Laporan Studi Banding: Dikotomi Hati dan Otak dalam Nyetir Mobil di NKRI dan USA

Akhirnya, sejak punya SIM nyetir mobil lagi beberapa bulan yang lalu, saya mulai lagi intensif nyetir mobil (punya bapak). 5 dari 7 tahun yang saya habiskan di Amerika sangat bergantung pada mobil, dan nyetir mobil bagi saya sudah berevolusi dari pembelajaran, kegemaran, kenikmatan, dan bagian hidup yang tak terpisahkan. Bahkan, setiap musim panas sejak tahun 2012 sampai tahun 2016, nyetir adalah salah satu sumber penghidupan terpenting saya.

Tapi, nyetir mobil di Amerika dan nyetir mobil di Indonesia adalah dua binatang yang benar-benar berbeda*. Ini baru hasil perbandingan setelah tiga hari nyetir saja.

Yang ingin saya bahas kali ini adalah: nyetir mobil di Indonesia adalah urusan hati, sementara nyetir mobil di Amerika Serikat lebih merupakan urusan otak. Saya tidak bermaksud esensialis di sini. Saya tidak ingin dianggap orang Indonesia terlalu pakai hati dan orang Amerika cuma pakai otak. Tidak. Ini adalah urusan konstruksi sosial. Banyak-sedikitnya rambu, menurut analisis sementara saya, adalah penyebab dari semua ini.

Contoh dikotomi hati-otak yang pertama adalah soal kecepatan. Di AS, di setiap ruas jalan bisa dipastikan ada tanda batas kecepatan. Sebagai misal, di sebuah ruas jalan yang menghubungkan sebuah Interstate Highway ke bandara, kita lewat sawah, desa, sawah, bandara. Di daerah sawah, kita akan melihat tanda batas kecepatan maksimal adalah 55 mph, mendekati kota 40 mph, di kawasan desa 35 mph di sawah 55 lagi, dan memasuki bandara maksimal 45 mph sebelum turun menjadi 35 mph dan 20 mph. Jalannya berbelok-belok dan di setiap belokan ada tanda batas kecepatan baru untuk keselamatan. Asalkan kita mengikuti tanda batas kecepatan itu, bisa dibilang kita akan aman-aman saja, tidak akan selip dan kebablasan di belokan, tidak akan kerepotan ngerem kalau tiba-tiba ada orang menyeberang jalan. Dengan kata lain, kalau mau nyetir mobil dengan aman, kita perlu terus melakukan kognisi, menyerap informasi dan memprosesnya di otak.

Hal ini agak beda dengan kondisi nyetir di Indonesia (yang bagi saya hanya diwakili oleh perjalanan dari Sidoarjo ke Malang PP dan Sidoarjo-Kediri-Jombang). Nyetir mobil tiga hari ini bagi saya lebih dipandu oleh hati (dan otak secukupnya). Pertama, tidak ada tanda batas kecepatan yang membuat saya harus terus memastikan antara tanda dan speedometer. Kecepatan nyetir saya lebih bersifat kondisional. Kalau jalur lagi lempeng dan tidak ada halangan, ya saya bisa agak cepat. Tapi, karena jalannya bukan jalan tol, saya cenderung membatasi diri untuk tidak lebih dari 65 km/j. Bahkan, saya memilih untuk menjaga kecepatan antara 50-60 km/j. Ingat, tiga hari ini adalah hari pertama saya nyetir mobil sendiri di negeri tercinta ini. Itung-itung, itu kecepatan mengakrabkan diri dengan lalu lintas lah. Pada hari ketiga, ketika jalur lumayan lempeng dari Jombang ke Mojokerto, saya sempat ngegas sampai 70 saja–tapi saya berjanji tidak akan lagi banter-banter selain di jalan tol. Lagian, mau ngejar apa sih ngebut itu? Kembali lagi, selama perjalanan ini, kecepatan saya lebih dikendalikan oleh seberapa pantas kecepatannya, dan seberapa tidak berbahayanya kecepatan saya bagi saya sendiri maupun orang lain. Tidak ada tanda yang harus saya baca, saya kognisi, saya proses. Saya lebih menggunakan hati dengan mempertimbangkan para pengguna jalan lain di sekitar saya. Selebar apa rombong bakso yang diangkut orang dengan motor Vega-nya. Selebar apa kangkangan kaki ibu-ibu yang dibonceng suaminya naik N-Max tapi footstep-nya dipakai si anak yang duduk di tengah.

Tapi, kalau dipikir-pikir, pakai otak juga tidak dengan serta merta lebih baik mutlak dibanding pakai hati. Saya pernah lihat kasus-kasus tabrakan di Amerika yang terjadi karena ada orang yang tidak memperhatikan lampu merah nyelonong dan tertabrak motor lain yang memang punya hak jalan karena lampu memang hijau. Si penabrak tentunya tidak bersalah karena dia hanya mengikuti arahan lampu. Tapi, kalau di Indonesia, yang orangnya lebih awas ke pengguna jalan lain daripada ke rambu-rambu 🙂 ungkin saja kecelakaan macam itu bisa dihindari. Kira-kira sih.

Atau, mari kita lihat kasus di budaya populer. Ingat, kan film, Die Hard kesekian yang sub-judulnya Live Long and Die Hard ketika ada teroris yang mengancam menghancurkan Amerika Serikat dengan menyabotase internet? Di situ, dia bermain-main dengan pengendali lalu lintas. Di ujung terowongan A, dia buka jalur untuk mobil masuk. Di ujung lain terowongan A, dia juga buka jalur untuk mobil masuk. Alhasil, mobil-mobil yang kencang itu akhirnya saling bertabrakan. Kita bisa hubungkan itu dengan kenyataan bahwa pengguna jalan di Amerika cenderung lebih membaca (dan percaya) rambu-rambu lebih dari membaca sekeliling (pernah baca postingan “Memegang Setir seolah Memegang Buku” ini?). Menurut saya, kejadian di film-film action Amerika (termasuk juga film tentang Y2K yang menggambarkan bagaimana kekacauan lampu lalu lintas akhirnya menyebabkan kecelakaan massal di New York) adalah masuk akal adanya dan selaras dengan semangat berkendaraan di Amerika Serikat. Semoga saya tidak terlalu men-generalisir di sini.

Meski menggunakan hati bisa juga bagus dalam hal nyetir, saya perlu menekankan dalam paragraf tersendiri bahwa tanda batas kecepatan adalah sesuatu yang mutlak diperlukan saat ini, khususnya untuk jalan-jalan antar kota di mana para pengemudi bisa lupa daratan atau di jalan-jalan pegunungan yang berkelok-kelok (dan naik turun) yang seringkali berisiko fatal bagi yang pertama kali melewati jalur tersebut. Itu sudah!

Sementara ini dulu saja yang saya tuliskan di sini. Saya akan posting sekarang saja ini daripada berlarat-larat dan malah tidak jadi terposting. Tapi, sebelum saya akhiri, saya perlu sedikit humble-brag:  Indonesia adalah negara ibu saya dalam hal fisik. Saya terlahir dan besar dan (bisa jadi) menghabiskan masa tua saya di sini. Namun, Indonesia adalah negeri kedua saya dalam hal nyetir mobil. Saya belajar nyetir dari nol-putul di Arkansas nan permai dan jalannya sepi, meskipun saya juga pernah beberapa kali nyetir mobil di jalan-jalan Interstate Dallas yang buas, Tennessee yang berseri, Louisiana yang ceria, Kansas yang bablas, dan lain-lain. Semoga postingan ini bisa berlanjut dengan renungan hidup di jalan yang lain-lain.

 

* Maafkan atas idiom penuh gaya ini. Sebenarnya ini adalah contoh terjemahan jelek, yang sayangnya sudah menjadi satu bentuk cara ungkap tersendiri dalam prosa Indonesia (yang dianggap asyik) yang muncul baru-baru ini.

Advertisements

Alternatif untuk Sistem Transportasi Umum Berbasis Kompetisi?

Setelah bicara tentang jalan tol dan tanda batas kecepatan, mari kita bicara sesuatu yang jelas merupakan masalah di depan mata: bahwa sistem transportasi publik kita sejak awal sudah berpotensi masalah. Sistem transportasi publik yang non-BUMN kita berbasis kompetisi. Di sini, yang saya maksud sistem transportasi publik mencakup bis dalam kota, bis antar kota, angkutan (non-bis) antar kota, angkutan perkotaan, taksi dan ojek. Sistem kompetisi ini punya elemen kehancurannya sendiri-sendiri.

Masih berkaitan dengan pembahasan sebelumnya, masalah dari sistem transportasi yang berasaskan kompetisi ini adalah kecepatannya. Kecepatan ini, seperti bisa ditebak tanpa perlu statistik, memiliki risiko kecelakaan besar. Kompetisi antara bus-bus penyedia layanan transportasi di satu trayek seringkali menyebabkan balapan yang korbannya mencakup penumpang maupun pengguna jalan yang lain. Kalau tidak percaya sama saya, cobalah berkendaraan dari Malang ke Porong atau sebaliknya. Di jalur ini, kalau Anda mengendarai motor, Anda harus rela tiba-tiba minggir dari aspal karena ada bus di belakang Anda yang tiba-tiba memaksa minta ruang karena dia harus segera merangsek maju meninggalkan bus lain yang berpotensi mengejarnya.

Di dalam kota, kita bisa menyaksikan bagaimana kompetisi antar mikrolet juga mendatangkan dampak lain: ketidaknyamanan. Kita bisa merasakan berkendaraan di belakang mikrolet yang tiba-tiba berhenti karena si sopir melihat potensi penumpang agak masuk di dalam gang. Si sopir memutuskan untuk mendadak berhenti karena dia tidak ingin potensi penumpang itu diambil mikrolet lain yang ada di belakangnya. Atau, kita sering merasa tidak nyaman karena ada mikrolet yang posisinya agak nanggung di jalan, tidak di pinggir tidak juga di tengah. Tidak di pinggir karena dia ingin lebih lancar. Tapi tidak juga di tengah karena kalau ada penumpang si sopir bisa cepat-cepat minggir.

Belum lagi kalau kita tambahkan faktor lain dalam persaingan antar angkutan perkotaan, misalnya ditambahkan taksi/ojek online. Dua tahun terakhir kita sudah melihat demo di mana-mana, baik oleh sopir angkot maupun taksi konvensional, yang menggugat keberadaan taksi/ojek online, yang merupakan elemen baru dalam angkotan perkotaan itu. Persaingan yang sudah ada di antara para sopir angkot dan taksi kini tambah kompleks dengan elemen lain yang lebih berterima bagi, terutama, generasi yang lebih muda dan lebih ingin praktisnya saja.

Yang jadi pertanyaan retorika: kenapa persaingan ini dilestarikan? Kenapa tidak mencoba menyelesaikan persaingan-persaingan ini dengan alternatif solusi?

Memangnya ada solusi? Tentu. Kalau kita sudah akrab dan mau menerima bahwa tidak ada penyakit di dunia ini yang tak ada obatnya, kenapa sulit bagi kita menanamkan keyakinan bahwa tidak ada masalah di dunia ini yang tidak ada solusinya?

Tidak perlu studi banding ke Jepang dan Jerman untuk mengetahui solusi ini, mari kita tengok praktik-praktik angkutan umum di Indonesia sendiri yang tidak berbasis kompetisi (atau kompetisinya relatif ringan). Lihatlah bagaimana angkutan kereta api dijalankan. Mana ada balapan dan rebutan penumpang antara kereta api satu dan lainnya. Selama ini kereta juga tetap jalan, kan? Ada kereta api ekonomi dan ada juga kereta api kelas eksekutif. Mereka tidak perlu balapan kan untuk berebut penumpang, dan sejauh ini keduanya masih sama-sama ada. Dan tingkat kecelakaan kereta api karena adu kecepatan juga nol, kan? Tidak ada orang yang sebal karena kereta api tiba-tiba berhenti, kan?

Tapi Anda mungkin bilang, ya kan kereta api milik satu perusahaan (BUMN, tepatnya). Baiklah, bagaimana kalau saya tunjukkan jalur bus Malang-Kediri yang dikelola oleh (seingat saya) dua perusahaan otobus, yaitu Puspa Indah dan Bagong. Jalur yang tidak terlalu ramai ini berjalan berdasarkan jadwal dan ada interval antara satu bus dan bus selanjutnya. Dampaknya, mereka tidak perlu kejar-kejaran untuk berebut penumpang. Bahkan, yang menarik, sopir bus yang berpapasan suka menggunakan kode-kode isyarat tangan yang memberitahukan bahwa di depan ada penumpang di lokasi-lokasi tertentu. Mereka tidak perlu terlalu ganas bersaing meskipun tidak terdiri dari satu perusahaan saja.

Anda mungkin bertanya lagi: itu kan jalur yang tidak terlalu ramai dan jumlah bus-nya kan tidak sebanyak Surabaya-Malang. Jawaban saya: terus kenapa memangnya? Apa jalur Surabaya-Malang sudah diisi terlalu banyak bus? Kalau iya, berarti ya memang saatnya dilakukan evaluasi, apakah persaingan itu karena banyaknya bus dan berkurangnya penumpang? Kalau iya, ya silakan dipertimbangkan apa yang perlu dilakukan.

Kompetisi itu racun, kawan, terutama kompetisi yang bermain-main dengan api seperti ini. Sudah saatnya kita menghapus stereotipe-stereotipe terkait nama-nama perusahaan bus (ada perusahaan bus yang terkenal suka membunuh karena sering terlibat kecelakaan). Tapi, untuk menghapus stereotipe itu, menyuruh para sopir lebih hati-hati saja tidak cukup. Para sopir itu kan cuma satu elemen saja. Kalau sistem yang melingkupi mereka masih menuntut kompetisi, ya jangan salahkan merea saja kalau mereka akhirnya berkompetisi dan kemudian menyebabkan kecelakaan.

Saya pikir banyak sekali ahli transportasi dan sejenisnya yang bisa merekayasa cara untuk menghasilkan sistem transportasi yang tidak perlu berbasis kompetisi seperti yang banyak kita lihat hari-hari ini. Masalahnya mungkin adalah sekuat apa mereka berhadapan dengan kepentingan finansial kelompok-kelompok tertentu. Mungkin di situlah pemerintah bisa berperan, sebagai pengemban kepentingan rakyat. Sayang kan punya kekuatan melakukan ini itu kalau tidak dipakai untuk meluruskan jalan bagi orang-orang yang ingin membahagiakan banyak orang lain?

Kapan Proyek Tanda Batas Kecepatan di Jalan?

Di postingan sebelumnya, saya berbicara tentang gagasan bahwa pembangunan jalan tol bukanlah jawaban yang sesungguhnya atas masalah kemacetan dan itu juga sesuatu yang tidak benar-benar demi keuntungan masyarakat dan justru lebih merupakan komersialisasi yang lainnya. Kali ini, saya akan berbicara tentang satu hal vital lain yang mungkin lebih berarti bagi masyarakat, lagi-lagi dengan perbandingan satu-satunya negara lain di mana saya pernah tinggal. Apa itu: tanda batas kecepatan.

Satu hal yang menjadi masalah–atau lebih menambah masalah–terkait dengan kepadatan lalu lintas adalah kebiasaan kita berkendara. Dari pengamatan saya, pengendara kendaraan di Malang dan Surabaya cenderung ugal-ugalan. Begitu ada kesempatan, mereka langsung tancap gas tanpa ada batasan. Batasan untuk kecepatan di kota Malang dan Surabaya, misalnya, adalah kepadatan lalu lintas. Jadi, selama memungkinkan, pengendara bisa memacu kendaraan sesuka dan semampu kendaraan mereka. Masalahnya, banyak kendaraan (motor, mobil pribadi, truk, bus, dll.), yang memiliki kekuatan lebih dan saat memacu kecepatan terasa mengerikan. Dampaknya apa? Angka kecelakaan yang tinggi.

Angka kecelakaan di Indonesia (terutama di Jawa) sangat tinggi. Saya akan carikan statisiknya kapan-kapan. Sementara, saya tunjukkan saja gambaran singkat. Dalam perjalanan dari rumah ke tempat kerja, saya beberapa kali melihat pengendara yang terduduk di tepi jalan dalam keadaan syok. Mereka dikerumuni orang dan motor mereka terparir berdebu dan ada yang rusak. Itulah hasil kecelakaan.

Contoh lain: Beberapa hari yang lalu, saat subuh-subuh saya pergi dari Malang ke Purwosari, saya melihat tiga kecelakaan, mulai dari yang ringan (truk menubruk motor yang sudah berhenti saat macet) hingga yang parah (mobil kecil tersungkur dengan bemper copot dengan posisi sudah berbalik arah).

Contoh lain lagi: seorang dokter ahli bedah tulang mengatakan kepada saya bahwa dokter bedah tulang dari Jepang terheran-heran dengan Malang karena di sini setiap hari seorang ahli bedah tulang bisa berkali-kali melakukan operasi (nyaris semua hasil kecelakaan lalu lintas) padahal di Jepang dia paling banter hanya perlu mengoperasi dua minggu sekali. Intinya apa? Angka kecelakaan di Indonesia berkali-kali lipat lebih tinggi daripada di Jepang.

Apa penyebabnya? Budaya berkendaraan yang suka ngebut, ditambah kurangnya pemahaman tentang aturan lalu lintas. Sebab nyatanya bisa tak terhitung, mulai motor yang ngambek, hati yang galau saat nyetir, hingga keharusan membaca pesan di smartphone saat nyetir. Tapi, karena kecepatan terlalu tinggi adalah satu sebab yang cukup dominan, kenapa tidak ini dulu yang kita atasi?

Di sinilah kita bisa berbicara tentang pemasangan tanda batas kecepatan. Tanda batas kecepatan adalah sesuatu yang benar-benar absen dari kehidupan lalu lintas (setidaknya di kota-kota yang saya akrabi, kota-kota di Jawa Timur). Orang tidak tahu berapa kecepatan maksimal yang boleh mereka capai saat berkendaraan di satu ruas jalan dan ruas jalan lainnya. Seperti saya bilang di atas: batas kecepatan bagi orang-orang adalah ketika ada kendaraan lain yang tidak memungkinkan kita menambah kecepatan. Padahal, ada batas-batas kecepatan yang bila kita ikuti kita bisa yakin bahwa kita akan aman. Saat ada sesuatu yang terjadi dan kita mematuhi batas kecepatan (yang dibuat dengan mempertimbangkan lebar, kontur, dan bentuk jalur) maka kita akan bisa menghindari kecelakaan dengan menghentikan kendaraan.

Memang tidak ada jaminan bahwa dengan pemasangan tanda batas kecepatan kita bisa langsung mencegah kecelakaan. Tapi, aspek edukasi dari tanda batas itu akan membuat orang (setidaknya yang peduli dengan keselamatannya sendiri) mempertimbangkan apakah dia sudah terlalu ngebut atau tidak. Apalagi kalau polisi juga memberlakukan pendisiplinan bagi pelanggar batas kecepatan (misalnya orang yang ngebut lebih dari 10 km/j di atas batas kecepatan akan ditilang), pasti orang akan pikir-pikir sebelum ngebut.

Belum lagi kalau kita bicara dampak jangka panjangnya, misalnya untuk generasi pengendara bermotor di masa depan. Kalau generasi yang saat ini sudah “kasep” (terlambat) untuk diajari tentang batas kecepatan, paling tidak generasi pengendara kendaraan bermotor di masa yang akan datang akan tahu bahwa kita tidak bisa sesukanya ngebut asal jalanan tampak sepi.

Terus apa yang dibutuhkan untuk proyek pembuatan tanda batas kecepatan ini? Tentu saja: biaya yang banyak untuk membuat tanda jalan dan kemudian memasangnya di setiap ruas jalan. Ini biaya yang sangat besar. Tapi tentu saja tidak sebesar membuat jalan tol seperti yang dibuat selama ini. Dan lagi, kita bisa mencicilnya untuk daerah-daerah tertentu sesuatu dengan prioritas (entah daerah jalan nasional yang rawan kecelakaan, jalan provinsi yang banyak dilalui bus dan truk, dan lain-lain). Tentunya lagi, tidak perlu ada proyek-proyek yang luar biasa rumit (dengan pembebasan lahan dan investor-investor yang kontroversial). Kita sudah memiliki Dinas PU yang ada di setiap wilayah Tingkat II dan Tingkat I.

Tanda batas kecepatan ini juga tidak akan membebani rakyat dengan pajak tambahan dan tidak punya menyasar atau memberi kenyamanan tambahan bagi orang-orang tertentu (bukan untuk yang punya mobil saja). Negara yang dianggap disiplin seperti Amerika, Jepang, Jerman, atau Inggris saja masih membutuhkan ini. Kenapa kita yang cenderung agak longgar dalam hal peraturan tidak punya ini? Jangan-jangan, kedisplinan bangsa-bangsa asing itu sebenarnya bukan sesuatu yang mereka dapatkan dari lahir, tapi justru bentukan karena adanya hal-hal kecil yang membuat mereka harus patuh seperti ini? Nah, kalau begitu, bukankah ini merupakan upaya yang membuat kita jadi lebih baik (dan tentu saja memuat kita tetap hidup)?

Jalan Tol: Apakah Ini Solusi? Perlukah Dirayakan?

Yang namanya orang sedang bertengkar, apa saja bisa dijadikan bahan. Begitulah yang kita lihat hari-hari ini antara orang-orang yang anti-Jokowi dan pro-Jokowi. Dari pohon plastik sampai jalan tol bisa dijadikan bahan. Saya ikut mana? Sementara saya tidak ikut mana pun. Persoalan hidup di negeri ini dari penglihatan sekilas saja tampak kompleks, dan sesuatu yang kompleks mustahil diselesaikan dengan bermain dikotomi hitam-putih macam itu.

Lantas, apakah saya pesimis atau apatis? Amit-amit jabang toddler! Saya memilih untuk membaca analisis orang-orang yang tidak terjebak ke dalam dikotomi itu, atau membaca orang-orang yang berupaya menyelesaikan persoalan pada tataran akar rumput, dan tentu saja mencoba membuat perbandingan-perbandingan dengan apa yang sudah saya lihat.

Maka, dimulailah sejak hari ini: serial postingan renungan tentang negeri ini. Untuk seri pertama ini, saya ingin membahas soal jalan raya dulu. Itung-itung, topik kita hari-hari ini jalan juga, kan?

Proyek pembangunan jalan bukanlah sesuatu yang buruk. Justru itu yang dibutuhkan, misalnya, untuk lokasi-lokasi seperti Papua yang sebelumnya banyak mengandalkan transportasi udara dari satu daerah ke daerah lainnya.

Tapi, proyek jalan tol secara masif juga bukan sesuatu yang sangat cemerlang luar biasa. Jalan tol adalah jalan berbayar dan nyaris semuanya hanya diperuntukkan bagi mobil. Jalan semacam ini sangat penting bagi yang punya mobil atau bagi pengiriman barang-barang secara cepat. Itu pun juga masih harus bayar. Kata Dandhy Dwi Laksono di sebuah postingan Facebook-nya, merayakan pembangunan jalan tol adalah merayakan menjadi konsumen, bukan merayakan kemerdekaan sebagai warga negara.

Jadi, kalau Anda merayakan pembangunan tol dengan gegap gempita, sampai kemudian menggunakannya untuk menyerang kelompok anti-Jokowi yang seringkali menghubungkan antara pembangunan tol dengan utang negara yang semakin meningkat, tolong pikirkan sekali lagi.

Kalau argumen pembangunan tol itu adalah untuk meningkatkan distribusi barang dan mendukung perekonomian, sepertinya kita bisa mempertanyakan itu. Kalau memang tujuannya untuk itu, semestinya jalan semacam ini bisa gratis. Atau, kalau memang tidak ingin terlalu rugi, silakan mengenakan biaya tol yang sangat murah asal bisa membantu menutup biaya perawatan tol untuk jangka beberapa dasawarsa ke depan. Kalau bukan begitu, ya berarti jalan tol adalah sebuah usaha komersial.

Jalan tol di Indonesia pada hakikatnya adalah usaha mendapatkan kenyamanan lebih. Kita tahu, kemacetan di kota-kota besar sangat parah. Dan perjalanan antar kota dalam provinsi atau antar provinsi juga tidak bisa diandalkan dalam hal kenyamanan. Terlalu banyak hal tak terduga yang bisa menghambat perjalanan. Apalagi pada-pada super sibuk seperti saat musim mudik. Maka, jalan tol adalah solusi untuk mendapatkan kenyamanan lebih.

Dengan kata lain, jalan tol adalah sebuah upaya untuk menyelesaikan sebuah persoalan.

Masalah sendiri apa? Sudah jelas: peningkatan kepadatan kendaraan tanpa terkendali saling yang saling mendukung dengan kepadatan penduduk.

Sepertinya, pembatasan peningkatan kendaraan tidak dipertimbangkan sebagai alternatif solusi. Mungkin hal tersebut akan dipandang menghambat laju ekonomi. Mudah kita prediksi bahw abisnis otomotif–yang bahkan belakangan didukung bisnis otomotif hemat biaya dan hemat bakan bakar–adalah bisnis yang banyak menyumbang kepada perekonomian kita. Jadi ya, wajar saja kalau pembatasan kendaraan belum dipandang sebagai solusi yang masuk akal.

Bagaimana dengan solusi mengatasi kepadatan penduduk? Ah, jangan mimpi lah. Sepertinya hal tersebut sudah tidak lagi menjadi faktor dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Mengangkat pembatasan peningkatan penduduk akan membuat Anda dipandang sebagai orang yang anti kehidupan, seperti Thanos.

Jadi, saudara-saudara, kalau saat ini muncul jalan tol di sana-sini, silakan memandang jalan tol tersebut sebagai solusi dari pemerintah kita untuk memberikan masyarakat sedikit kenyamanan tambahan. Kalau dipandang seperti itu, mungkin niat baiknya memang perlu Anda apresiasi, tak peduli apakah Anda pro-Jokowi maupun anti-Jokowi.

Tapi, jangan lupa pula menyadari bahwa jalan tol itu adalah sebuah usaha komersial yang menjadikan kita-kita sebagai konsumennya. Kalau memang ini sebuah upaya negara untuk membahagiakan warga negara (tidak cuma menyamankan), bisa saja negara memurahkan jalan tol asal mencukupi untuk membayar biaya pembangunan dan perawatan. Yang seperti itu tidaklah mustahil: Interstate Highway di Amerika Serikat adalah contohnya. Jalan yang berkualitas tol (yang bahkan bisa dipakai untuk transportasi tank dan pendaratan pesawat) dan menawarkan kenyamanan tol ini sebagian besarnya digratiskan. Dan di ruas-ruas yang tidak gratis pun biayanya sangat murah! Itu yang mendukung distribusi barang dari timur ke barat atau utara ke selatan bisa mudah.

Dan terakhir: ada masalah yang lebih hakiki yang perlu diselesaikan, yaitu kepadatan kendaraan dan kepadatan penduduk. Kalau Anda bilang sudah terlalu padat sehingga jalan tol sangat diperlukan, okelah. Masuk akal kan, daripada sudat padat dan tambah parah. Tapi, kalau memang ada niat menyelesaikan masalah, peningkatan jalan tol ini juga perlu disertai dengan kebijakan-kebijakan pembatasan peningkatan kendaraan. Karena, kalau pun jalan tol yang kali ini bermunculan bisa menyelesaikan masalah sesaknya kendaraan di kota-kota besar, maka itu tidak akan lama: sebentar lagi juga akan terjadi pemadatan di sana-sini.

Oh, kalau Anda yang anti-Jokowi merasa saya adalah bagian dari Anda, sebenarnya tidak juga. Saya tidak melihat Anda melihat lebih jauh dari sekadar anti karena Jokowi bukanlah sosok pilihan Anda. Apakah sosok pilihan Anda memang mau melakukan ini? Sejauh ini saya lihat tidak ada perbedaan hakiki.

(Terjemahan Puisi) Jangan Menoleh “Don’t Look Back” karya Solomon Ibn Gabirol + OASIS

Kangen nerjemah lagi dan di rak buku di kamar ada satu buku Selected Poems of Solomon Ibn Gabirol buah terjemahan Peter Cole dari bahasa Ibrani. Buku ini, seperti judulnya, berisi puisi-puisi pilihan karya penyair Andalusia yang hidup dalam kultur Arab dengan nama Arab Abu Ayyub Sulaiman Ibn Yahya Ibn Jabirul.

Saya pakai buku ini (hadiah dari dosen saya) untuk ujian komprehensif doktoral beberapa tahun yang lalu, untuk bidang cakupan Sastra Spanyol Masa Islam. Ketika itu saya membaca untuk mengetahui isi karya-karya sastra (dan rupa) Spanyol antara tahun 711-1502. Penekanannya di sini adalah “isinya” saja, karena dalam hal gaya bahasa tentu saja saya tidak bisa menjangkaunya. Karya-karya sastra dari periode itu ditulis dalam bahasa Arab, Ibrani, dan Kasteyano (Castellano).

Malam ini saya sempat terjemahkan beberapa judul puisi pendek, dan khusus untuk kesempatan ini saya akan bagi di sini puisi yang judulnya pasti mengingatkan para penggemar brit pop kepada lagunya Oasis. Kalau dibaca sekilas, sepertinya apa yang disarankan oleh puisi Ibn Gabirol ini bertentangan dengan kebijaksanaan kita hari ini yang percaya bahwa tidak semestinya kita melupakan masa lalu. Bahkan, ada yang sampai bilang barang siapa melupakan sejarah, dia akan dikutuk untuk mengulanginya. Di puisi ini, sepertinya pesan yang ingin disampaikan justru sebaliknya: kalau masa lalumu itu penuh dosa, ya sudah biarkan saja, tak perlu dia diperpanjang.

Sekilas berbeda, tapi kira-kira tujuannya tidak jauh berbeda.

Untuk iseng saja, saya juga sertakan terjemahan atas lagu Oasis “Don’t Look Back in Anger” dari album What’s the Story Morning Glory? Ini adalah salah satu album yang mendefinisikan masa SMA saya. Pret!

JANGAN MENOLEH

oleh Solomon Ibn Gabirol

Jangan, anakku, jangan menoleh,
atau menengok kanan-kiri;
dan jangan bilang: “Besok aku mati
lalu kenapa aku keluyuran nelangsa?”

Ingatlah hari nanti
saat tubuhmu dimangsa dan musnah,
saat bajak menggaru di atas kepalamu
seperti petani membuat galur-galur di ladang.

Cukup sudah berdosamu di masa muda.
Tak perlu kau perpanjang warisannya.

Selanjutnya dari Oasis:

JANGAN MENGINGAT SAMBIL MARAH

oleh Oasis

Tiliklah ke dalam benakmu
Niscaya kau akan temukan
Tempat yang lebih nyaman?
Katamu kau tak pernah lihat
Tapi segala yang kau lihat
Akan mengabur

Maka aku mulai revolusi dari ranjang
Karena kau bilang kecerdasanku akan memangsaku
Lihatlah musim panas yang ceria
Berdirilah di dekat perapian
Singkirkan tampang itu dari wajahmu
Kau takkan pernah membakar hatiku.

Jadi, Sari bisa menunggu
Dia tahu kini sudah terlambat
Karena kita telah melangkah
Jiwanya akan terlepas
Tapi jangan mengingat sambil marah
Begitu katamu

Bawa aku ke tempatmu
Di mana tak seorang pun tahu sekarang siang atau malam
Tapi mohon jangan serahkan hidupmu di tangan
Band rock and roll
Yang akan mencampakkannya.

Maka aku mulai revolusi dari ranjang
Karena kau bilang kecerdasanku akan memangsaku
Lihatlah musim panas yang ceria
Berdirilah di dekat perapian
Singkirkan tampang itu dari wajahmu
Kau takkan pernah membakar hatiku.

Jadi, Sari bisa menunggu
Dia tahu kini sudah terlambat
Karena dia telah melangkah
Jiwaku pun terlepas
Tapi jangan mengingat sambil marah
Begitu katamu

Linimasa Mengambang atau Floating Timeline

“Enak ya jadi Nobita? Sejak aku kelas 6 SD sampai sekarang punya anak mau naik kelas 6 SD, dia masih tetap kelas 4 SD.”

“Betapa bahagianya jadi Upin dan Ipin. Dari sepuluh tahun yang lalu dia masih di Tadika Mesra. Tidak harus berhadapan dengan UNAS.”

Pasti Anda sering mendengar itu–kalau Anda seperti saya, suka ngobrol dengan orang-orang iseng. Bagaimana fenomena ini menurut ilmu sastra?

Baiklah, sebagai dosen sastra yang masih pemula, saya akan menguji diri sendiri dengan menjawab pertanyaan (yang saya lontarkan sendiri itu). Fenomena ini–eh, sebenarnya bukan fenomena sih. Saya ulangi lagi: ini adalah satu fitur dalam prosa atau naratif yang disebut “linimasa mengambang” atau “floating timeline” atau “sliding timescale.”

Linimasa mengambang adalah elemen latar waktu yang secara garis besar seolah tetap di situ-situ saja. Para tokoh dalam cerita seperti tidak pernah menua. Tentu hal ini bukan berarti tidak ada waktu. Ada waktu dalam lingkup kecil, misalnya antara awal episode hingga akhir episode, terjadi perubahan waktu, waktu berjalan, misalnya dari pagi sampai malam. Namun, saat episode selanjutnya dimulai, kita kita seperti kembali ke waktu yang itu-itu tadi. Si tokoh utama usianya belum berubah secara signifikan.

Ambillah contoh Upin & Ipin. Memang ada cerita yang berlatar idul fitri, divali, ramadhan, tahun baru imlek, dll., yang mengesankan cerita terjadi pada waktu yang berbeda-beda dalam satu tahun, misalnya tahun 2008. Namun, pada musim tayang selanjutnya, cerita sebenarnya tetap terjadi pada tahun yang sama. Bagaimana kita tahu? Ya dari fakta bahwa Upin dan Ipin serta teman-temannya belum tambah tua. Mereka tetap di Tadika Mesra (meskipun gurunya ganti dari Cik Gu Jasmin ke Cik Gu Melati).

Satu cerita lain yang banyak dijadikan contoh untuk ini adalah The Famous Five atau dalam bahasa Indonesia kita kenal sebagai Lima Sekawan. Serial cerita empat bocah dan satu anjing ini ada banyak. Seolah-olah cerita terjadi selama bertahun-tahun. Tapi kita tahu, mereka semua usianya tetap segitu-segitu saja, seolah-olah cerita terjadi dalam satu musim panas yang sama.

Ini berbeda dengan, misalnya, komik atau serial TV The Walking Dead. Di awal cerita, kita tahu bahwa Carl (anaknya Rick Grimes) masih sangat bocah dan banyak melakukan tindakan-tindakan yang kekanak-kanakan. Tapi, belakangan, kita melihat bahwa Carl sudah semakin besar dan semakin dewasa saja, bahkan setara dengan bapaknya dalam hal sikap dan tanggung jawab.

Sebenarnya, terkait The Walking Dead ini, ada satu hal yang menarik kalau kita membandingkan antara komik dan serial TV-nya. Di komik, cerita berjalan seperti tanpa jeda sedikit pun. Carl tumbuh sedikit demi sedikit. Namun, dalam serial TV-nya, laju cerita berjalan dengan agak berbeda karena batasan dari sistem musim tayang (yang hanya berlangsung pada musim gugur sampai musim dingin saja. Setiap kali musim tayang dimulai, para tokoh sudah setahun lebih tua. Bagi tokoh-tokoh yang di atas 20 atau 30 tahunan, pertambahan usia satu tahun tidak jadi masalah. Tapi bagi tokoh yang memerankan Carl, perubahan itu sangat drastis. Kalau di musim pertama tinggi badan pemeran Carl baru, misalnya, 120 cm, tahun selanjutnya dia sudah 130 cm. 10 cm itu bertambahan tinggi badan yang signifikan. Maka, pada musim keempat saja kita sudah melihat Carl seperti remaja akil balik. Padahal ceritanya kalau disejajarkan dengan komik baru baru sekitar satu tahun sejak pecahnya kiamat zombie.

Jadi ya, terlihatlah berbagai jenis penembahan dan pengurangan cerita untuk mengakomodir perkembangan yang pesat dari pemain The Walking Dead ini. Misalnya, antara musim tayang memang ada jeda waktu sekitar dua musim (musim gugur dan musim dingin). Sehingga, ketika musim selanjutnya dimulai akan tampak wajar bahwasanya si tokoh utama sudah lebih tua dari sebelumnya. Dan sebagainya dan sebagainya.

Eh, kenapa dari linimasa mengambang kita sampai ke The Walking Dead? Apakah saya hanya ingin cari alasan untuk bisa ngomong tentang The Walking Dead lagi? Bisa jadi. Tapi, bisa juga saya menunjukkan The Walking Dead secara agak detil untuk menjadi contoh yang BUKAN linimasa mengambang. 🙂

Jadi demikianlah kawan-kawan. Kalau ada yang tanya tentang kenapa Nobita tetap kelas empat dan kenapa Upin dan Ipin tetap sekecil itu (dan kenapa Kak Ross belum juga kuliah atau kerja jadi komikus profesional atau jadi animator), tentu kawan-kawan jadi tahu aasannya dan bisa menjelaskannya. Tapi ya begitulah, kalau sudah dijelaskan, akhirnya becandanya jadi nggak lucu lagi. Ealah…

 

Inilah Esai: Hasil Mengamalkan Ilmu Ganas Ajaran Guru SD yang Kurang Diamalkan?

(Saya pernah menulis tentang buku Inilah Esai tulisan Muhidin M. DahlanTapi, kemarin, setelah baca tulisannya Muhidin tentang Bumi Manusia, saya jadi ingat kalau saya pernah nulis ini, tetap tentang buku Inilah Esai, yang saya kirimkan ke sebuah portal online untuk ulasan buku tapi tidak pernah dimuat. Jadi ya, timbangane eman, diposting di sini saja.)

Setiap kali mendengar kata “kliping,” saya cenderung ingat masa SD dan SMP, waktu sering ditugasi membuat kliping dengan tema pembangunan, KB, OPEC dan sebagainya. Ada kesan bahwa kliping sesimpel itu. Tapi itu dulu, sebelum saya kenal Muhidin M. Dahlan, yang dalam esai-esainya sering berbicara tentang kegemaran penulis besar Pramoedya Ananta Toer (dan dirinya sendiri) mengkliping berita. Muhidin membuat saya tahu bahwa mengkliping adalah aktivitas aktif, fisikal sekaligus intelektual, dan bermanfaat jangka panjang. Kesadaran ini sesekali menerbitkan sesal.

Definisi kamus atas “kliping” juga sangat bersahaja. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V mendefinisikan kliping “guntingan atau potongan bagian tertentu dari surat kabar, majalah, dan sebagainya, yang kemudian disusun dengan system tertentu.” Bersahaja, kan? Sama sekali tidak ada kesan wah dari definisi ini. Mungkin karena memang begitulah semestinya definisi kamus.

Yang tak langsung tampak dari definisi di atas adalah bahwa mengkliping terkadang mencakup aktivitas pergi ke lapak koran bekas untuk mencari koran edisi lalu saat kita dengar ada berita bagus tentang topik tertentu di sebuah koran. Setelah itu, kita perlu membaca seluruh koran untuk menemukan artikel yang dibutuhkan dan perlu digunting. Lalu, kita perlu mengkategorisasikannya dan menyimpannya dalam folder-folder yang mudah dicari bila kelak kita membutuhkan. Kelak, bertahun-tahun kemudian, kita bisa menggunakan kliping tersebut untuk mencari tahu tentang sesuatu. Kita bisa melihat bagaimana sebuah topik perkembangan. Mungkin juga kita bisa lihat kemunduran, kontradisi, pengulangan, dan lain-lain. Nah, dari bahan-bahan inilah nantinya kita bisa mendapat ulasan tentang sebuah topik, kronik (atau urutan atau kronologi) sebuah topik, dan sebagainya, dan seterusnya.

Kembali ke soal Muhidin M. Dahlan, baru beberapa hari yang lalu saya menikmati hasil lain dari kegiatan mengkliping yang tekun diamalkannya. Hasil tersebut adalah buku apik tentang menulis esai berjudul Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor. Seperti jelas tergambar dari judulnya, buku ini adalah buku belajar menulis esai. Tapi, berbeda dengan banyak buku panduan lain, buku ini dibuat berdasarkan seratusan lebih esai yang digemari dan dianggap bagus oleh si penulis dan juru kliping itu. Melihat riwayat beliau seperti tergambar dalam tulisan-tulisannya, gampang dan masuk akal tentunya kalau kita “menuduh” seratusan lebih esai tersebut sebagai hasil dari kegiatannya mengkliping.

Dengan memilah, memilih, menganalisis, dan mengolah data, Muhidin dapat memaparkan bagaimana esai-esai kegemarannya tersebut bisa mengajarkan kepada kita cara membuat esai yang bagus. Dalam Inilah Esai, Muhidin membahas bentuk esai, cara mendekati topik, cara membuat judul yang bagus, pembuka yang kuat, isi yang kaya, dan penutup yang berhasil mengikat suara esai. Dalam setiap pembahasan itu, Muhidin menyertakan contoh-contoh yang dia nukil dari esai-esai kegemarannya tersebut. Inilah yang menurut  saya menjadikan buku ini unggul dibanding banyak buku penulisan yang lain: buku ini menunjukkan keroyalan si penulis dalam membagikan contoh-contoh dari esai-esai yang tidak cuma bagus tapi banyak di antaranya menghasilkan dari bagian-bagian yang relevan.

Sebagai contoh saja, pada bab tentang membuat judul, ada beberapa kategori pembuatan judul dan masing-masing kategori disertai dengan contoh-contoh judul. Pada bagian pembuka, ada pula kategori-kategori cara membuka esai, yang disarikan si penulis dari esai-esai kegemarannya tersebut dan masing-masing kategori disertai dengan contoh. Sekali lagi, itu adalah hasil ketekunan mengkliping, keseriusan meneliti, dan akhirnya kemauan dan kemampuan menuliskannya bagi semua orang.

Sekarang, berkat buku itu, saya jadi tahu tentang cara-cara pembuatan judul, pembuatan pembuka, dan esai yang telah teruji. Buku ini sekarang jadi semacam katalog bagi saya. Katalog inilah yang nantinya akan saya tuju saat akan membuat esai atau saat mentok dan mati langkah, misalnya, saat harus menutup esai. Ya, memang buku itu sampai sebegitu pentingnya. Sekali lagi, semua itu karena si penulisnya adalah seorang juru kliping yang serius. Tentu, penegasan ini tidak mengabaikan fakta bahwa Muhidin adalah juga pemikir dan penulis yang bagus.

Kalau boleh bombastis, buku ini kembali menegaskan kepada saya bahwa mengkliping adalah pekerjaan serius. Mengkliping membutuhkan Ketekunan (yang tak semua orang punya), minat yang konstan terhadap topik (tidak mudah dipertahankan), dan sejumlah hal lain. Buku Inilah Esai memaksa saya berjanji lagi dalam hati: bahwa mengkliping adalah pekerjaan yang tidak main-main, dan karenanya saya akan tanamkan itu ke anak saya.

Omong-omong, apa yang terlintas di benak Anda, sobat, saat mendengar kata “kliping”? Semoga, setelah membaca ini, yang terlintas di kepala Anda adalah Muhidin, seperti halnya yang terlintas di kepala saya sekarang saat mendengar kata itu. Selain itu, saya harap, ketika mendengar kata “kliping,” kita juga jadi ingat bahwa guru-guru SD kita—yang nama-namanya tak bisa kita lupakan itu—telah mengajarkan sebuah ilmu yang ganas, yang sayangnya mungkin tidak banyak kita amalkan.