, dan novel lebih erat ke karakter. Dalam cerpen, karakter boleh saja tidak digarap, asalkan yang menjadi fokus memang bukan karakter, dan karakternya sendiri tidak istimewa-istimewa sangat. Namun,untuk novel, karakter adalah yang utama, dan plot… biarkan dia muncul sendiri bersama karakter😀. Well…. agak berbeda sih dengan Si Pemimpi yang menganggap bahwa untuk menjadi ideal, sebuah novel harus juga kuat dalam hal plot, untuk tetap menarik minat pembaca.

Dan, akhirul resensi, saya pingin juga membocorkan bahwa:

8. Borges sangat tidak suka dengan ceritanya “The Streetcorner Man” (versi Indonesianya “Lelaki di Sudut Jalan”) dalam The Universal History, karena cerita itu terlalu cerita, kurang tampak elemen logisnya–atau dalam bahasa Borges sendiri, cerita itu terlalu “stagey”, seperti penampilan dramawan di atas panggung. Unik. Padahal itulah cerpen Borgesian pertama (yang terpisah dengan kisah autobiografi yang “ditambah-tambahi” dalam the Universal History itu…

Sementara begitu dulu. Semoga ada kesempatan untuk melanjutkan dengan bagian Poetry (yang sebenarnya saya sungkan garap, :D) dan Translation (yang, sumpah, sangat menarik).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s