Kalau hari ini, dulce et utile kita arahkan lebih menjurus ke buku non-fiksi. Kali ini kita bicara di ranah apresiasi-kritik-menulis kreatif sastra. Kebetulan saya habis membaca lagi naskah buku yang sejak setahun lalu ada di komputer saya.

Apa judul bukunya? Judulnya: Menapak ke Puncak Sajak. Saya yakin ini adalah buku calon best-seller karya penyair maharajin Hasan Aspahani yang pasti akan membuat guru-guru sastra salah tingkah.

Apa isinya? Buku ini adalah hasil perenungan si penulis tentang ini-itu dalam bersyair. Ada 26 bab yang antara lain berisi:

1) seluk-beluk puisi, seperti pada bab-bab berjudul: Bersajak-sajak Dahulu, Lalu Apakah Sajak, Sajak Sebagai Latihan Intelektual, dst.
2) hal-hal yang perlu diwaspadai selama berpuisi: Baca Sajaknya Elak Pengaruhnya, Memilih Kata Membangun Makna, Bikin Sajak Bikin Jebak, dst.
3) yang elok dan yang buruk dalam puisi: Asal Sajak Sajak Buruk, Yang Bukan Sajak Yang Menjebol Sumbat, dst.
4) kisah-petuah-karya para penyair dari segala sudut dunia mulai dari Sutardji, Sapardi, Wislawa Symborzka, Goethe, Shelley, Rilke, sampai juga Layton (tidak semua kenal nama ini, kan? nah!) yang pasti membantu kita lebih menyelami puisi dan lebih memotivasi kita menulis sajak.

Nah, dalam kaitannya dengan impian kita seputar merayu pembaca dan memberikan pencerahan, ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari buku ini. Apa itu?

Begini: Buku ini disajikan dalam bentuk tanya jawab imajiner antara seorang yang ingin jadi penyair dan seorang penyair-guru yang menjawab segala jenis pertanyaan. Semacam Frequently Asked Questions-nya puisi lah. Nah. Kalau banyak guru-guru sastra yang, alih-alih membuat siswanya pandai bersyair, malah membuat siswa-siswinya takut dengan puisi/sastra, maka buku ini memperlakukan puisi sebagai sesuatu yang bisa didekati dengan santai, jenaka, tapi intens. Oh ya, ada juga dua bonus tanya jawab betulan dengan penyair Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo yang dilakukan penulis via SMS! Asyik, kan? Dijamin deh, belum ada buku tentang puisi yang senakal ini!

Sekedar kutipan dari buku itu yang saya penting layak kita ketahui adalah berikut:

“… Puisi memang bukan kalimat-kalimat dalam pengumuman, poster atau selebaran. Pada yang tiga itu kata-kata harus mudah dimengerti. Siapapun yang membaca harus mendapatkan pengertian yang sama. Kalau tidak maka dia bukan pengumuman yang baik. Sebaliknya, puisi yang baik harus bisa membuat dirinya sedemikian rupa, sehingga setiap orang yang berbeda bisa memaknainya dengan makna yang berbeda. Dia mestinya hanya merangsang pembaca, membuat pembaca bangkit kenangannya, tergugah semangatnya, tersentuh perasaannya, sementara itu kita sendiri yang menuliskannya mestinya juga seperti sudah menuntaskan sebuah “tugas rahasia”. Sudah selesai menyusun kode yang kompleks sehingga kita sendiri dan pembaca lain kemudian tergoda untuk menebak-nebak kode itu. Ya, antara rumit dan kompleks. Yang rumit adalah puisi yang buruk. Puisi yang baik adalah dia yang menawarkan kompleksitas. Pernah baca tulisan Nirwan Dewanto soal ini kan? Tapi, bukankah semuanya kompleks? Kalau tidak begitu, maka hidup dan puisi dan segala sesuatu yang lainnya akan jadi membosankan, kata penyair Wallace Stevens. 22. Begini, maksud saya… Saya belum selesai. Tunggu dulu. Jangan potong kalimat saya. 23. Oke, teruskan… Puisi memang bukan petunjuk praktis. Bukan sekumpulan tips cara mudah memahami kehidupan. Wilayah kerja puisi memang bukan urusan praktis itu. Bahasa dalam puisi harus dibuat seperti petunjuk yang banyak arah, maknanya berlapis-lapis.”

Baik, begitu saja ya? Btw, di sampul depannya ada peringatan penting lho: JANGAN MENULIS SAJAK SEBELUM BACA BUKU INI!

Wah, berani sekali bukan? Saya rasa ini adalah garansi buku tersebut.

Terima kasih kepada www.teksperimen.blogspot.com (situs naskah buku hebat!) yang telah membiarkan saya mengambil sampul naskah buku itu. Nah, dahsyat kan, baru naskah buku sudah ada kovernya!

One thought on “Buku Apresiasi Puisi yang Nakal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s