Pegadaian karya Sigit Susanto: Estetika Mudik?

(Seperti biasa, perlu saya sebutkan bahwa dalam postingan kali ini saya akan berbicara tentang buku tulisan seorang yang saya kenal dan hormati. Saya harap setelah ini tidak ada lagi kecurigaan tentang bias. Tapi, sebisa mungkin saya akan obyektif.)

Sejujurnya saya agak menyesal baru sempat membaca novel Pegadaian karya Sigit Susanto. Saya justru telah membaca tiga buku catatan perjalanan karya Sigit Susanto (yaitu Lorong-lorong Dunia Jilid 1, 2, dan 3). Padahal, saya cukup lama kenal orangnya. Tapi, kenapa harus menyesal? Karena ternyata buku ini mengasyikkan, memberikan satu gambaran tanpa pretensi atas tradisi Idul Fitri khas Muslim tradisional desa Indonesia yang seringkali disebut “abangan,” dan terstruktur seperti untaian kisah-kisah kecil dengan satu tema besar yang menjadikannya asyik dibaca sambil tetap ada tujuan di akhir cerita.

Pegadaian berkisah tentang lika-liku hidup Sunar selama masa 5 tahun sebagai guide di Bali yang harus mudik ke kampung halamannya di Boja, Kendal, setiap Lebaran. Lika-liku hidup ini berkisar pada upaya Sunar membangun karir sebagai guide (mulai dari guide bahasa Inggris hingga menjadi guide bahasa Jerman) dan upaya Sunar membahagiakan ibunya yang sangat dia cintai. Di seluruh novel ini, tersebar kisah-kisah kecil keseharian Sunar sebagai guide dan kisah-kisah aktivitas mudik yang kelucuan. Di bagian awal novel, suasana mudik diwarnai keriangan tapi juga keharuan ibunya yang memandang Sunar sebagai anak yang paling sengsara dibanding kakak-kakaknya. Berangsur-angsur, sikap si ibu berubah seiring meningkatnya posisi Sunar sebagai guide. Namun, meskipun terjadi peningkatan status Sunar, ada satu hal yang tetap: setiap akhir masa mudik, Sunar terpaksa meminta ibunya menggadaikan bros peniti emas karena uang Sunar sudah benar-benar habis di akhir masa mudik, tak peduli berapapun yang dia bawa pulang.

Satu hal yang menarik dari novel ini adalah intensitasnya membicarakan perihal mudik lebaran dan segala aspeknya. Meskipun sesi mudik ini hadir secara teratur dan sangat bisa ditebak, isinya selalu membawa kebaruan. Di mudik pertama, kita akan melihat acara unjung-unjung atau silaturahmi ke saudara-saudara dekat yang tinggal agak jauh (tentu dengan pernak-perniknya yang gado-gado antara haru, bahagia, konyol, dan bahkan separuh jorok). Di sesi mudik kedua, sorotannya berbeda lagi. Begitu juga sesi mudik ketiga dan selanjutnya. Bahkan, ada sesi mudik yang memfokuskan pada acara wisata (yang dalam masyarakat Jawa disebut “piknik”). Jenis-jenis kegiatan mudik yang tak ada habisnya ini seolah menunjukkan bahwa kegiatan selama lebaran itu benar-benar tak ada ujungnya. Apalagi bagi mereka yang sudah absen sepanjang tahun dari kampung dan harus merekap semuanya dalam satu minggu. Seperti itulah mudik: mudik bukanlah liburan untuk istirahat menyisih dari sibuknya kota. Mudik adalah liburan untuk beraktivitas, menjalin kembali tali silaturahmi yang, seperti idealnya tali, harus panjang agar bermanfaat, harus panjang dan tak henti-henti, seperti acara makan yang tak henti-henti pada saat silaturahmi lebaran, dari rumah saudara satu ke rumah saudara yang lain, bahkan ketika kita merasa sudah kekenyangan, karena makan di sini seperti fungsi sosial menghormati saudara, lebih dari sekadar fungsi biologis.

Dalam aktivitas mudik ini juga kita bisa melihat wajah Islam yang tak bisa diingkari, yang bisa dibilang kurang menjual untuk hari-hari ini. Islam di sini begitu menjadi bagian dari masyarakat Jawa dalam novel ini. Tapi, bagian ini tidak menjadi penentu akhir untuk bagian-bagian yang lain. Kegiatan-kegiatan penting seperti silaturahmi, menghormati arwah leluhur, dan sejenisnya, dilakukan mengikuti penjadwalan menurut Islam, misalnya idul fitri. Tapi kegiatan-kegiatan itu memiliki signifikansinya sendiri tanpa bisa dimaknai sebagai milik eksklusif Islam. Satu adegan dalam novel ini yang bisa merepresentasikan hal itu adalah kegiatan silaturahmi ke saudara di gunung. Di situ, narator menyebutkan bahwa kunjungan itu lebih banyak diisi dengan perbincangan tentang berbagai topik dan hanya sedikit berurusan dengan salam-salaman. Tampak di sini seolah-olah Islam dengan Idul Fitrinya memberikan satu media atau waktu, sementara isi dari acara itu sendiri sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Dengan kata lain, ada sebuah kegiatan yang mungkin sejak lama menjadi kebiasaan, yaitu saling mengunjungi, dan Islam mengkonsentrasikan kegiatan saling mengunjungi itu pada saat Idul Fitri. Dengan begitu, acara saling mengunjungi itu terasa lebih kuat, seperti energi yang tercecer yang kemudian dipusatkan.

Satu hal lain yang terasa kuat dalam novel ini adalah atmosfir santai–pada sebagian besar novel. Atmosfir santai ini terasa terutama dalam dua elemen di novel ini: cerita-cerita kecil dan bahasanya. Seperti saya singgung di atas, dalam menceritakan lika-liku hidup sebagai guide, novel ini menghadirkan cerita-cerita kecil dalam keseharian Sunar yang terkadang menerbitkan senyum, terkadang mengundang haru. Cerita-cerita kecil ini datang  tanpa henti, hingga kita bisa bilang bahwa novel ini merupakan kumpulan manik-manik kisah kecil yang diuntai dengan satu tali tema hubungan ibu dan anak. Salah satu contoh dari kisah jenaka yang ada adalah tentang perkenalan Sunar dengan seorang gadis pegawai hotel. Di satu kesempatan, Sunar dan Mohar (sahabat baiknya) makan bersama dengan si gadis. Di akhir sesi makan, Mohar memberikan judgment atas gadis itu: dia bukan gadis baik-baik karena suka minum bir. Sunar menjadi ragu-ragu juga mengenai gadis itu. Belakangan, diketahui bahwa Mohar salah dengar: dia mengira gadis itu bilang “minta bir” kepada pelayan restoran, padahal sebenarnya dia bilang “minta bill,” satu istilah untuk kuitansi restoran yang tidak diakrabi oleh Mohar dan Sunar. Kisah-kisah ini tak cuma lucu, tapi ada juga yang mengharukan. Tapi, semuanya disampaikan dengan atmosfir santai. Kalau dikembaliken ke tema mudik, mungkin kita bisa memahami kisah-kisah kecil ini seperti cerita seorang saudara yang mudik kepada saudaranya di kampung. Cerita-cerita itu datang bertubi-tubi tiada henti, tapi selalu ada yang menjadikannya perlu disampaikan, entah itu kelucuan, kekonyolan, keharuan, maupun hikmah sederhananya.

Untuk kesantaian berbahasa, sepertinya saya akan membiarkan Anda membacanya dan mengalaminya sendiri. Yang jelas, di sini Anda akan bertemu istilah “streng,” atau “senyumnya tercecer,” atau “kawin karena kecelakaan,” yang saya bayangkan akan sangat nikmat bagi pembaca Indonesia, dan menyulitkan bagi calon penerjemah ke bahasa asing kalau si penerjemah bukan orang Indonesia (atau Jawa?). Saya hentikan di sini komentar soal kesantaian linguistik ini.

Maka begitulah catatan saya mengenai novel Pegadaian ini. Karena waktu saya untuk menulis sudah habis, maka saya sudahi di sini saja. Kalau Anda ingin simpulan saya atas novel ini, silakan baca paragraf kedua di atas. Semoga paragraf itu bisa menjalankan dwifungsi-nya, sebagai pendahuluan sekaligus simpulan. Oh ya, di judul postingan ini saya menggunakan istilah “estetika mudik,” yang belum saya definisikan sama sekali sejak awal hingga saat ini. Tapi, saya bersumpah saya sudah beberapa kali mencoba memberikan contohnya. Jadi, silakan temukan di atas dan definisikan sendiri apa itu “estetika mudik” yang saya maksudkan.

Selamat membaca!

 

mata bintang

dari sebuah pertemuan gagal
dengan empu busur dan anak panah
yang kelak mengenalkan pasangan
usus beruang dan lokus kuning
aspal hitam membimbingku
menyelip ruang-ruang gelap
beribu lekuk tepian ozark
ratusan marka membelalak
kepada induk rusa, dua cempenya
yang bagai selendang menyeberang
menyorotkan untukku mata bintang:
tuhan, kenapa kita diseret waktu
ditabrak dikoyak pertanyaan sia-sia
yang terus membidik bahkan di sini?

Bahkan Berfoto Pun Kini Berpotensi Merusak

Satu ujaran yang sangat lazim terkait naik gunung dan mencintai alam adalah “Leave nothing but footprints. Take Nothing but pictures.” Maksud dari ujaran ini tentu saja sudah jelas, bahwa saat mengunjungi alam, kita tidak semestinya meninggalkan sampah atau mengambil apapun dari sana. Tapi–seperti biasanya, ada tapi–bahkan ungkapan ini pun saat ini harus kita pertanyakan lagi, khususnya di zaman medsos ini: mengambil foto pun bisa berpotensi merusak alam.

Ternyata, hasrat berfoto kita begitu tak terbendung. Satu hal yang sangat mengagetkan saya ketika pertama kali menyempatkan berwisata mainstream adalah begitu seriusnya keinginan kita untuk befoto. Tempat wisata pertama yang saya kunjungi setelah lima tahun absen dari Indonesia adalah Batu Secret Zoo, yang saya kunjungi tepat pada Tahun Baru Imlek beberapa bulan lalu. Sejak di pintu depan, saya takjub melihat banyak sekali orang memegang tongkat selfie. Begitu memasuki Batu Secret Zoo, di bagian tikus air raksasa (yang dalam bahasa Jawa disebut “wergul”), mulailah terlihat seberapa besar hasrat berfoto kita. Di bagian agak dalam, pengelola Batu Secret Zoo ternyata menyambut hangat hasrat berfoto itu dengan menyediakan sejumlah binatang yang bisa diajak berfoto bareng atau berselfie–tentu dengan membayar.

Apa yang terlihat di Batu Secret Zoo ini sementara saya pakai sebagai penegasan atas maraknya instagram serta banyaknya foto (selfie, pemandangan, binatang, dll) yang diposting di sana. Kalau melihat instagram saja, saya hanya bisa menyadari betapa banyaknya foto dan betapa gemarnya foto di sana. Tapi, saat menyaksikan dengan kepala sendiri bagaimana kejadian sebenarnya di luar, bagaimana bergairahnya orang-orang mengambil foto, saya jadi tahu bahwa ada yang sebenarnya lebih dahsyat dari maraknya instagram itu. Orang bisa mengambil sepuluh foto yang hanya satu di antaranya diposting di instagram atau facebook. Artinya, kegiatan berfoto orang bisa sangat besar.

Yang tak bisa dipungkiri adalah bahwa hasrat mencari spot yang tak biasa. Tentu orang tidak suka kalau dia hanya mengambil foto dari tempat-tempat yang biasa saja seperti Batu Secret Zoo, sebuah tempat yang bisa dijangkau siapa saja (yang tidak kesulitan mengeluarkan minimal Rp120.000). Hasrat untuk agak berbeda (atau tidak tampil terlalu mainstream) membuat orang mencari tempat-tempat baru yang tidak banyak diketahui orang, atau yang tak biasa. Satu dampak berbahayanya adalah apa yang terjadi di Taman Bunga Mekarsari beberapa tahun yang lalu. Karena hasrat berfoto di tempat yang tidak biasa (yang mirip ladang tulip di Belanda!), akhirnya berduyun-duyun orang mendatangi Taman Bunga Mekarsari, hingga taman bunga itu sendiri menjadi Taman Selfie Mekarsari, yang bunganya rusak terinjak-injak. Hasrat ingin tampil berfoto di tempat berbeda ini ternyata berujung pada kerusakan. Tampil beda ternyata hanya menguntungkan bagi yang tampil, tapi tidak bagi yang lain.

Bagaimana kalau tempat yang tidak mainstream untuk berfoto itu adalah alam yang semestinya dibiarkan liar? Itulah yang akhirnya bisa menghawatirkan. Dan yang lebih membuat kuatir adalah karena kekhawatiran itu sangat masuk akal, dan sudah di depan mata. Hasrat orang untuk berfoto di tempat yang tidak standar ini ternyata direspons oleh mereka yang ingin meraup untung dengan menggunakan alam untuk berfoto. Satu contohnya adalah Coban Rais di Kecamatan Dau, Kota Wisata Batu. Sejumlah bukit di kawasan yang dulunya wana wisata dan bumi perkemahan ini kini telah dan tengah dikembangkan menjadi taman-taman bunga. Meskipun nama resminya taman bunga, tempat ini lebih menyerupai taman foto, karena tampak sekali bahwa orang-orang ke sana lebih untuk berfoto ketimbang menikmati dan mempelajari bunga-bunga. Wana Wisata dan Bumi Perkemahan yang dulunya sangat suwung dan bahkan tidak punya tempat parkir yang permanen itu kini menjadi begitu ramai dengan ratusan sepeda motor datang tiap hari libur. Di sini, orang bisa berfoto pada platform-platform kayu dengan latar belakang perbukitan, persawahan, dan kota Malang di kejauhan. Pendeknya, sejauh ini masih belum mainstream.

Yang semakin menjadikan urusan ini dilematis adalah ketika orang-orang yang datang untuk berfoto itu akhirnya juga ingin ke air terjun Coban Rais di kawasan hutan basah alami itu. Banyak juga pengunjung taman bunga itu yang akhirnya juga pergi ke air terjun Coban Air. Sebagian di antara mereka mungkin memang penggemar naik gunung atau jelajah hutan yang memang suka mengunjungi tempat-tempat alami yang tidak mainstream seperti itu. Tapi, tidak sedikit juga yang sebenarnya mungkin tidak akan ada niat ke sana kecuali memang ingin berfoto tidak biasa. Orang-orang yang berpenampilan lebih mirip untuk berfoto ketimbang naik gunung (baju non olahraga, sepatu jalan ke mal, dan sejenisnya). Orang-orang ini ikut memasuki hutan demi berfoto, melewati jalan yang semestinya harus dijaga tetap alami. Pada jam-jam paling sibuk, ada 10 orang per menit, yang ikut masuk ke dalam hutan. Bila sebuah tempat yang mestinya harus tetap alami demi kelestariannya akhirnya harus didatangi orang sebanyak itu tanpa ada usaha untuk menjaga mana yang harus dilewati dan mana yang bisa dibiarkan, maka yang bisa diharapkan adalah kerusakan. Dan ini benar-benar tidak bisa dilepaskan dari hasrat untuk berfoto.

Bagaimanapun, tentu kita masih perlu mengakui bahwa ini merupakan persoalan yang terbilang kecil. Di banyak tempat, banyak korporasi (baik milik negara maupun swasta) yang mengeksploitasi alam yang berpotensi menyebabkan kerusakna lebih besar. Perusahaan Semen yang saat ini sudah memulai pendirian pabrik di Kendeng dan kawasan perbukitan karst di Rembang dan cekungan air berpotensi menyebabkan kerugian lebih besar buat penduduk kawasan tersebut. Ini masalah yang lebih besar dan perlu diperjuangkan bersama-sama. Tapi, pada tataran yang lebih kecil, pada tataran perseorangan, kesadaran akan hal-hal semacam ini sifatnya wajib. Tanpa kesadaran mendasar bahwa ada hal-hal yang kita lakukan yang berpotensi merusak alam, memperjuangkan hal-hal yang besar akan seperti tindakan kemunafikan.

Jadi, begitulah kiranya, saat ini, bahkan urusan berfoto di alam pun tidak bisa seenaknya kita lakukan. Dan ini bukan persoalan sepele. Di satu sisi hal ini sangat pribadi, tapi di sisi lain hal ini juga berhubungan dengan persoalan yang lebih besar. Tumbuhnya tempat-tempat wisata yang mengeksploitasi hasrat berfoto ini juga sangat dibutuhkan. Untuk kasus Taman Bunga Coban Rais, misalnya, kita lihat bagaimana tempat wisata itu memberikan banyak lapangan pekerjaan. Banyak sekali tukang parkir, tukang ojek, penjual makanan, atau yang lain-lain yang pastinya bisa mendapat berkah dari ramainya Taman Bunga ini. Tapi, kalau yang dipertimbangkan cuma urusan mencari makanan, pastinya alam yang tidak bisa langsung protes itu yang akan kita nomor sekiankan. Masih ada yang belum selesai dipikirkan di sini, sesuatu yang juga mempertimbangkan tidak hanya manusia dan ekonomi, tapi juga alam. Dan dengan hal yang belum selesai ini pula saya akan menutup postingan kali ini.

 

 

 

Ajakan Menilai Sampul tanpa (Harus) Mendengar Isinya

(Jadi, ini postingan terkait diskusi tentang sampul album musik yang diadakan di Kafe Pustaka UM sore ini, Kamis 6 Maret 2017. Diskusi ini disertai pameran sampul-sampul album. Uniknya, selain sampul album ada juga karya-karya dari perupa tersebut yang bukan dibuat untuk tujuan sampul album. Karya-karya non cover itu disebut “karya bebas”–setidaknya itu yang saya tangkap dari penamaan file-file JPG yang saya terima dari Novan Tani Maju. Akhirnya, kesan yang ditimbulkan adalah ajakan untuk–kasarnya–membandingkan antara sampul-sampul album itu dengan “karya bebas” oleh perupa yang sama, atau antara seni terapan dan seni murni. Selanjutnya saya persilakan sidang jamaah blog sekalian membaca, dan kalau bisa hadir di diskusinya nanti sore.)

Peka_KelasKeliling

Saat berhadapan dengan sampul album CD atau kaset, orang yang penasaran akan tertantang untuk memaknainya, menyingkap konotasi di balik tanda-tandanya, dan bahkan menghubungkannya dengan track-track yang ada di album tersebut. Begitulah sepantasnya. Tapi, dalam pameran ini, ketika sampul-sampul album itu disandingkan dengan “karya bebas” oleh perupa yang sama, kita seperti mendapat tugas baru: membayangkan apa yang telah dinegosiasikan oleh si perupa dalam pembuatan sampul album itu. Di sini, kita bahkan boleh menilai sampul sambil melupakan “bukunya.”

Sampul album (yang dalam bahasa Inggris disebut “album art/artwork”) masuk dalam wilayah seni terapan, atau lebih tepatnya desain grafis. Di wilayah ini, karya seni mengemban tugas yang lain, sebagai sarana visual untuk mengkomunikasikan ide. Lazimnya, ide yang ingin disampaikan ada sebelum karya visual itu dibuat. Tapi bukan tidak mungkin juga karya visual itu sendiri sudah ada dan kemudian diakuisisi oleh musisi karena dirasa memiliki makna yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan si musisi. Mana pun yang ada lebih dulu, yang pasti ketika sudah menjadi sampul album, yang kita dapatkan adalah karya seni yang menyampaikan sebuah pesan (dan hampir 100% disertai teks tertulis). Di sini, elemen komunikasi karya tersebut jadi lebih besar ketimbang elemen reflektif, puitik, atau performatif (bermakna karena keberadaannya sendiri) yang biasanya ada pada karya seni murni. Ekstrimnya, banyak yang akhirnya menyamakan kedua hal ini sebagai pragmatisme vs idealisme.

Uniknya, ketika karya seni murni dari si perupa ini juga dihadirkan bersama karya-karya terapannya, ada beberapa hal yang terjadi. Di satu sisi kita jadi bisa membandingkan sejauh mana si perupa melenturkan idealismenya untuk kemudian menjangkau kepada audiens. Berapa banyak dari idealisme perupa yang harus ditanggalkan saat dia dia menciptakan sesuatu yang lebih berorientasi kepada komunikasi daripada meditasi. Atau, bila kita sudah benar-benar bisa melepaskan diri dari pemeringkatan seni murni vs seni terapan, kita mungkin juga bertanya: usaha apa saja yang telah ditempuh oleh si perupa untuk bisa membantu mengkomunikasikan gagasan para musisi? Tentu bidang ini juga membutuhkan ketrampilan mental–atau “seni”–tersendiri.

Mungkin, pertimbangan atas negosiasi antara desain grafis dan seni murni seperti ini bisa menjelaskan kenapa istilah “album art” atau “album artwork” kian lazim digunakan dalam konteks Indonesia, yang sebenarnya sudah lama kenal istilah “sampul album.” Hal itu bisa dimaklumi, karena istilah “sampul” tidak menawarkan terlalu banyak konotasi positif sebagaimana halnya kata “artwork.” Secara tak sadar, ada afirmasi atas nilai seni pada kata “artwork.”

Maka, dalam pameran ini, mari kita coba merekonstruksi: Apa yang kiranya dikorbankan si seniman untuk membuat sampul-sampul album ini? Atau, kalau dibalik, usaha ekstra apa yang harus dikeluarkan oleh si perupa dalam menciptakan semua album art ini? Yang seperti ini kiranya lebih bisa dilakukan oleh pengunjung yang mungkin belum cukup mendengar album-album itu sendiri untuk menilai keberhasilan sampul-sampul ini mewakili isinya. Tapi, karena mendengarkan musik (apapun itu!) selalu memperkaya, tentu akan lebih baik lagi bila apresiasi atas album artwork ini juga disertai dengan apresiasi atas musiknya. Atau, kalau kita pelintir petuah klise: jangan menilai album dari sampulnya. Tapi, kalau di sini Anda sudah terlanjur menilai sampulnya, jangan lupa juga menilai isi albumnya.

Mengkritik Relasi Gender, Mewaspadai Neokolonialisme

(Semua urusan itu punya seninya sendiri-sendiri, termasuk urusan nulis resensi untuk media. Beberapa saat ini saya lagi mencoba lagi nulis-nulis resensi untuk dikirim ke media. Sulit rasanya menulis resensi tentang buku yang saya sukai tetapi dibatasi hanya sampai 600 atau 700 kata. Sejauh ini belum ada yang masuk, tapi tentu itu tak jadi soal, namanya juga belajar lagi. Beberapa minggu yang lalu, saya meresensi sebuah buku yang menarik. Draf-nya panjang, tapi kemudian saya ambil sedikit demi sedikit sampai pas. Hasilnya jadi agak maksa dan seperti ini. Masalahnya, tak lama setelah saya kirimkan, seorang kawan mengabari bahwa koran yang saya kirimi resensi ini baru saja menerbitkan resensi atas buku ini. Jadi ya, hampir seratus persen resensi saya tidak akan dimuat. Maka, biarlah ini jadi postingan di sini, sebuah catatan hasil baca buku Katrin Bandel Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial.)

KatrinKajian Gender, yang di Indonesia seringkali disamakan dengan kajian perempuan, adalah kajian yang penuh nuansa. Kajian ini tidak sesimpel kesan yang ditimbulkannya, yaitu sebagai kajian yang memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan.

Meski pandangan tersebut tidak salah, tapi banyak aspek dari kajian ini yang perlu dipertimbangkan. Terutama bila kajian ini dilakukan di “Dunia Ketiga” atau negara-negara bekas jajahan. Salah-salah, bukannya memperjuangkan persamaan hak, kita malah terjebak mengamini hegemoni bahwa Barat lebih unggul daripada Timur. Itulah yang disuarakan Katrin Bandel dengan tegas dan berulang-ulang dalam Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial.

Dalam buku Kajian Gender ini, pembaca akan mendapat esei-esei lepas Katrin yang membahas mulai dari wacara HIV/AIDS hingga ulasan atas buku memoar karya seorang perempuan Amerika Indonesia. Esei-esei ini dipersatukan oleh beberapa konsep kunci kajian gender yang digabungkan dengan kajian pascakolonial.

Saat mulai membaca buku ini, pembaca mungkin akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan apa itu “kajian gender dengan konteks pascakolonial?” atau “mengapa harus ada embel-embel konteks pascakolonial di situ?” atau “masih kurangkah kajian gender saja?”

Begitu memasuki esei pertama, kita akan tahu bahwa “kajian gender” yang perkembangan awalnya di negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat itu tidak bisa begitu saja diterapkan di konteks Indonesia.

Katrin dengan sabar menjelaskan kompleksitas konsep-konsep gender yang berkaitan erat dengan budaya asalnya. Kaitan dengan budaya asal ini menyebabkan terjadinya ketimpangan asal konsep-konsep itu diterapkan di negara lain, misalnya Indonesia, yang memiliki konteks sosial dan latar belakang sejarah berbeda.

Bahkan, ada kalanya penerapan konsep yang berkembang di budaya asing ke dalam konteks Indonesia itu berpotensi memojokkan Indonesia sendiri. Satu konsep yang menentang dominasi pria di Barat, misalnya, saat diterapkan di Indonesia bisa menjadikan Indonesia tampak seperti negara yang kolot, sehingga perlu “diberadabkan” (oleh pemikiran atau campur tangan Barat). Di sinilah kritik gender memasuki wacana kolonial. Kompleksitas gender di konteks pascakolonial inilah yang menjadikan buku Katrin Bandel ini agak berbeda dengan kajian-kajian gender di Indonesia dewasa ini. Dalam esei-esei Katrin Bandel di dalam buku ini, konsep-konsep pentingnya bukan hanya konsep-konsep gender sebagai konstruksi sosial yang lazim, tapi juga gender sebagai medan wacana kolonial.

Di situlah dilema kajian gender di Indonesia, yang dalam bahasa Katrin sendiri, “Di satu sisi, dalam masyarakat Indonesia, seperti di mana pun di dunia, ketidakadilan gender sangat lazim terjadi. Ketidakadilan gender atas nama agama, atau dengan mnggunakan argumen agma, pun bukan hal yang langka. Itu tentu relevan dikritik. Namun di sisi lain, ketitik semacam itu mudah dijadikan bagian dari wacana kolonial [yaitu kecenderungan pengetahuan dan pemikiran yang memandang bangsa Timur atau bekas jajahan, lebih rendah dari bangsa barat]” (Bandel 2). Kehatian-hatian meniti dilema semacam ini terasa terus memandau Katrin pada setiap topik yang dia bahas dalam esei-esei di buku ini.

Di lingkup internasional, posisi kritis yang diambil Katrin Bandel ini bisa dikelompokkan ke Feminisme Gelombang Ketiga, yang banyak digawangi para pemikir dari kalangan imigran di Amerika Serikat atau penulis yang berasal dari Asia Selatan. Posisi ini ditandai dengan sikap kritis ke berbagai penjuru: dalam urusan gender, seorang analis harus awas dan mengkritisi ketidaksetaraan dalam relasi gender dalam sebuah masyarakat, namun si pemikir juga harus tetap waspada agar kritiknya itu tidak kemudian digunakan untuk menjustifikasi bahwa masyarakat di masyarakat tersebut masih kurang maju, tidak semaju bangsa-bangsa barat.

Yang terakhir inilah yang, sebagaimana dikutipkan di atas, disebut “wacana kolonial,” satu lagi kata kunci yang muncul di setiap esei Katrin. Wacana kolonial adalah kumpulan pengetahuan dan kecenderungan berpikir yang pada ujungnya mengafirmasi gagasan bahwa bangsa-bangsa Barat harusnya dijadikan teladan oleh bangsa-bangsa Timur. Perwujudannya bisa berupa kecenderungan untuk meniru budaya Barat, menggunakan standar penilaian dari Barat untuk mengkritisi masalah Timur, atau sederhananya menganggap hal-hal tertentu yang dikonsepsikan oleh masyarakat Barat sebagai sesuatu yang universal sehingga bisa diterapkan di Timur.

Katrin, serta para pendahulu yang memperkuat dasar-dasar pemikirannya, mengkritisi “wacana kolonial” tersebut. Posisi ini bagi Katrin masih sangat relevan, dan bahkan signifikan, karena meski kolonialisme telah berakhir secara formal di Indonesia, ia masih bertahan dalam wujud yang baru, yaitu neokolonialisme.

Perpaduan antara sikap kritis wacana gender dan pascakolonial ini terwujud dalam berbagai hal, mulai dari penelusuran Katrin tentang konsepsi gender dan seksualitas dari zaman ke zaman, wacana kampanye penanggulangan HIV/AIDS, kajian kritis atas novel kontemporer, renungan atas isu LGBT dewasa ini, memoar orang Indonesia yang menjadi warga Amerika, hingga persoalan keagamaan terkait pengalaman konversinya menjadi seorang Muslimah.

Dengan buku ini, Katrin menyumbangkan suara yang mengajak merenungkan isu gender di masyarakat kita sambil tetap waspada akan godaan wacana kolonial yang terkadang seperti tokek hitam di tembok gelap.

Horor Tercetak Tiga Dimensi

mestinya, tak ada lagi ngeri
menunggu april melipir
menanari kelopak cheri
merekah mili demi mili
seperti denyut digital
menghantar getar kwarsa.
manusia bahagia selalu bisa
menyebut, mengukur semua.
tapi, tetap dan pasti,
selalu ada moncong buaya
di dasar sana, menanti giliran
mengocehkan risiko yang kini klise.
konfirmasi: horor tercetak tiga dimensi.

Heuristik untuk Eksplorasi Tema dalam Penulisan Esai

(Ini materi eksplorasi tema yang saya sampaikan dalam acara Pelatihan Penulisan Esai Tingkat SLTA yang diadakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur  bekerja sama dengan Pelangi Sastra Malang. Saya posting di sini saja, siapa tahu berguna buat siapa saja yang kesasar :D.)

Satu hal yang seringkali membuat orang takut atau malas menulis adalah pikiran “tidak tahu apa yang harus dituliskan” atau “terlalu banyak yang ingin dituliskan tapi tidak tahu bagaimana mulai menuliskannya.” Inilah uniknya urusan menulis, kekurangan bahan maupun kelebihan bahan bisa mengakibatkan orang malas menulis. Tentunya banyak hal lain juga yang membuat orang tidak jadi menulis, misalnya terlalu sibuk membalas pesan WA dari teman, atau terlalu resah karena cowok/cewek sasaran belum memberikan jempol atau hati untuk postingan Facebook, atau karena repot membersihkan sepeda gunung. Tapi mari kita lupakan soal hambatan menulis karena factor-faktor lain itu, dan mari kita fokuskan perhatian ke strategi mengatasi kekurangan bahan atau kelebihan bahan dalam menulis. Kata kuncinya kali ini adalah “heuristik.”

Seperti disinggung di atas, hambatan menulis yang pertama adalah kurangnya bahan. Hal ini sangat wajar, karena menulis bukan hanya soal menuangkan gagasan ke atas kertas atau mengetikkan gagasan ke aplikasi pengolah kata. Menulis juga soal mencari bahan untuk dituliskan. Richard M. Coe, ahli ilmu kepenulisan asal Amerika Serikat, mengatakan bahwa bagi penulis berpengelaman pun waktu yang dibutuhkan untuk mencari data bisa sebanyak waktu menuangkan gagasan. Jadi, kalau kita malas atau takut menulis karena “tidak tahu apa yang harus dituliskan” atau “tidak tahu bagaimana mengawalinya,” maka itu wajar saja. Penulis berpengalaman pun mengalaminya. Mungkin bedanya mereka punya strategi yang selalu bisa diandalkan untuk mengatasinya. Dan heuristik adalah adalah solusi terukur untuk masalah yang wajar ini.

Begitu juga dengan masalah lain, yaitu ketika kita sudah punya terlalu banyak bahan sampai-sampai tidak tahu bagaimana harus memulainya? Ini juga hal yang lazim terjadi, terutama bila pencarian bahan dilakukan ketika si penulis belum benar-benar tahu tulisan seperti apa yang ingin dia hasilkan. Di sinilah dibutuhkan heuristik yang bisa membantu kita memilah bahan-bahan yang sudah menggunung itu untuk mendapatkan yang paling relevan untuk dituliskan. Nah, bila heuristik ini dipakai sejak awal, bahkan penulis bisa lebih mengefektifkan waktunya dan bisa menghindari penumpukan bahan yang nantinya tidak akan digunakan.

Terus, binatang macam apa “heuristik” ini? Dalam ilmu eksakta, “heuristik” adalah serangkaian langkah-langkah pemecahan masalah yang bisa dipakai secara berulang-ulang. Istilah lain dari “heuristik” adalah algoritma. Buat yang tertarik dengan sejarah Islam, asal usul dari algoritma ini bisa dirunut sampai ke matematikawan bernama Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi. Di dalam ilmu kepenulisan, gagasan yang serupa dengan algoritma ini lebih dikenal dengan istilah “heuristik” yang berasal dari bahasa Yunani “heurisken” yang berarti “menemukan, menggagas, memperoleh, mendapatkan, dsj.”[1] Di sini, heuristik mengacu pada strategi-strategi yang bisa dipakai penulis secara berulang-ulang setiap kali mendapat “masalah,” yang dalam hal ini adalah tugas menulis. Sebagian dari heuristik ini sudah dikenal luas, meskipun tidak dengan nama “heuristik.” Misalnya adalah “strategi 5W+1H” yang sudah masuk dalam kurikulum Bahasa Indonesia di sekolah menengah. Di bawah akan saya singgung bahwa “strategi 5W+1H” ini hanya satu perwujudan dari sebuah heuristic yang lazim.

Untuk kebutuhan menulis esai bertema “kearifan lokal,” ada dua heuristik yang bisa membuat proses pencarian data kita lebih efektif: Heuristik Pertanyaan dan Pentad Burke. Kedua strategi ini memiliki keunggulannya sendiri-sendiri. Heuristik Pertanyaan bersifat lebih luwes dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan penulisan, sementara Pentad Burke bisa membuat eksplorasi topik kita lebih mendalam. Untuk lebih memaksimalkan penggunaannya, akan sangat bagus bila sejak awal kita sudah bisa memutuskan (meski secara kasar) bentuk tulisan seperti apa yang akan kita buat: argumentasi, definisi, komparasi, deskripsi, deskripsi proses, dsb. Selanjutnya, mari kita eksplorasi kedua heuristik itu secara singkat, padat, dan penuh semangat.

Heuristik Pertanyaan

Sesuai namanya, heuristik ini berkutat pada pembuatan pertanyaan-pertanyaan yang paling wajar diajukan sesuai dengan kebutuhan penulisan. Untuk lebih menekankan, setiap tujuan penulisan membutuhan pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Saat kita ingin menulis sebuah esai yang bersifat deskriptif, maka si penulis perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti a) apa, b) siapa, c) di mana, d) kapan, e) bagaimana. Atau, untuk topik-topik tertentu, deskripsi mengharuskan si penulis bertanya menambahkan pertanyaan f) mengapa. Mengapa si penulis mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini? Jawabnya sederhana: karena hal-hal itulah yang akan ditanyakan oleh seorang pembaca saat menghadapi sebuah teks yang ingin mendeskripsikan sesuatu.

Tapi, daftar pertanyaannya tidak terbatas pada enam contoh pertanyaan di atas. Penulis bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain tergantung tujuan atau topik yang ingin dia kerjakan. Mari kita eksplorasi lebih jauh. Bila kita ingin menulis tentang sebuah pertunjukan, misalnya kuda lumping, untuk tujuan mengapresiasi/mengkritiknya, maka pertanyaan-pertanyaan yang bisa kita ajukan antara lain adalah

  1. siapa pemainnya,
  2. di mana ditampilkan,
  3. apa ceritanya,
  4. apa kelebihannya,
  5. apa kekurangannya,

Atau, bila yang ingin membuat esai perjalanan tentang sebuah tempat rekreasi, misalnya Coban Glotak, kita bisa mengajukan pertanyaan seperti:

  1. apa namanya,
  2. apa fasilitasnya,
  3. di mana lokasinya,
  4. bagaimana mencapainya,
  5. berapa bayarnya,

Daftar pertanyaan ini tak terbatas, sekali lagi, sesuai dengan tujuan penulisan dan topik yang ingin dieksplorasi. Tapi, intinya adalah, kita perlu menyusun pertanyaan-pertanyaan mengenai hal-hal yang ingin diketahui orang tentang topik-topik kita. Dengan berbekal pertanyaan ini, bahkan kita bisa menggiring pembaca sejak awal, misalnya dengan cara mengindikasikan sejak paragraf-paragraf awal bahwa yang akan kita bahas dalam esai kita adalah hal-hal tertentu saja.

Bagaimana bila kita sudah memiliki banyak bahan? Dalam keadaan tersebut, yang harus kita lakukan adalah menentukan daftar pertanyaannya dan selanjutnya kita mulai memilah bahan-bahan yang ada untuk menjawab daftar pertanyaan tersebut. Setelah itu, kita bisa melanjutkan penulisan dengan berbekal daftar pertanyaan dan jawaban-jawaban yang kita dapatkan tersebut. Kita akan sejenak melupakan (atau menganggap tidak ada) bahan-bahan lain yang sudah menggunung. Biasanya yang seperti itu bisa disebut data mentah, dan seperti halnya bahan makanan yang bisa membusuk, data mentah juga bisa basi dan tidak relevan lagi kalau dibiarkan terlalu lama. Idealnya, begitu ada kesempatan, data mentah itu bisa diolah untuk menjadi bahan tulisan yang lain.

Sebelum kita lanjutkan ke heuristik yang kedua, silakan Anda coba buat daftar pertanyaan bila ingin mengulas tentang 1) situs Watu Gong, 2) Abah Anton, 3) Hutan Kota Malabar, 4) Taman Bugar Merjosari, dll.

Pentad Burke

Pentad Burke adalah strategi pencarian bahan untuk tulisan yang digagas oleh filsuf dan retorikawan Kenneth Burke (1897-1993). Sesuai namanya (“pentad” berarti “lima bagian”), strategi Burke ini terdiri atas lima bagian, yaitu a) aksi, b) latar, c) agen, d) agensi/peranan, dan e) tujuan. Masing-masing bagian ini pada gilirannya akan menghasilkan poin-poin yang perlu dicari seorang penulis. Tujuan akhir dari penelusuran atas kelima elemen ini adalah memahami motivasi di balik sebuah peristiwa—dan motivasi ini tentunya berbeda dengan niat pelaku peristiwa, yang akan dijelaskan lebih lanjut di bawah. Meskipun pada awalnya banyak dipakai untuk menganalisis karya sastra, terutama teater, Pentad ini bisa menjadi strategi yang sangat tangguh untuk berbagai fenomena, terutama bila hasil akhir yang diinginkan adalah penjelasan mengenai motivasi yang menggerakkan terjadi sesuatu. Untuk lebih jelasnya, mari kita telaah kelima bagian ini satu per satu.

Elemen pertama, yaitu aksi, harus diidentifikasi terdahulu sebelum kita mencari informasi mengenai yang lain-lain. Di sini, aksi menyoroti sebuah kejadian, gagasan, atau fenomena. Fenomena ini tidak hanya menyangkut apa yang tersirat dan tersurat, tapi juga apa pendapat si penulis sendiri tentang fenomena tersebut. Dengan perkataan lain, di bagian ini penulis menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti a) apa yang terjadi? b) apa makna di balik kejadian ini? dan c) apa pendapat saya tentang kejadian ini? Apakah ini baik, membosankan, asyik, melenakan, dll.?

Selanjutnya, di bagian latar, si penulis perlu menelusuri segala hal yang ada di sekeliling kejadian tersebut, baik secara ruang maupun waktu. Di sini penulis diharap menelusuri pertanyaan-pertanyaan seperti a) di mana kejadian ini, b) kapan terjadinya, c) seperti apa lingkungan sosialnya, d) apa yang terjadi sebelum atau sesudahnya, dsb.

Untuk elemen ketiga, yaitu agen, seorang penulis akan mencari informasi yang relevan mengenai individu-individu yang ada di sekitar kejadian itu. Penulis perlu mengetahui a) siapa pelaku kejadian tersebut, b) siapa orang-orang yang membantu si pelaku dalam mengerjakan ini, c) siapa orang yang menjadi lawan atau saingan si pelaku, d) untuk siapa pelaku melakukan sesuatu, dll. Bila topik yang ingin ditulis adalah misalnya terjadinya kampung warna-warni, maka penulis perlu mengetahui siapa penggagasnya, siapa saja yang membantu si penggagas mewujudkannya, siapa orang yang mempengaruhi si penggagas, siapa masyarakat yang kampungnya dijadikan kampung warna-warni ini, dsj.

Terkait bagian keempat, yaitu agensi atau peranan, penulis perlu menelusuri proses terjadinya sesuatu tersebut. Di sini, penulis hendaknya menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana sesuatu terjadi, apa saja sarana-prasana yang memungkinnya terjadi. Agensi bisa juga mencakup sarana tersampaikannya kejadian tersebut, seperti misalnya majalah, televisi, internet, WA bisa menjadi bagian dari agensi ini. Pendeknya, untuk mendapatkan agensi, penulis perlu menjawab pertanyaan seputar “bagaimana.”

Terakhir, yaitu tujuan, bertujuan untuk mengetahui niat dan fungsi dari sebuah kejadian. Bila seorang penulis tertarik untuk menelusuri tentang motivasi di balik kerajinan wayang suket oleh Mbah Jo, maka si penulis harus melakukan wawancara dengan Mbah Jo dan menanyakan apa yang dia niatkan dengan membuat wayang suket tersebut. Di sini, perlu ditekankan bahwa tujuan atau niat berbeda dengan motivasi. Tujuan hanya mencakup maksud dari satu orang atau satu kelompok yang memungkinkan terjadinya sesuatu.

Apapun jawaban yang kita dapatkan dari satu orang atau satu kelompok tersebut hanyalah salah satu elemen untuk memahami motivasi di balik sebuah kejadian. Bukan tidak mungkin seseorang tidak bisa benar-benar bisa menjelaskan mengapa dia melakukan sesuatu, dan bisa saja seseorang itu melakukan sesuatu sebagai sebuah respon atas kejadian lain tanpa benar-benar dia sadari. Di sinilah salah satu seni menulis esai: penulisan ini terkadang bisa berupa usaha kita sendiri untuk memahami sesuatu lebih dari usaha kita untuk menginformasikan sesuatu kepada orang lain.

Sebelum menutup bagian ini, silakan mencoba menjawab motif di balik kejadian-kejadian penting di kota Malang seperti a) Festival Malang Tempo Doeloe, b) Festival Film Malang, c) Demo Angkot, d) berubahnya Coban Rais menjadi wahana selfie, e) dst.

 

Heuristik Pertanyaan dan Pentad Burke ini hanyalah salah dua dari berbagai strategi pencarian data yang bisa kita latih dan praktikkan. Mestinya, bila kita sudah menginternalisasi strategi ini, eksplorasi bahan tidak akan menjadi monster dalam penulisan esai. Kita tidak perlu terlalu resah saat memulai menulis karena tidak ada bahan atau karena sudah terlanjut banyak bahan. Bila kita sudah menyadari bahwa ada banyak strategi eksplorasi data, maka menulis itu tinggal soal waktu saja: berapa jam waktu yang kita punya untuk menulis? Berapa banyak pesan di WA yang bisa kita abaikan sejenak? Berapa jam waktu ber-Facebook yang bisa kita korbankan? Dan sejenisnya.

Semoga sukses!

 

Sumber pustaka:

Coe, R.M., 1990. Process, Form, and Substance: A Rhetoric for Advanced Writers. Prentice-Hall.

[1]     Dari Process, Form, and Substance: A Rhetoric for Advanced Writers karya Richard M. Coe. Hal. 78.